Pencarian populer

Catatan 2 Dekade Menjadi Seorang Madridista

Fernando Redondo (pinterest.com)

Perkenalkan saya yang merupakan seorang anak desa yang mengenal Real Madrid dari pertandingan yang disiarkan oleh tivi tetangga saya yang kaya. Kala itu saya melihat cuplikan pertandingan sebuah klub yang kita kenal sekarang yakni Real Madrid.

Tumbuh dan besar di lingkungan TVRI membiasakan saya akrab dengan Liga Jerman atau Liga Italia atau Liga Inggris (era kejayaan Liverpool).

Namun entah kenapa nama-nama besar kala itu seperti Bayern Munchen, Milan, atau Liverpool tidak membuat saya serius untuk menabalkan diri sebagai salah satu fans noob klub-klub tersebut.

Justru ketika melihat siaran telivisi tetangga diri ini langsung jatuh hati kepada Real Madrid. Ironis sekali, kamu jatuh cinta pada situasi yang aneh, tapi yang namanya cinta segala keanehan dan ketidakmasukakalan adalah bentuk yang mengikutinya.

Saya makin menggandrungi kala melihat dua orang berpenampilan klimis di Real Madrid pada musim 1997/1998. Penampilan yang terjaga selayaknya parlente di lapangan sepak bola tersemat pada dua orang ini, yang ke depannya salah satunya saya anggap sebagai penjelmaan Dewa Anggur, Dionisos, yang turun ke dunia sepak bola.

Dia adalah Fernando Redondo yang di mata saya permainan yang ia tampilkan seolah-olah jamuan pesta yang memabukkan. Perasaan tersebut mendatangkan kegilaan yang dengan ikhlas saya ikuti karena sangat menyenangkan. Satu lagi pria klimis itu lebih identik di tanah Roma, Panucci, anak kesayangan Capello.

Menjadi Madridista adalah pelengkap anomali diri saya di dalam keluarga. Saya adalah satu-satunya kidal di dalam keluarga yang notabene ayah-ibu dan saudara-saudara saya adalah para right handled. Saya adalah satu-satunya di keluarga yang merupakan pecinta sepak bola baik secara tontonan dan juga praktisi.

Saudara saya yang laki-laki cenderung hanya menyukai tontonan dibandingkan menjadi ambil bagian dalam permainan. Madridista menjadi pelengkap diri saya sebagai bentuk anomali di mana empat saudara saya adalah seorang cules sejati.

Menjadi salah satu pendukung klub yang tergabung dalam G7 sepak bola dunia ini selama 20 tahun sudah memberikan saya berbagai hal. Dari Real Madrid, saya bisa mengenal banyak orang dan ambil bagian dalam event-event tertentu yang membawa nama Real Madrid atau sepak bola secara umum.

Anda juga harus menempatkan diri dengan baik ketika ada momen menyebalkan ketika menjadi menjadi pendukung Real Madrid. Pada suatu momen saya bisa muak dengan Real Madrid seperti pada era rezim Lopez Caro, Queroz, Lopetegui, atau Benitez. Bahkan saat-saat seperti itu,hal-hal yang tampak di layar kaca dan di forum begitu tidak menarik untuk dibahas.

Mungkin Anda pernah merasakan betapa senewennya saya ketika melihat berita di media dipermalukan oleh Alcorcorn dan melakukan tindakan bodoh ketika pelatih memainkan pemain yang di-suspend.

Namun pada suatu momen ada rasa penasaran dan antusias sekalipun babak belur dan mungkin jadi bahan ejekan di lingkungan sosial atau keluarga karena performa Real Madrid yang seperti klub PSMS yg sering latihan di Stadion Mini USU. Momen seperti ketika dibawah kepelatihan Jupp, Del Bosque, Mou (edisi waras), Capello, Ancelotti, Zidane bahkan Pellegrini

Hal-hal di atas tentu juga akan selalu diselingi dengan bagaimana uniknya Real Madrid di tangan pelatih Senin-Kamis di Real Madrid seperti Camacho, Schuster, atau Luxemburgo yang secara literal melatih Real Madrid Senin-Kamis (ah momen kecoak Brazil itu memang menyebalkan)

Dalam dua dekade tentu ada hal-hal yang menarik untuk saya bagi kepada Anda dari sisi saya sebagai seorang Madridista, berikut saya tuliskan.

Pertandingan Paling Menarik?

Real Madrid (Foto: Toru Hanai)

Jika Anda menanyakan kepada saya dalam kurun waktu dua dekade, pertandingan mana yang paling menarik bagi saya sebagai Madridista, maka pertandingan Final UCL 1997-1998 adalah pilihan pertama saya dari sekian banyak pertandingan dan momen luar biasa yang terekam dalam ingatan saya.

Real Madrid meraih gelar UCL ke-7 mereka pada musim 1997-1998 kala mengalahkan Juventus pada laga pamungkas yang dihelat di Amsterdam Arena. Berkesan pada saya karena pada saat itu Real Madrid dihuni pemain-pemain paling biasa dan jauh dari kata galaticos yang selama ini identik dengan Real Madrid.

Sedangkan Juventus pada saat itu merupakan salah satu tim Eropa terbaik dengan motor serangan yang mereka miliki, Zidane.

Cuplikan pertandingan tersebut bahkan menjadi salah satu pertandingan favorit saya. Pertandingan kala itu bagi saya adalah pertandingan kelas dunia di mana Redondo yang mewakili pemain bertahan dengan kemampuan motor pertandingan vs Zidane yang mewakili pemain menyerang dengan kemampuan motor pertandingan.

Dengan kata lain, pertandingan tersebut adalah pertarungan alami DM VS AM. Pada pertandingan setiap detail adalah kunci mulai dari pergantian pemain sampai bagaimana menyelesaikan guliran dan penempatan bola. Tidak dapat dipungkiri bahwa pertandingan tersebut di belakang layar juga merupakan uji strategi antara Juup Heynckes vs Lippi.

Terkadang ketika ingin mengetahui hal-hal baru dalam perkembangan taktik dan strategi sepak bola terkhusus Real Madrid, pertandingan ini adalah salah satu rujukan saya dan menyaksikan ulang pertandingan tersebut merupakan kesenangan tersendiri bagi saya.

Pertandingan tersebut bagi beberapa Madridista seperti saya juga merupakan pertandingan spesial karena menghapus dahaga gelar UCL yang telah ditunggu selama lebih dari 30 tahun.

Pemain Idola?

Madrid saat merayakan gelar juara La Liga. (Foto: Paul Hanna/Reuters)

Fernando Redondo merupakan pemain yang saya idolakan sejak pertama kali melihat Real Madrid. Bahkan saya sampai sekarang selalu kagum dengan kemampuan salah satu pemain yang mampu membuat Real Madrid menangis kala tahta juara harus lepas dari tangan kala Redondo membela Tenerife. Redondo sendiri bagi publik Real Madrid dan juga Argentina memiliki kisah dan kontroversi tersendiri.

Reputasi Redondo di Real Madrid bagi saya layak di tempatkan pada tempatnya sendiri, Anda tidak akan setiap musim melihat pemain seperti ini, seorang pemain beratribut bertahan yanga mempunyai gocekan luar biasa untuk melindungi bola dan penetrasi unik ke area pertahanan lawan.

Bahkan seorang manager legendaris seperti Sir Alex Ferguson memiliki kutipan spesial tersendiri mengenai pria yang merupakan jebolan Argentinos Juniors tersebut.

Pasca-Redondo pensiun tidak ada pemain yang sukses meneruskan tongkat estafet gaya bermainnya baik di Real Madrid maupun di dunia saat ini (bagi saya).

Mungkin yang paling mirip adalah Xabi Alonso yang kebetulan pada waktu muda sudah disarankan oleh Redondo agar dibeli Real Madrid sebagai suksesornya, namun suksesor ini baru terealisasi setelah beberapa next Redondo di Real Madrid seperti Gago, Gravesen, atau Pablo Garcia gagal di Real Madrid.

Seperti yang saya katakan bahwa bagi saya Redondo adalah inkarnasi Dewa anggur dan pesta di lapangan sepak bola. Angggur dan pesta yang ia sajikan sangat memabukkan dan semua itu tidak jarang bermuara pada kegilaan yang baru sadar efeknya kala anggur dan pesta itu telah usai.

Ketika Redondo harus terpinggirkan karena cidera dan pakem permainannya tidak bisa diakomodasi oleh rekannya di Real Madrid, saat itulah saya sadar bahwa pesta telah usai.

Tidak ada lagi pesta seperti yang akan Redondo sajikan. Saat melihat lini tengah Real Madrid yang begitu tidak nyaman dengan kondisinya setiap musim berjalan terkadang terlintas pikiran “coba kalau ada Redondo di sana” yang notabene saya akui adalah residu anggur pesta yang pernah Redondo sajikan kala masih berada di Real Madrid dua dekade lalu.

Bagaimana Dengan Skuad Impian?

Jika saya sudah menyaksikan Real Madrid sejak era Puskas sampai era Butragueno, mungkin nama nama seperti Gento, Rial, Munoz, atau Stefano akan hadir dalam skuad impian versi saya, namun itu tidak mungkin karena pemain-pemain yang kirpahnya saya saksikan lebih relevan untuk dimuat dalam skuad impian saya.

Kiper: Iker Casillas

Iker Casillas sebelum bertanding melawan Galatasaray. (Foto: Reuters/Murad Sezer)

Terlepas kontroversi orang rumah dan perseteruan yang ia lakukan pada penghujung kariernya, Casillas merupakan pilihan pertama bagi saya untuk menjaga di bawah mistar gawang Real Madrid, penyelamatan legendarisnya seperti pada laga lawan Sevilla adalah bukti kuat bahwa kualitas Casillas yang konon bagi beberapa pengamat termasuk kiper yang luar biasa dalam aspek refleks namun bernilai biasa untuk atribut kiper secara umum.

Bek Tengah: Hierro dan Cannavaro

Pelatih Guangzhou Evergrande, Fabio Cannavaro. (Foto: Alexander Nemenov/AFP)

Hierro dengan tampang sangar dan torehan goalnya merupakan sosok intimidatif yang sekian lama mengawal lini pertahanan Real Madrid, tentu kombinasinya dengan Cannavaro yang cerdas dan elegan merupakan hal menarik.

Gol-gol Real Madrid juga bisa datang dari kaki Hierro yang catatan goalnya termasuk luar biasa untuk ukuran bek tengah dan juga Cannavaro yang tinggi lompatannya termasuk cerita legenda di kalangan bek tengah berukuran mini.

Mungkin kiprah Cannavaro di Real Madrid sudah memasuki usia senja namun bagi saya performa yang ia tunjukkan kala mengawal lini pertahanan Real Madrid adalah salah satu hal yang luar biasa.

Bek Kiri: Roberto Carlos

Ronaldo & Roberto Carlos di latihan Timnas Brasil. (Foto: AFP/Antonio Scorza)

Nama Roberto Carlos tentu tidak usah diperdebatkan lagi untuk mengisi lini ini. Determinasi dan tendangan gledeknya juga bisa membantu argo goal Real Madrid.

Bahkan Camacho yang selalu bermain tanpa dekker dan begitu menggilai berduel dengan Maradona harus antri di belakang Roberto Carlos jika harus memperebutkan posisi bek kiri terbaik Real Madrid sepanjang masa versi saya, meskipun umpan silang Roberto Carlos tidak seindah kompatriotnya, Marcelo, bagi saya itu tidak masalah karena terkadang umpan silangnya bisa menjadi goal.

Bek Kanan: Sergio Ramos

Sergio Ramos merayakan gol ke gawang Leganes. (Foto: Reuters/Susana Vera)

Kenapa Sergio Ramos? Bukankah nama Salgado atau Carvajal lebih efisien mengisi sisi tersebut? Bagi saya Sergio Ramos adalah bek kanan paling kuat yang pernah memeperkuat Real Madrid terutama dari segi daya tahan tubuh. Sejak lama saya melihat nama-nama yang wara-wiri mengisi pos ini, poin kritikalnya adalah aspek daya tahan tubuh dalam mengarungi musim berjalan.

Tidak jarang di masa lalu ketika Salgado cidera, titik ini menjadi posisi paling rapuh yang harus dicarikan jalan keluarnya oleh para pelatih sehingga kita pernah mendengar nama Raul Bravo, Miguel Torres, bahkan Carlos Diogo menghuni lini ini.

Gelandang: Makelele, Redondo, Zidane, Kroos

Gol spektakuler Zidane di Final UCL. (Foto: AFP/Damien Meyer)

Kombinasi pemain ini sangat menarik bagi saya, Makelele sebagai filter, Redondo sebagi motor serangan dari area kanan lawan, Zidane di sisi kiri, dan Kroos sebagai penjaga aliran bola akan mempertunjukkan bagaimana kombinasi luar biasa dari gelandang kelas dunia berbagai tipe.

Striker: Raul dan Cristiano Ronaldo

Raul Gonzales, the legend (Foto: Footballs Top Ten)

Perpaduan dua pemain bertalenta paling diremehkan di dunia sepak bola dan bertalenta luar biasa berkemampuan monster akan menjadi momok menakutkan bagi kiper dan bek-bek lawan.

Raul adalah salah satu stiker paling diremehkan di dunia karena kemampuannya sebagai seorang striker tidak terlihat sama sekali, namun ketika sudah hadir di lapangan semua penilaian itu akan luntur.

Pernyataan ini bukan tanpa dasar mengingat reputasinya ketika bermain mampu mencatatkan diri sebagai pencetak goal terbanyak sepanjang masa dalam beberapa dekade di gelaran UCL sebelum dipatahkan oleh Cristiano Ronaldo.

Mungkin pernyataan saya mengada-ngada. Anda mungkin akan percaya bila seorang Rio Ferdinand menyatakan nada yang sama dan memang Ferdinand menempatkan Raul sebagai striker nomor satu yang ia takuti.

Bagaimana dengan Cristiano Ronaldo? Tentu goal dan capaiannya sebagai seorang ujung tombak Real Madrid sudah menjadi jawaban saya bagi Anda kenapa memilih pria Madeira ini. Raul yang rendah hati merupakan tandem yang cocok dengan Cristiano Ronaldo sang spot light.

Pelatih: Juup Hyeckness

Pemilik julukan “Si Merah” dan “Sang pemberang dari timur” ini akan cocok mengatasi nama-nama besar di dalamnya. Pria yang tidak ragu melawan intimidasi reputasi pemain merupakan pelatih yang pas untuk menjadi juru taktik dan juru komunikasi tim impian saya ini dan di sisi lain Juup juga bersikap rendah hati kala kesalahannya dikoreksi.

Dua dekade adalah masa yang masih singkat untuk menyatakan diri ini adalah seorang Madridista sejati karena masih banyak yang jauh melampaui apa yang telah saya capai.

Apa yang sudah saya lewati terkadang sepintas lalu mengilhami saya untuk berencana menyematkan nama salah satu pemain Real Madrid di tengah nama anak saya nantinya.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61