Menyoal Taktik dan Strategi pada Laga Real Madrid vs Bayern Muenchen

Pandit abal2 Sepak Bola , Tarot Reader, Madridista, Pemain DOTA 2 role Support :),
Tulisan dari Daniel Simanullang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: zona heat map via whoscored
Laga semifinal yang mempertemukan Real Madrid dengan Bayern Munchen memiliki sebuah kesan tersendiri bagi saya. Secara garis besar saya melihat duel ini merupakan pertarungan manajer masa kini dengan manajer generasi 2000-an. Pendekatan permainan, visi, dan aspek taktik dan strategi kelas wahid mewarnai laga tersebut.
Mungkin terlihat membosankan dan tidak seperti harapan, namun jika Anda perhatikan dengan saksama, apa yang dihadirkan 2 manajer tersebut layak menjadi pembelajaran dan kita kuliti lebih dalam. Namun seperti pada laga leg-1 yang saya katakan sebelumnya. Pendekatan mutlak dari 2 tim ini harus dibedakan.
1. Real Madrid TIDAK menghadirkan hal-hal yang menonjol pada setiap pemain. Tim harus menyatu dan cair.
2. Bayern Munchen HARUS mengupayakan aspek individu dari tiap sisi terkhusus Ribery dan Alaba. Lewy dan Muller diharapkan jadi penyelesaian dari usaha dan kerja keras dua nama pertama yang saya sebutkan.
Bagaimana Jupp Menyikapi Real Madrid?
Jupp sadar bahwa skor 2-1 masih memberi harapan bagi timnya karena bukan tidak mungkin skor 1-2 bisa juga hadir pada laga tersebut yang membuat timnya memiiki nafas untuk memaksa perpanjangan waktu. Komposisi yang Jupp hadirkan menjadi gambaran percaya diri bahwa anak asuhnya akan berbicara banyak pada laga ini mengingat lini belakang Real Madrid tidak mendukung untuk core taktik Zidane karena absennya Cavajal.
Jupp meraba jalan pikiran Zidane dengan mengasumsikan akan memainkan Nacho untuk mengisi slot Cavajal. Hal yang lumrah baik bagi Juup dan juga khalayak sepak bola dunia.
Tidak Mengkotomi Duet Alaba dan Ribery
Oleh Jupp filosofi “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala” dengan harapan Nacho akan mengisi pos sisi kanan pertahan Real Madrid seperti yang ia asumsikan.
Jika Alaba dimainkan di sisi kiri dan Ribery dipindah untuk bermain di sisi kanan, meskipun Ribery kompeten dan pasif beroperasi di area tersebut, aspek kekuatan Munchen akan terbagi. Jadi oleh Jupp, konsep permainannya adalah memaksimalkan Alaba dan Ribey di tengah abesennya Carvajal.
Sisi kanan diserahkan kepada Kimich untuk bermain gila-gilan dan jual beli serangan dan pertahanan dengan Marcelo. Secara pribadi, Kimmich dan Marcelo pada pertandingan ini sangat brutal dalam overlap dan serangan sehingga terkadang banyak menilai bahwa aspek pertahanan dari kedua tim pada dasarnya rapuh oleh 2 pemain agresif ini pada pertandingan.
Muller dan Lewy dengan kualitas finishingnya diharapkan mampu memberi perubahan bagi tim, Kimmich dan Muller saling bahu membahu sedangkan Lewy menjadi bigman untuk Varane dan Ramos sekaligus memaksa Varane dan Ramos untuk out of position demi memberi ruang bagi lini kedua Munchen lewat Muller sang Penaksir ruang.
Untuk lini belakang, Matt Humels dan Sule diharapkan membuat Ronaldo mandul dengan menempel Ronaldo dan memaksanya untuk menjemput bola. Lini belakang Munchen juga memaksa agar Ronaldo selalu lebih dekat dengan lini tengah Real Madrid guna meminimalisir potensi bahaya lewat kecepatan Ronaldo.
Jadi Taktik Jupp dapat kita bagi menjadi beberapa bagian dalam satu gambar berikut

Taktik Juup

Gambar: Asumsi Jupp atas taktik Real Madrid
Counter Taktik Zidane yang Layak Dianalisis
Sadar bahwa Munchen memiliki motivasi dan keunggulan di sisi kanan pertahanan Real Madrid dengan absennya Carvajal, Zidane membuat hal mengejutkan namun masuk akal.
“Biarkan musuhmu seolah-olah tahu keadaanmu, namun berikan kejutan yang bahkan khalayak pun tidak akan pernah memperkirakannya.”
Mungkin itu yang yang ada dalam pikiran Zidane kala harus menghadapi pemikiran Jupp. Zidane membiarkan Jupp menelaah dan membaca kemungkinan permainannya, namun memberi sentuhan kejutan lewat Vazquez dan Modric untuk menghadapi Alaba dan Ribery di posisi core taktik Juup.
Bayangkan betapa gilanya pemikiran ini, bahkan saya sendiri tidak peranah menyangka jika Vazquez menjadi bek kanan dadakan saling bahu membahu bersama Modric guna menahan dan meladeni Ribery dan Alaba di posisi natural mereka.
Determinasi adalah Koentji
Sebelum saya menjelaskan lebih jauh mengenai bagaimana jalannya duel taktik tersebut, saya akan menjelaskan apa yang menjadi modal Zidane dengan keberaniannya memadukan Modric dan Vazquez guna menghadapi Ribery dan Alaba. Satu kata yang menjadi perhatian adalah determinasi.
Masih ingat namanya Dirk Kuyt, ya meskipun dia adalah penyerang, namun pada dasarnya kala meraih kejayaan di Liverpool dan Feyenord pada musim terakhirnya, Kuyt adalah pribadi penuh determinasi dalam setiap pergerakan. Kuyt adalah bentuk kekinian pemain beratribut menyerang namun memiliki tugas sebagai pemutus serangan awal tim lawan. Pada masa lalu yang kesohor dengan tugas ini salah satunya adalah Mario Zagallo. Komposisi tim Brasil kala itu membuat kerapuhan di sisi sayap Brazil karena determinasi menyerang sosok Gariccha dan Zagallo. Oleh karena kebuasaan sisi kanan Brazil kala menyerang pada seorang Gariccha, maka Zagallo mengubah determinasi menyerangnya menjadi determinasi bertahan.
Memang ada yang dikorbankan karena sisi kiri Brazil menjadi tumpul kala menyerang, namun hal ini meminimalisir rapuhnya sisi pertahanan Brazil kala itu, jika sebelumnya sekotr terlemah Brazil adalah 2 sisi, maka peran perubahan determinasi Mario Zaggallo kali ini menjadikan sisi kanan Brazil menjadi pos yang harus ditutup dan koleganya pada saat itu bisa dengan nyaman untuk mengatasi hal tersebut.
Demikian pula pola yang dihadirkan Zidane yang bermuara pada pertanyaan , “ Kenapa bukan Nacho, kan dia bisa bermain di setiap pos pertahanan Real Madrid?”
Nacho bukan pemain yang bagus tetapi bukan juga pemain yang buruk, sudah menjadi hal lumrah jika seorang pemain yang dibiasakan multifungsi pada setiap jangka pendek tidak akan memiliki aspek menonjol, karena atribut menonjol dari seorang pemain diolah berdasarkan proses jangka panjang.
Nacho menghadapi Ribery dan Alaba yang memiliki kecepatan, dribel,dan pace mumpuni. Bagi Nacho, tipikal 2 pemain ini adalah mimpi buruk baginya karena Nacho tidak memiliki kecepatan, decision making yang buruk jika dalam tekanan yang mampu menghadirkan blunder.
Vazquez dan Modric sekali lagi bermain cukup apik pada pagi itu karena mampu membuat 2 pemain terbaik Munchen pada posisi aslinya harus kewalahan, karena determinasi.
Memang dapat diakui jika sisi serangan Real Madrid dari sisi kanan menjadi tumpul, namun itulah hal yang paling logis Zidane lakukan. Memaksimalkan determinasi Vazquez dan Modric dan menyerahkan aspek serangan dari sisi lainnya.
Wajar bila sisi Marcelo menjadi sisi paling rapuh pada pertandingan itu karena Marcelo memiliki tanggung jawab serangan karena sisi lainnya yang merupakan core taktik Zidane tidak bisa dipaai karena Vazquez dan Modric berperan untuk meladeni Ribery dan Alaba.
Tidak mengherankan 2 goal Munchen berawal dari posnya karena 2 alasan.
1. Kovacic dan Kroos berpadu menhadapi lini tengah Munchen guna tidak berkreasi dengan apik.
2. Area gerak Kovacic hanya berpusat pada zona tengah Real Madrid baik untuk menyerang, bertahan, bola kedua, maupun drive.
Namun tidak mengherankan juga jika 2 goal Madrid ke gawang Munchen juga berawal dari pos Marcelo dan ini terdiri dari 2 alasan.
1. Marcelo mampu menginisiasi dan mengampil peluang baik umpan maupun pergerakan karena Kimich out of the position.
2. Area gerak gelandang Munchen hanya berfokus untuk membantu Ribery dan Alaba yang tidak disangka begitu kerepotan dengan aksi Vazquez dan Modric.
Ketika Kovacic keluar, maka perlu Casemiro guna menjangkau wilayah lapangan untuk bertahan. Area covering Casemiro lebih luas, zona flank (terkhusus wilayah Marcelo), zona tengah guna mengimbangi munchen yang pada fase late game memainkan high defensif line, dan tidak dituntut unutk bergerak lebih dalam ke zona pertahanan lawan seperti yang Kovacic lakukan karena itu sangat berbahaya pada fase tersebut.


Gambar: Taktik Zidane ver Kovacic dan Versi Casemiro
Hal luar biasa ditunjukkan Benzema dengan 2 golnya yang mana diawali oleh umpan Marcelo di SISI KIRI REAL MADRID yang notabene area Kimich
Dan taktik high pressing di SISI KIRI REAL MADRID yang notabene area Kimich.
Asumsi Jupp berjalan dengan baik seolah olah dia mengetahui apa yang Zidane pikirkan.
Namun Jupp tidak pernah menyangka bahwa ternyata ada 1 point yang menjadi titik kritis asumsinya jauh dari jangkauan.
Vazquez dan Luka Modric dengan determinasinya mampu mengimbangi dan meladeni Ribery dan Alaba pada posisi asli anak asuhnya.
Luar biasa seorang Zidane dan layak diapresiasi.
Kredit khusus buat lini pertahanan Real Madrid terkhusus Navas yang mampu menjawab tantangan jika beliau layak disandingkan sebagai salah satu kiper kelas dunia.
Penutup
Dari pembelajaran ini dapat kita ambil kesimpulan yang menarik, determinasi dan mengubah cara pandang adalah salah satu kunci bagaimana mengubah kekurangan dalam tim guna tetap memaksimalkan potensi-potensi terbaik dalam tim sekalipun ada yang dikorbankan.
