Dari Hong Kong untuk Kampung Halaman:

Just an ordinary woman and her dreams.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nicma Faneri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Astaseni, Perias Asal Indonesia yang Raih Medali hingga Impikan Wadah Kreatif untuk PMI
MONGKOK — Di sela-sela kesibukan sebagai pekerja migran di Hong Kong, sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) tak henti menggali potensi diri. Berbagai kegiatan pengembangan bakat terus digelorakan, mulai dari seni kuliner, tarik suara, hingga tata rias wajah. Kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi bekal berharga untuk membuka usaha dan lapangan kerja saat mereka kelak kembali ke tanah air.
Salah satu bidang yang tengah digandrungi adalah seni tata rias wajah. Di balik hiruk-pikuk kawasan Mongkok, Astaseni, seorang PMI asal Indonesia, dengan tekun membimbing rekan-rekan sejawat yang ingin mendalami dunia kecantikan. Minggu (27/1/2019) lalu, di Forex Building, Mongkok, Astaseni terlihat sabar membimbing satu per satu teman-temannya yang antusias belajar merias.
Perempuan yang telah dua tahun mengembangkan kreativitasnya sebagai perias ini mengaku awal mulanya terinspirasi dari kanal YouTube Inivindy. Dari sana, Astaseni mulai belajar secara otodidak. Ketertarikannya kian dalam setelah ia berguru langsung kepada seniman tata rias Arman Armanu.
Ditanya soal bagaimana membagi waktu di sela rutinitas bekerja di rumah majikan, Astaseni memaparkan bahwa ia memanfaatkan malam hari. “Setelah pekerjaan selesai, sebelum istirahat saya rutin belajar lewat YouTube, lalu praktik merias wajah sendiri. Saya juga suka mencoba hal-hal baru dari ide saya sendiri,” ujarnya.
Baginya, belajar tak mengenal tempat dan waktu. “Belajar itu bisa di mana saja, dengan siapa saja. Kalau kita belajar dengan hati dan ikhlas, hasil karya kita bisa lebih dari sekadar berkualitas. Seni merias wajah itu bukan cuma soal pekerjaan,” tambah Astaseni.
Perjalanan Panjang yang Berbuah Prestasi
Sejak tahun 2016, Astaseni serius mendalami seni tata rias. Kerja kerasnya perlahan membuahkan hasil. Ia telah berhasil menyabet medali dari sejumlah ajang perlombaan, di antaranya meraih juara harapan satu lomba Makeup Tradisi yang diikuti oleh 55 peserta, juara dua kategori Hijab Modifikasi, serta menyabet gelar Juara Icon Kebaya Elegant.
Menurut Astaseni, menjadi seorang perias tidak cukup hanya mengandalkan teknik meratakan foundation atau bedak. “Seorang perias harus menanamkan jiwa seni dalam hatinya. Merias orang itu harus menghasilkan karya yang hidup dan berkualitas, bukan asal-asalan hanya mengejar bajet. Setiap perias juga harus punya karakter dan ciri khas masing-masing,” tegasnya.
Mimpi Membangun Wadah Kreatif untuk PMI
Sebagai seorang perias yang juga berstatus pekerja migran, Astaseni memiliki impian untuk membangun wadah alternatif bagi rekan-rekan PMI di Hong Kong yang ingin berkreasi di bidang tata rias. Ia ingin menciptakan ruang belajar yang lebih terstruktur, di mana para pekerja migran dapat saling mendukung dan mengembangkan potensi.
“Saya selalu menghimbau pada rekan dan sahabat yang sedang belajar bersama saya untuk tidak cepat berpuas diri. Belajar jangan terpaku pada sertifikat saja, tapi teruslah menggali wawasan, kembangkan kreativitas dan bakatmu sendiri tanpa menjiplak karya orang lain. Supaya seni dan karya hasil kerja keras kita punya daya tarik tersendiri,” pesannya.
Ia pun menyampaikan harapannya bagi para pecinta tata rias dari kalangan PMI. “Untuk teman-teman yang baru belajar (pemula) maupun yang sudah lama berkecimpung di dunia tata rias, terus yakin saja. Usaha tidak akan membohongi hasil. Tetap semangat dan terus berkarya,” ujar Astaseni penuh semangat.
Kisah Astaseni menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pekerja migran tidak hanya bertahan di perantauan, tetapi juga mampu membangun fondasi masa depan melalui pengembangan diri dan kreativitas yang tinggi. (Nikma)
