Paylater Tumbuh 33,5%, Peritel Sebut Konsumsi Ikut Terdongkrak

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai layanan buy now, pay later (BNPL) atau paylater turut membantu mendorong konsumsi masyarakat.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding atau nilai paylater mencapai Rp 30,71 triliun hingga Juni 2026 atau tumbuh 33,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, konsep paylater tidak jauh berbeda dengan program cicilan kartu kredit yang selama ini banyak dimanfaatkan konsumen di ritel, utamanya saat tersedia promo bunga 0 persen.
“Di Hippindo ini kan ada kartu kredit. Kalau lagi ada promo 0 persen, itu rame penjualan kami. Itu adalah hal yang dalam menurut kami itu marketing juga. Kami bekerja sama dengan kartu kredit. Jadi sebenarnya paylater itu mirip itulah,” kata Budihardjo di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (6/8).
Dia mencontohkan pembelian barang elektronik yang umumnya dilakukan pelanggan dengan skema cicilan. Dengan demikian, kehadiran layanan paylater dinilai menjadi alternatif pembiayaan yang serupa.
Menurut dia, keberadaan paylater justru dapat mendorong konsumsi masyarakat karena memberikan pilihan pembayaran secara bertahap.
“Jadi menurut kami ini hal yang normal, kalau untuk paylater ya, yang nggak normal itu kalau judol. Kalau paylater mah normal, malah itu membantu meningkatkan konsumsi,” ujarnya.
Akui Masih Ada Penutupan Gerai
Di sisi lain, Budihardjo mengakui masih terjadi penutupan gerai ritel, namun menurut dia, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika bisnis.
Hal ini dikarenakan pelaku usaha akan menutup toko yang kurang produktif dan melakukan ekspansi di area yang dinilai memiliki kinerja atau potensi moncer.
“Jadi memang perlu suatu kreatifitas dari pihak mal maupun ritel untuk orang, makanya kita ngadain acara ini supaya masyarakat tetap datang, tetap mau datang ke mall, tetap mau jalan-jalan,” terangnya.
