Kumparan Logo

Selain CNG, Bahlil Hidupkan Lagi Program Kompor Listrik untuk Tekan Konsumsi LPG

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/7/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/7/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, akan kembali menghidupkan program kompor listrik setelah mati suri dalam satu tahun ke belakang, untuk menekan konsumsi LPG bersubsidi selain mencanangkan subsidi CNG tabung 3 kg.

Bahlil mengusulkan anggaran Kementerian ESDM dalam pagu indikatif RAPBN 2027 sebesar Rp 27,33 triliun, terdiri dari 82 persen program strategis/infrastruktur, 13 persen belanja operasional, dan 5 persen publik 5 persen.

Anggaran terbesar dialokasikan untuk Ditjen Migas sebesar Rp 11,32 triliun dan Ditjen Ketenagalistrikan sebesar Rp 10,46 triliun. Kemudian, Ditjen Minerba Rp 702,53 miliar dan Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) sebesar Rp 1,81 triliun.

Adapun dalam alokasi infrastruktur energi yakni terdiri dari sektor migas yang mencakup program konverter Kit (Konkit) petani sebesar 14.000 paket atau Rp 158,5 miliar, pipa gas bumi Dumai-Sei Mangkei sebesar Rp 3,94 triliun, jargas rumah tangga sebesar Rp 5,21 triliun, pipa transmisi gas Semarang Solo Yogyakarta sebesar Rp 702,3 miliar, dan pipa transmisi gas Cirebon Bandung sebesar Rp 577,5 miliar.

Kemudian sektor EBTKE mencakup proyek PLTM Rp 58,5 miliar, lalu program kompor listrik sebesar Rp 815,5 miliar, dan motor listrik Rp 635,24 miliar. Bahlil mengatakan, program kompor listrik dihidupkan kembali untuk menekan konsumsi LPG subsidi.

"Kompor listrik karena ini untuk kita mengurangi kebutuhan LPG, kita mencari untuk bauran energi lain. Jadi energi yang kita dorong ke depan tidak hanya tentang LPG tapi kompor listrik, CNG, macam-macam yang kita buat, itu sebesar Rp 815,56 miliar," ungkap Bahlil saat Raker Komisi XII DPR, Senin (15/6).

instagram embed

Ditemui usai rapat, Bahlil menjelaskan program kompor listrik untuk mendorong diversifikasi bauran energi karena 80 persen kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor.

Dia mencatat devisa yang dikeluarkan untuk impor LPG setiap tahunnya minimal Rp 120 triliun, bahkan pada saat Indonesia Crude Price (ICP) sedang tinggi, devisa yang keluar untuk membeli LPG membengkak lebih dari Rp 130 triliun, dengan subsidi di atas Rp 80 triliun.

"Kalau kondisi ini terus kita biarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi soal. Maka salah satu alternatifnya adalah kita dorong kompor listrik," tegas Bahlil.

Bahlil menyebutkan terdapat beberapa model kompor listrik yang akan dialokasikan kepada penerima yang berhak. Pada tahap awal, pemerintah meminta jenis kompor listrik di bawah 900 KWh.

"Sebagai tahap awal karena ada beberapa model kompor listrik yang sekarang kita mintanya itu di sekitar di bawah 900 KWh. Supaya rakyat kita yang di daerah-daerah yang di kecamatan, di desa itu bisa dipakai dengan listrik kapasitas daya mereka yang ada," tuturnya.

Kendati demikian, Bahlil belum bisa membeberkan berapa banyak jumlah pengadaan kompor listrik dengan anggaran yang dialokasikan pada tahun depan, sebab menunggu pembahasan dengan DPR.

Selain itu, dia juga menuturkan terdapat perbedaan teknologi kompor listrik pada program sebelumnya dengan model kompor yang akan dicanangkan ke depannya, sehingga diharapkan penerimaan masyarakat lebih tinggi.

"Mungkin di bulan Agustus baru bisa keluar berapa jumlah unit. Kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," tandas Bahlil.