Konten dari Pengguna

Ketika Kursi Bicara: Mengapa Laki-Laki Selalu di Atas dan Perempuan di Bawah?

Nia Yuliani
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
5 Januari 2026 22:02 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Kursi Bicara: Mengapa Laki-Laki Selalu di Atas dan Perempuan di Bawah?
Perempuan duduk di bawah, laki-laki di atas sofa dengan dalih sopan. Ini bukan etika, tapi patriarki halus yang masih hidup. Dari kursi, kita melihat siapa yang diprioritaskan.
Nia Yuliani
Tulisan dari Nia Yuliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dokumemtasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumemtasi Pribadi
ADVERTISEMENT
Dalih Sopan yang Tidak Pernah Netral
Saya kerap menemui situasi yang dianggap wajar: laki-laki duduk nyaman di atas sofa, sementara perempuan diminta duduk di bawah dengan alasan lebih sopan. Kalimatnya terdengar halus, bahkan bermoral. Namun bagi saya, justru di sanalah patriarki bekerja paling efektif—diam-diam, tanpa paksaan, tapi penuh ketimpangan.
ADVERTISEMENT
Ini bukan sekadar soal kursi. Ini tentang siapa yang dianggap pantas mendapat kenyamanan dan siapa yang sejak awal diharapkan untuk menyesuaikan diri.
Patriarki Hidup dalam Hal-Hal Sepele
Banyak orang menganggap praktik ini sepele. Saya justru melihatnya sebagai persoalan mendasar. Patriarki tidak bertahan lewat aturan besar semata, tetapi lewat kebiasaan kecil yang terus diulang dan dinormalisasi. Posisi duduk, cara berbicara, hingga siapa yang lebih dulu diberi ruang, semuanya membentuk pesan sosial yang sama: ada yang lebih utama, ada yang harus mengalah.
Sosiolog Sylvia Walby menyebut patriarki sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki dalam posisi dominan dan perempuan dalam posisi subordinat, baik di ranah publik maupun privat. Sistem ini jarang hadir sebagai larangan tertulis, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari yang jarang dipertanyakan.
ADVERTISEMENT
Ironi di Tengah Wacana Kesetaraan Gender
Ironisnya, praktik semacam ini masih bertahan di era ketika kesetaraan gender terus digaungkan. Perempuan semakin terdidik, bekerja, dan bersuara di ruang publik. Namun di ruang paling dekat seperti rumah dan lingkungan sosial, mereka masih diminta untuk “mengalah sedikit saja”.
World Economic Forum dalam Global Gender Gap Report 2024 menyebut bahwa norma sosial dan budaya adalah salah satu penghambat terbesar tercapainya kesetaraan gender. Artinya, tanpa perubahan cara berpikir, kemajuan kebijakan akan selalu tertinggal oleh praktik sehari-hari.
Perempuan Selalu Diminta Memahami
Dalam budaya patriarki, perempuan hampir selalu menjadi pihak yang diminta memahami: memahami adat, memahami kenyamanan orang lain, memahami situasi. Sementara laki-laki jarang diminta untuk bergeser dari posisi nyamannya sendiri.
ADVERTISEMENT
UN Women menegaskan bahwa norma sosial patriarkal membentuk ekspektasi timpang tentang bagaimana perempuan dan laki-laki “seharusnya” bersikap. Ketimpangan ini sering kali tidak disadari karena dibungkus oleh nilai kesopanan dan tradisi.
Melawan dari Kursi yang Dianggap Biasa
Bagi saya, praktik ini memuakkan bukan karena kursinya, tetapi karena pesan yang disampaikannya begitu jelas: perempuan bukan prioritas. Jika simbol-simbol kecil seperti ini terus dibiarkan, kesetaraan gender hanya akan berhenti sebagai wacana, tanpa pernah benar-benar hidup dalam keseharian.
Melawan patriarki tidak selalu harus dimulai dari aksi besar. Ia bisa dimulai dari keberanian mempertanyakan hal yang selama ini dianggap wajar. Mengapa perempuan harus duduk di bawah? Siapa yang menentukan itu sopan? Dan kepentingan siapa yang sebenarnya dijaga?
ADVERTISEMENT
Selama perempuan masih ditempatkan di posisi lebih rendah, secara simbolik maupun nyata, patriarki akan terus duduk paling atas. Dan bagi saya,