BEI Tak Hitung Potensi Outflow MSCI: Serahkan ke Mekanisme Pasar

Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak menghitung potensi arus dana keluar (outflow) menyusul keputusan MSCI mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan sejumlah analis sebelumnya memperkirakan potensi outflow sekitar USD 100 juta hingga USD 200 juta. Namun, BEI tidak memiliki perhitungan sendiri terkait besaran dana yang berpotensi keluar.
“Tadi ada beberapa analis yang sudah menyampaikan sekitar 200 juta atau 100 juta USD gitu kan ya. Kalau kami enggak,” kata Jeffrey kepada wartawan di gedung BEI, Jakarta, Kamis (13/8).
Menurut Jeffrey, arus dana masuk dan keluar merupakan hal yang wajar terjadi di pasar modal. Karena itu, BEI takkan mengintervensi pergerakan dana tersebut.
“Kalau outflow dan inflow itu kan sesuatu yang wajar terjadi di pasar. Ya kami selalu menyerahkan seluruhnya kepada mekanisme di pasar,” sebut dia.
Jeffrey juga mengatakan investor perlu melakukan rebalancing setelah konstituen emiten RI di MSCI telah keluar.
“Oh enggak, kalau investor yang memang harus melakukan rebalancing, ya itu kan adalah sesuatu yang memang harus dilakukan,” kata dia.
MSCI sebelumnya mengumumkan perubahan konstituen dalam review MSCI Global Standard Indexes dan Global Small Cap Indexes. Perubahan mulai berlaku setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.
Dalam pengumuman yang terbit Kamis (13/8), dua saham Indonesia, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
MSCI mencatat Indonesia mengalami 0 penambahan dan 2 penghapusan saham dalam MSCI Global Standard Indexes pada kajian Agustus 2026.
Di sisi lain, sembilan saham Indonesia harus keluar dari indeks MSCI Global Small Cap. Kesembilan saham di antaranya: Bank Jago Tbk (ARTO), Bukalapak.com Tbk (BUKA), Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA), MD Entertainment Tbk (FILM), Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
Di tengah perubahan konstituen MSCI itu, BEI berharap kondisi pasar modal Indonesia kembali pulih. Jeffrey menyebut stabilitas ekonomi domestik menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung pemulihan pasar.
“Kemudian di dalam negeri kan kita juga melihat data-data makroekonomi kita juga tetap stabil. Baik pertumbuhannya, apa yang menjadi concern pasar selama beberapa bulan terakhir ini itu juga sedang kita lakukan terus, kita carikan upaya tercepat untuk bisa selesai dan kelihatannya kita sudah ke arah yang tepat untuk bisa menyelesaikan seluruhnya,” jelas Jeffrey.
“Jadi kita harapkan ke depannya ya pasar kita akan pulih,” tuturnya.
