Maraknya Perilaku Merokok di Kalangan Remaja, Apa Faktor Penyebabnya?
Tulisan dari Nickita Chaerani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat kita pergi ke mana pun, kemungkinan besar kita akan menjumpai orang-orang yang sedang merokok. Orang-orang yang merokok tersebut biasanya terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku SD pun sudah mulai mencoba merokok. Biasanya anak-anak SD maupun SMP lebih memilih merokok diam-diam di suatu tempat, seperti kamar mandi sekolah.
Umumnya, para remaja mulai mencoba dan mengisap rokok pertama kalinya saat mereka berusia 10 sampai 14 tahun. Faktor utama yang menyebabkan mereka ingin mencoba merokok biasanya adalah karena mereka melihat orang-orang di sekitarnya yang sedang merokok, kemudian mereka meniru dan mencontoh perilaku merokok tersebut.
Apabila dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, jumlah perokok dengan kelompok umur 10 sampai 12 tahun adalah sebanyak 0,11%. Kemudian persentase perokok dengan kelompok umur 13 sampai 15 tahun adalah sebanyak 1,45%. Dan untuk kelompok umur 16 sampai 18 tahun terdapat 8,92% remaja yang merokok. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa rata-rata persentase perokok remaja yang berusia 10 sampai 18 tahun adalah sebanyak 3,44%.
Pada tahun 2018, terjadi lonjakan persentase perokok remaja yang berusia 10 sampai 18 tahun. Hal ini dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018. Dengan data sebagai berikut: Kelompok umur 10 sampai 12 tahun sebanyak 0,71%; kelompok umur 13 sampai 15 tahun sebanyak 7,30%; serta kelompok umur 16 sampai 18 tahun sebanyak 21,57%. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa persentase yang paling tinggi adalah pada kelompok umur 16 sampai 18 tahun.
Banyaknya remaja yang memilih untuk merokok biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor dari dalam diri remaja itu sendiri. Pada masa-masa remaja ini, para remaja biasanya cenderung berusaha untuk tampil beda supaya tidak dianggap seperti anak-anak lagi. Mereka ingin terlihat dewasa. Hal inilah yang menyebabkan para remaja memilih untuk merokok. Mereka menganggap bahwa merokok akan menjadi simbol kematangan. Jadi jika mereka merokok, mereka akan merasa terlihat sudah dewasa atau sudah matang (Tristanti, 2016).
Selain itu, terdapat faktor-faktor lainnya yang muncul dari dalam diri remaja itu sendiri, seperti faktor kepuasan psikologis. Bagi para perokok, merokok dapat memberikan kepuasan tersendiri. Efek-efek yang ditimbulkan setelah mengisap rokok biasanya akan memberikan kepuasan, kenikmatan, serta ketenangan bagi para perokok yang mengisap rokoknya. Hal inilah yang kemungkinan menjadi faktor para remaja memilih untuk merokok dan menjadi kecanduan setelah mencoba mengisap rokok untuk pertama kalinya (Komasari & Helmi, 2000).
Merokok memang dapat mengubah suasana hati menjadi lebih baik, hal ini disebabkan karena adanya efek nikotin yang dapat memberikan rasa tenang sementara. Oleh karena itu, beberapa orang yang sedang mengalami depresi atau stress cenderung memilih untuk merokok supaya dapat mengurangi rasa depresi dan stres yang dirasakan.
Faktor yang kedua, yaitu faktor lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga sangat berpengaruh bagi remaja. Di masa-masa remaja ini, seseorang sedang berada di fase perkembangan fisik dan perubahan hormon. Oleh sebab itu, remaja cenderung memiliki emosi yang tidak stabil dan bersifat labil. Masa-masa labil tersebut yang membuat remaja menjadi mudah terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya. Terutama lingkungan keluarga (Wulan, 2012).
Anak-anak atau orang-orang yang sedang berada dalam masa remaja bisa saja dapat terpengaruh dengan hal-hal yang dilihatnya. Salah satu contohnya adalah ketika melihat orang-orang yang merokok di sekitarnya. Kemudian akan muncul rasa penasaran dalam dirinya. Yang selanjutnya akan mengakibatkan para remaja tersebut memutuskan mencoba merokok untuk mengatasi rasa penasarannya.
Faktor yang ketiga, yaitu faktor lingkungan pertemanan. Faktor lingkungan pertemanan ini memberikan pengaruh besar bagi para remaja. Remaja yang memiliki teman seorang perokok, mempunyai kemungkinan besar untuk menjadi seorang perokok juga. Salah satu bentuk pengaruh dari teman terhadap perilaku merokok adalah pada saat seorang remaja melihat temannya yang sedang merokok. Kemudian muncul rasa ingin mencoba dari dalam diri remaja tersebut. Pada akhirnya, remaja tersebut pun ikut mencoba merokok.
Pengaruh lingkungan pertemanan terhadap perilaku merokok juga bisa dalam bentuk lain, seperti keinginan seorang remaja untuk terlihat sama dengan teman-temannya yang merokok. Ataupun keinginan untuk dapat diterima di suatu kelompok pertemanannya. Biasanya para remaja cenderung takut ditolak di kelompok pertemanannya jika mereka tidak ikut merokok. Dan mereka juga tidak ingin jika nantinya mereka disebut “pengecut” karena tidak merokok. Oleh karena itu, para remaja memilih untuk merokok juga. Hal inilah yang menjadi factor para remaja ikut merokok dengan teman-teman sebayanya (Komasari & Helmi, 2000).
Dari faktor-faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan maraknya perilaku merokok di kalangan remaja. Salah satu faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor lingkungan, baik lingkungan pertemanan maupun lingkungan keluarga. Dengan ini, para remaja diharapkan dapat lebih bijak lagi dalam menyikapi lingkungan. Serta mampu membedakan antara hal positif yang seharusnya ditiru dengan hal negatif yang seharusnya tidak boleh ditiru.
Daftar Referensi:
Komasari, D., & Helmi, A. F. (2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok pada Remaja. Jurnal Psikologi, 8(1), 44–46. https://journal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7008/5460
Tristanti, I. (2016). Remaja dan Perilaku Merokok. University Research Colloquium, 3(1), 333–334. https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/handle/11617/6772
Wulan, D. K. (2012). Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Perilaku Merokok pada Remaja. Humaniora, 3(2), 508–510. https://journal.binus.ac.id/index.php/Humaniora/article/view/3355

