Telanjang

Mahasiswi S1 Psikologi Universitas Negeri Semarang
Tulisan dari Niamah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamu mungkin pernah terganggu barang satu dua kata asing di kepala. Sebagian dari kamu membiarkan kata itu lenyap terganti sejumlah peristiwa demi peristiwa baru. Sebagian lagi, kamu memilih berhenti dan memikirkan kata tersebut untuk kamu pahami, lantas kamu jadikan petunjuk dan membuatnya tetap hidup di sekitarmu.
“Bukankah ketika seorang asing mengetahui permasalahan hidup kita sama artinya dengan ‘kita menelanjangi diri sendiri?’”
Kamu terdiam. Sepersekian detik berusaha mencerna kalimat tersebut. Apa yang dimaksud telanjang? Sejak kapan berbagi permasalahan dengan orang lain dianggap sebagai bentuk menelanjangi diri?
Kamu menangkap ‘telanjang’ di sini tidak dipahami secara harfiah—seorang tidak berpakaian atau sedang tidak mengenakan penutup badan. Tetapi pakaian yang seperti apa? Badan yang mana yang perlu ditutupi?
Kamu tidak perlu pergi jauh atau mengunjungi pengalaman-pengalaman di luar sana. Beberapa bulan yang lalu, kamu duduk di hadapan seorang asing yang hanya mengenalmu secara permukaan.
“Sejujurnya, saya tidak ingin menangis di hadapan Anda,” ucapmu pada orang asing itu.
Dia tidak bingung atau malah memaksamu berhenti agar tidak menangis. Kamu juga pernah ingat seseorang pernah membuatmu merasa bersalah hanya karena kamu menangis di depannya.
“Jangan menangis! Nanti dikira saya telah melakukan suatu hal yang buruk kepadamu”
Tidak. Orang asing di hadapanmu, hari itu, bukan orang asing pada kehidupanmu sebelumnya. Dia menatapmu, dan kamu juga yakin bahwa dia tidak akan membuatmu merasa bersalah kesekian kali.
Usai satu dua bulir di pipimu kering, kamu mengira-ngira sisa kesadaran untuk melanjutkan percakapan dengan orang asing itu.
“Menangis bukan berarti lemah”. Tidak ada kalimat lanjutan. Dia tidak sedang berceramah!
Kamu juga paham. Tidak ada salahnya menangis. Bagaimana jika, tangisanmu saat itu, adalah pertunjukan sebetapa kuatmu dalam menghadapi kenyataan hidup.
Di titik itu, kamu beranggapan kenyataan yang kamu hadapi perlahan-lahan mengurangi kadar kewarasanmu. Membuatmu sulit beraktivitas seperti hari sebelum-sebelumnya. Kamu sulit tidur. Pun sulit makan. Pikiran dan perasaanmu dibuat lelah tanpa kamu tahu bagaimana menghadapi itu semua.
“Aku tidak meminta kamu menghilangkan atau bahkan menolak perasaan-perasaan tersebut. Yang perlu kamu pikirkan baik-baik, cepat atau lambat jika kamu tidak mencoba mengendalikannya, kamu sendirilah yang akan dikendalikan mereka” orang asing itu pergi dengan kalimat yang kamu ingat sampai hari ini.
Sejak itu kamu mencoba paham. Apa yang sebenarnya kamu tutupi. Apa yang sebenarnya tidak ingin kamu perlihatkan ke orang lain? Atau apa yang dimaksud orang pertama dalam cerita yang kamu buat tentang ‘menelanjangi diri sendiri’?
Rapuh. Itu lebih tepat menjadi alasan mengapa seseorang berusaha menutup-nutupinya. Kamu tidak ingin orang lain tahu seberapa rapuh dirimu. Kamu takut orang lain mengetahui permasalahanmu. Kamu khawatir dibilang lemah hanya karena saat itu, kamu merasa, ‘rapuh’.
Kamu tidak ingin orang lain tahu seberapa rapuh dirimu. Kamu takut orang lain mengetahui permasalahanmu.
Tetapi, lambat laun toh kamu juga memahami bahwa yang sebenarnya terjadi bukan soal orang lain akan mengetahui permasalahanmu—melainkan kamu mesti berhadapan kembali dengan memori-memori menyakitkan alias peristiwa yang membuatmu rapuh.
Seringkali orang-orang itu atau kamu juga pernah mengalaminya, beranggapan bahwa perasaan rapuh adalah bentuk mutlak representasi seseorang. Seolah-olah ia menetap dan tidak kunjung pergi dari diri manusia.
Orang-orang itu, dan lagi-lagi kamu, barangkali lupa. Bahwa rasa, apapun itu, tidak pernah benar-benar menjadi milik manusia dan manusia tidak pernah memiliki kewajiban untuk membawanya lebih jauh. Sama halnya dengan rasa senang, sedih, kecewa, marah, atau malah rasa yang manusia tidak tahu—tidak seutuhnya menggambarkan diri mereka saat itu.
Itu yang kamu pahami. Sekarang kamu bisa menangkap apa yang orang itu maksud tentang ‘menelanjangi diri sendiri’.
“Saya mau datang. Saya minta solusi agar saya bisa hidup normal”
Sepintas, tidak ada salahnya. Orang itu mungkin memang benar butuh pertolongan. Ia berharap mendapat solusi dan membuatnya bisa menjalani kehidupan seperti sebelum peristiwa tidak terduga terjadi alias sebab-musabab kerapuhannya saat ini.
Tetapi kamu memilih untuk tidak mencernanya mentah-mentah. Dua kalimat yang orang itu katakan tidak semudah untuk dipahami.
Kamu mengapresiasi kedatangannya secara sadar bahwa dia benar-benar membutuhkan pertolongan. Di saat sebagian masyarakat memintanya berdoa lebih kencang agar masalahnya lekas surut, dia juga sudah melakoninya. Tetapi, malam demi malam, pikiran tentang hal-hal buruk tidak pernah absen dari kepala. Bahkan, belakangan dia juga berkata mulai ada bisikan-bisikan aneh yang tidak dikehendaki.
Kamu tahu dia membutuhkan solusi. Tetapi apa guna solusi. Dia saja belum siap. Seperti apa yang dikatakannya barusan. Dia tidak mau seseorang membuatnya merasa telanjang.
Pertama-tama, kamu mungkin berharap, dia perlu sadar bahwa dia bukanlah pemilik dari setiap rasa-rasa itu. Lalu solusi. Kamu berharap dia bertemu dengan seseorang yang membantunya membuat keputusan yang diambil secara sadar. Bagaimanapun itu tentang hidupnya! Orang lain tidak berhak memutuskan. Biarlah solusi itu muncul bersamaan setelah dia cukup berani menghadapi memori persoalan itu sendiri—semenyakitkan apapun itu.
Kamu tahu dia ingin hidup normal. Normal baginya sama seperti kehidupan yang ia jalani sebelum-sebelumnya. Tapi kamu juga sadar bahwa tiap kejadian tidak akan sama. Begitupun dengan respons manusia terhadapnya. Dia tidak akan seperti sedia kala. Dia mungkin lebih kuat dari sebelumnya atau malah sebaliknya. Bergantung seberapa banyak pengetahuan dan keterampilan yang dia miliki untuk merespons kejadian-kejadian tersebut secara sadar dan tentu saja sehat!
Tapi kamu juga sadar bahwa tiap kejadian tidak akan sama. Begitupun dengan respons manusia terhadapnya. Dia tidak akan seperti sedia kala.
Hari itu, kamu berterima kasih. Seseorang datang memberimu banyak pelajaran termasuk memahami kata yang mengganggumu saat itu. Kamu lantas berdoa, semoga dia bertemu dengan orang yang tepat. Dan kamu, saat itu, bukan salah satunya.
***
Untuk siapapun, semestinya kita tidak perlu merasa bersalah untuk mengekspresikan kerentanan kita pada orang lain. Justru, melalui kerentanan, orang bisa bebas menunjukkan keasliannya sebagai manusia—yang ada kalanya tidak baik-baik saja dan berhak mendapat pertolongan.
Melalui kerentanan, orang bisa jujur, belajar memvalidasi emosi yang hadir—entah marah, kecewa, sedih, bahkan ketidakbahagiaan sekalipun. Dan, melalui kerentanan pula, kita, kemudian belajar untuk berbelas kasih pada diri sendiri.
