Menperin Sebut Rantai Pasok-AI Jadi Tantangan SDM di Sektor Industri

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa transformasi digital, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, transisi ekonomi hijau, hingga dinamika rantai pasok global menuntut SDM yang adaptif, inovatif, serta berkarakter pembelajar.
“Karena itu, penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional dan merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri,” ucap Agus dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7).
Dia melanjutkan, untuk menjaga konsistensi kinerja sektor manufaktur dan industri nasional yang menjadi motor utama penyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan daya saing industri nasional melalui program pembangunan sumber daya manusia (SDM). Langkah ini sekaligus menjadi prioritas nasional dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Dalam mewujudkan komitmen tersebut, Kemenperin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) menjalin kerja sama dengan Pemerintah Swiss, melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan Swisscontact, serta Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. Kolaborasi ini diarahkan untuk mengakselerasi standar kompetensi SDM industri nasional ke tingkat global.
Sinergi di sektor pendidikan vokasi ini sekaligus memperkokoh rekam jejak kemitraan strategis yang telah terbangun lama. Hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss telah terjalin kokoh sejak 1951, sementara hubungan bilateral dengan Jerman terjalin sejak 1952.
Di sektor SDM industri, BPSDMI Kemenperin secara konsisten menggandeng kedua negara mitra sejak 2018. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui program Skills for Competitiveness (S4C) bersama SECO, serta dukungan GIZ Jerman dalam reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi (TVET System Reform) di Tanah Air. Komitmen jangka panjang ini kini berlanjut melalui program S4C Fase 2 bersama Swisscontact, serta program Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) pendampingan GIZ.
Sebagai wujud nyata dari keberlanjutan kemitraan strategis tersebut, BPSDMI bersama Pemerintah Swiss dan Jerman resmi menggelar ajang National Dual Vocational Education and Training (DVET) 2026 yang berlangsung pada Selasa–Kamis, 21–23 Juli 2026 di Jakarta.
Kepala BPSDMI, Doddy Rahadi menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kolaborasi strategis tersebut telah memberikan dampak nyata bagi ekosistem pendidikan vokasi industri. Dampak positif ini mencakup penyediaan hibah peralatan praktik modern di unit pendidikan, peningkatan kapasitas ribuan tenaga pendidik serta peserta didik, hingga penguatan kelembagaan dan perangkat yang sesuai dengan standar manufaktur terkini.
“Yang tidak kalah penting, kita berhasil membangun sebuah budaya baru, yaitu budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri; keduanya harus menjadi mitra yang setara dalam mencetak talenta masa depan,” ujar Doddy.
Head of Cooperation (Economic Cooperation and Development) SECO, Violette Ruppanner turut menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem vokasi Indonesia. Pihaknya menyampaikan bahwa berinvestasi pada keterampilan berarti berinvestasi pada manusia, bisnis, dan daya saing ekonomi.
"Sepanjang kemitraan ini, kita memiliki satu ambisi sederhana: mendekatkan dunia pendidikan dan industri. Ketika perusahaan aktif membantu menyusun kurikulum, menyediakan magang terstruktur, dan berinvestasi pada talenta masa depan, semua pihak akan diuntungkan," tegas Violette.
Senada dengan hal tersebut, Deputy Country Director GIZ, Shameer Khanal menyoroti pentingnya fokus pada peningkatan kualitas SDM untuk mendukung perubahan industri.
“Kegiatan hari ini adalah tentang berinvestasi pada manusia. Sebab, tidak ada transisi hijau yang dapat berhasil tanpa tenaga kerja yang dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang tepat. Hal ini mencerminkan keyakinan bersama kita bahwa transformasi yang sukses hanya dapat dicapai melalui kemitraan,” kata Shameer.
