IHSG Diproyeksi Rawan Koreksi, Pelemahan Rupiah Masih Jadi Sentimen

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (3/7), meski dalam dua hari terakhir berhasil mencatat penguatan. Pada perdagangan Kamis (2/7) IHSG ditutup menguat 49,44 poin atau 0,87 persen ke posisi 5.744,56
Analis MNC Sekuritas menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam fase yang rawan mengalami koreksi. Setelah menguat 0,87 persen ke level 5.744 dengan dominasi volume pembelian, indeks diperkirakan masih berpotensi menguji area support di kisaran 5.472-5.540.
Meski demikian, terdapat peluang skenario yang lebih positif apabila IHSG mulai membentuk awal gelombang penguatan berikutnya.
“Best case, posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam, sehingga diperkirakan IHSG masih rawan koreksi menguji 5.472-5.540. Namun, cermati skenario merah di mana IHSG saat ini sedang membentuk bagian awal dari wave [v] dari wave 3,” kata Analis MNC Sekuritas.
MNC Sekuritas memproyeksikan level support IHSG berada di 5.486 dan 5.317, sedangkan resistance berada di 6.007 dan 6.286.
Untuk strategi perdagangan, MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness pada saham ADMR dan BRMS, trading buy pada RATU, serta sell on strength untuk INDF karena penguatannya dinilai mulai terbatas dan berpotensi mengalami koreksi.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga menilai pergerakan IHSG masih dibayangi sejumlah sentimen negatif, terutama belum pulihnya aliran dana asing ke pasar domestik.
Menurutnya, secara teknikal IHSG memang berhasil menunjukkan daya tahan sejak terbentuknya wave (b). Namun indikator teknikal masih memberikan sinyal yang kurang positif.
“Meskipun IHSG berhasil menguat selama dua hari terakhir, arus dana asing belum menunjukkan pembalikan yang konsisten sehingga berpotensi membatasi kenaikan indeks,” ungkap Nafan.
Nafan menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi salah satu faktor yang membebani pasar. Rupiah tercatat terdepresiasi 0,24 persen ke Rp 17.995 per dolar AS seiring berlanjutnya aksi jual investor asing. Sepanjang semester I 2026, dana asing juga telah mencatatkan arus keluar sebesar Rp 86,81 triliun secara year to date.
Di sisi lain, inflasi tahunan yang meningkat menjadi 3,34 persen atau di atas konsensus dinilai membuka peluang Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi, bahkan berpotensi menaikkan apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
Selain itu, pasar juga mencermati defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit tersebut menjadi yang pertama sejak April 2020 dan memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi fundamental ekonomi dalam jangka pendek.
Pelaku pasar juga menunggu pengumuman kupon Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat (3/7). Masa penawaran ORI030 akan berlangsung mulai 6 Juli hingga 30 Juli 2026 dan diperkirakan menjadi salah satu alternatif diversifikasi portofolio di tengah tingginya volatilitas pasar saham.
Dari sentimen global, pasar turut mencermati perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data nonfarm payroll Juni 2026 menunjukkan penambahan lapangan kerja hanya 57.000, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000. Kondisi tersebut dinilai memperbesar peluang bank sentral AS menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Adapun Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan investor untuk tetap fokus pada saham berfundamental kuat, memiliki valuasi murah, serta mulai menunjukkan sinyal pembalikan tren. Saham yang direkomendasikan untuk strategi accumulative buy yakni BMRI, BBNI, dan TPIA.
***
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
