Krisis Pangan yang Mengguncang Dunia dan Afrika Timur

Seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia yang memiliki hobi dalam fotografi dan memiliki ketertarikan dalam menulis opini dan artikel
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nico Manaek Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia melihat kenyataan pahit bahwa isu pangan bukan lagi sekedar isu kemanusiaan, melainkan ancaman nyata bagi keamanan global. Saat harga pangan melonjak dan ketika pasokan gandum terganggu, atau bahkan kekeringan melanda, dampak yang dirasakan bukan hanya di dapur rumah tangga, tetapi juga dirasakan meja diplomasi antarnegara. Isu pangan kini berada di jantung politik internasional yang menentukan stabilitas, kerja sama, bahkan perdamaian dunia.
Keamanan pangan menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim, konflik, serta ketimpangan ekonomi yang terjadi beberapa tahun terakhir. Menurut kerangka keamanan non-tradisional, ancaman pangan tidak terjadi dari senjata ataupun dari invasi militer, melainkan berasal dari kegagalan panen, perang sipil, serta kebijakan global yang tidak stabil. Konsep human security menempatkan pangan sebagai elemen dasar dan penting dari rasa aman manusia, seseorang tidak bisa membahas tentang perdamaian jika ia sedang lapar. Karena itu, isu pangan bukan hanya sebuah isu ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi keamanan internasional.
Kawasan yang mencerminkan kompleksitas persoalan pangan ini adalah Afrika Timur. Negara-negara seperti Somalia, Ethiopia, Kenya, dan Sudan Selatan yang saat ini tengah mengalami krisis pangan paling parah dalam Sejarah modern mereka. Dalam data Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) dan World Food Programme (WFP) lebih dari 50 juta orang dalam kawasan tersebut mengalami kekurangan pangan akut. Kekeringan yang panjang akibat fenomena El Niño, ditambah juga konflik bersenjata dan ketergantungan terhadap impor gandum dari Russia dan Ukraina, membuat jutaan keluarga hidup dalam ketidakpastian akan makanan hari esok.
Contohnya Somalia, ketika gagal panen terjadi karena kekeringan ekstrem, hal ini memaksa banyak keluarga untuk mengungsi ke wilayah lain. Konflik internal dengan kelompok militant, yang menghambat distribusi kemanusiaan semakin memperparah situasi ini. Di Ethiopia, perang di wilayah Tigray yang menutup jalur logistik sehingga bantuan sulit masuk ke dalam wilayah tersebut dan menyebabkan kelaparan massal. Sementara itu di Sudan Selatan, bencana seperti kekeringan, banjir, dan juga ketidakstabilan politik memperburuk kestabilan pangan mereka, sehingga separuh penduduknya bergantung pada bantuan makanan dari luar negeri.
Krisis ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara isu pangan dengan politik. Negara di kawasan Afrika Timur bukan hanya berjuang melawan ekonomi dan cuaca, tetapi juga melawan struktur global yang telah membuat mereka bergantung pada bantuan dan impor. Perang antara Russia dengan Ukraina yang menyebabkan harga gandum melonjak membuat keadaan semakin buruk, karena banyak negara di kawasan tersebut tidak memiliki ekonomi yang cukup untuk membeli bahan pokok dari pasar internasional. Dalam hal seperti, kelaparan bukan hanya soal kekurangan pangan, tetapi bentuk dari ketidakadilan yang dibentuk karena sistem global.
Meskipun kelaparan terjadi di kawasan Afrika Timur sangat parah sehingga menciptakan keputusasaan, secerah harapan muncul dari organisasi-organisasi internasional. Organisasi seperti Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) dan World Food Programme (WFP), serta berbagai lembaga organisasi internasional lainnya terus berupaya mengirimkan bantuan pangan untuk dapat mengurangi dampak kelaparan yang terjadi di beberapa wilayah, selain memberikan bantuan pangan darurat mereka juga membantu wilayah yang dilanda kekurangan pangan dengan mendukung program pertanian berkelanjutan. Di wilayah seperti Ethiopia dan Kenya, proyek climate-smart agriculture mulai dikembangkan agar petani-petani dapat beradaptasi dengan perubahan cuaca yang ekstrem. Di Somalia, untuk meningkatkan hasil panen sejumlah komunitas lokal membangun sistem irigasi sederhana dan memanfaatkan teknologi digital untuk memantau cuaca.
Afrika Timur membuat dunia belajar bahwa krisis pangan adalah cerminan rapuhnya sistem keamanan global. Saat akses terhadap makanan tidak terjamin, maka perdamaian hanyalah konsep kosong. Kelaparan dapat memicu konflik baru, gelombang migrasi, dan dapat memperburuk ketegangan etnis di negar yang sudah rentan. Di Sahel dan Tanduk Afrika, kelangkaan pangan menjadi pemicu utama perebutan lahan dan sumber air. Fenomena ini menunjukan bahwa keamanan pangan tidak dapat dipandang terpisah dari ekonomi, politik, dan lingkungan. Jika merujuk pada teori keamanan kolektif, ancaman terhadap satu negara berarti ancaman bagi semua, artinya ketika keamanan pangan mengancam suatu wilayah, maka stabilitas kawasan lain juga akan terancam.
Diperlukan pendekatan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan dalam menghadapi masalah tersebut. Bantuan pangan memang sangat penting, tetapi solusi dan pendekatan jangka panjang yang menekankan pemberdayaan lokal dan keadilan structural juga sama pentingnya. Negara maju yang selama ini mendominasi pasar pangan global perlu membuka akses teknologi mereka, memperluas kerja sama terkait riset pertanian, dan juga menghapus kebijakan perdagangan yang merugikan negara berkembang dan negara miskin. Hal ini dapat menciptakan wujud dari human security, di mana keamanan tidak lagi diukur dari seberapa hebat dan seberapa banyak kekuatan militer suatu negara, melainkan dari kemampuan negara untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Pada akhirnya, keamanan pangan adalah wujud kemanusiaan dari politik internasional, dalam setiap butir beras dan gandum tersimpan makna solidaritas global. Dunia yang damai bukanlah dunia tanpa perang, melainkan dunia dimana tidak ada manusia yang lapar. Selama masih ada wilayah yang berjuang seperti Afrika Timur untuk bertahan hidup, maka misi perdamaian global belum benar-benar tercapai. Tugas kita sebagai generasi muda dan warga dunia adalah untuk memastikan perjuangan melawan kelaparan menjadi bagian dari perjuangan menjaga perdamaian.
