Konten dari Pengguna

Di Balik Suara Kukusan Kue Putu: Nostalgia yang Terpinggirkan

Nia Yuliani

Nia Yuliani

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Yuliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi

Suara Kukusan yang Tak Lagi Kita Tunggu

Suara mendesis kukusan kue putu di sore hari bukan sekadar bunyi. Bagi banyak orang Indonesia, suara itu adalah panggilan waktu, sebuah memori tentang masa kecil yang sulit diulang. Namun hari ini suara itu semakin jarang terdengar — bukan karena kue putu hilang dari peta kuliner, tetapi karena kita sudah terlalu sibuk untuk mendengarkannya.

Kue putu bukan sekadar camilan manis. Ia adalah jejak pengalaman yang mengikat generasi-generasi lewat aroma pandan, bambu kukusan, dan bunyi uap yang mendesis. Sayangnya, pengalaman itu mulai memudar dari keseharian kita.

Kue Putu Bukan Sekadar Camilan — Ia Bagian dari Budaya

Kue putu adalah jajanan tradisional Indonesia yang terbuat dari tepung beras, gula merah, dan dikukus menggunakan tabung bambu, menghasilkan aroma dan suara khas yang berakar dalam tradisi pasar serta kehidupan kampung atau kota kecil. Dalam banyak daerah, keberadaannya bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari ritme sosial: sore hari, aktivitas pasar tradisional, dan kenangan bersama keluarga.

Selain itu, studi tentang perilaku konsumen di Pekalongan menunjukkan bahwa jajanan tradisional seperti putu masih dikonsumsi oleh berbagai kalangan usia meskipun pilihan terhadap makanan modern semakin menguat, setengah responden menyatakan konsumsi tradisional mereka masih berlangsung setidaknya 1-7 kali per minggu, namun preferensi terhadap jajanan modern terutama di generasi muda terus tumbuh.

Nostalgia yang Diperdagangkan, Tapi Tidak Selalu Dilestarikan

Kue putu memiliki nilai nostalgia yang kuat. Banyak konsumen mengakui bahwa mereka membeli jajanan tradisional “karena rasa masa kecil” yaitu sebuah fenomena yang diperkuat oleh pengalaman nyata para penjual yang kini menyasar pasar tertentu demi mempertahankan relevansi tradisi itu sendiri.

Namun ironi terjadi di sini: kita rindu nostalgia, kita unggah gambar makanan tradisional di media sosial, tetapi kita malas memberikan ruang nyata bagi tradisi itu bertahan. Kita mencari estetika masa lalu di layar ponsel, tetapi lupa mendukung keberlangsungan penjual tradisional di kehidupan nyata.

Modernitas Mengubah Selera, dan Ruang Tradisi Tergerus

Kue putu kini bersaing dengan jajanan masa kini yang lebih cepat diakses, lebih visual, dan sering kali lebih dipromosikan di platform digital. Pergeseran selera ini tidak sekadar tren; ia menunjukkan bagaimana konsumen modern lebih memilih “praktis dan viral” ketimbang “autentik dan berakar budaya.”

Dalam konteks ini, studi perilaku konsumen menunjukkan bahwa generasi muda cenderung memilih jajanan modern karena alasan kenyamanan dan variasi — sebuah sinyal kuat bahwa tanpa upaya sadar untuk melestarikan, tradisi kuliner seperti kue putu akan semakin terpinggirkan.

Kita Sendiri yang Mendorong Kue Putu ke Pinggir Jalan

Saya berpendapat, kue putu tidak pernah benar-benar kalah bersaing. Yang kalah justru cara kita memaknai makanan. Kita hidup di era yang mengagungkan kecepatan, visual, dan tren. Apa pun yang tidak bisa difoto cantik, tidak bisa dikemas modern, dan tidak viral, dianggap tidak relevan, termasuk kue putu.

Kue putu terpinggirkan bukan karena zaman berubah, tetapi karena masyarakat lebih memuja yang viral daripada yang bermakna, dan enggan memberi ruang nyata bagi tradisi hidup.

Jika suatu hari suara kukusan kue putu benar-benar hilang, kita tidak pantas menyebutnya sebagai kehilangan budaya. Itu adalah konsekuensi dari pilihan sosial kita sendiri.

Jika Tradisi Menghilang, Apa yang Kita Tinggalkan?

Kue putu mungkin kecil, tetapi hilangnya tradisi ini memiliki makna besar. Ketika kita berhenti mendengar suara kukusan, kita juga berhenti menghargai proses, kerja keras pedagang kecil, dan pengalaman budaya yang tidak bisa diganti oleh produk massal. Mendukung kue putu berarti mempertahankan:

  • Identitas kuliner lokal,

  • Ritual sosial yang sederhana namun bermakna,

  • Jalinan generasi lewat rasa dan cerita.

Bagaimana Melestarikan Saat Dunia Terus Berubah?

Melestarikan kue putu bukan berarti kita menolak modernitas, justru sebaliknya:

✔ kita bisa memadukan tradisi dengan strategi pemasaran digital,

✔ festival kuliner lokal bisa memberi ruang bagi penjual kaki lima,

✔ dan pendidikan budaya kuliner bisa membuat generasi muda tidak kehilangan akar tradisi.

Tradisi tidak hilang karena zaman berubah tradisi hilang karena kita berhenti memperhatikannya.

Merawat Ingatan, Bukan Sekadar Rasa

Suara kukusan kue putu adalah panggilan masa lalu yang sesungguhnya masih relevan hari ini. Ketika kita berhenti mendengarnya, kita tidak hanya kehilangan satu pilihan jajanan, kita kehilangan bagian dari identitas sosial dan budaya kita sendiri.

Melestarikan kue putu berarti merawat memori kolektif yang membentuk siapa kita sebagai masyarakat yang berkembang namun tidak melupakan akar.