Kumparan Logo

BI Catat Modal Asing Masuk USD 8,5 Miliar hingga Kuartal II 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk (net inflow) mencapai USD 8,5 miliar pada kuartal II 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, tren masuknya modal asing masih berlanjut pada kuartal III 2026 hingga 20 Juli 2026, meski dengan nilai yang lebih terbatas.

"Aliran investasi portofolio asing pada triwulan II 2026 mencatat net inflow sebesar USD 8,5 miliar terutama didukung oleh SBN dan SRBI yang kemudian berlanjut pada triwulan III 2026 hingga 20 Juli 2026 terutama dari SBN yang mencatat net inflow sebesar USD 0,1 miliar,” kata Perry saat konferensi pers RDGB Juli 2026, secara daring, Rabu (22/7).

Selain arus modal, Perry menyampaikan posisi cadangan devisa Indonesia juga tetap berada pada level yang kuat. Hingga akhir Juni 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD 145,6 miliar.

"Setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” kata dia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kiri), dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida Budiman (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Ja Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Menurut Perry, level cadangan devisa tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan nasional.

Ke depan, BI juga memperkirakan kinerja transaksi berjalan Indonesia tetap berada dalam kondisi sehat sepanjang 2026, seiring masih terjaganya keseimbangan sektor eksternal.

"Ke depan Bank Indonesia memperkirakan kinerja transaksi berjalan 2026 tetap sehat dalam kisaran defisit 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari PDB,” beber Perry.