Pencarian populer

Kelas Taktik Edisi Final UCL 2018: Real Madrid VS Liverpool

Gambar: Bagaimana bentuk awal dari skema utama kedua pelatih.

Gegenpressing Kloop VS Keberanian Zidane dengan 442

Sebelum pertandingan, banyak media dan juga prediksi yang mengatakan bahwa Liverpool akan berbicara banyak dan mungkin mencatatkan sejarah baru di helatan UCL tahun ini. Prediksi ini makin diperkuat oleh berbagai ilmu cocokologi yang kebetulan hadir pada momen yang tepat. Namun, oleh Real Madrid di helatan UCL, mematahkan berbagai mitos sepertinya sudah tradisi.

Pertandingan kemarin adalah hal yang krusial bagi Liverpool di bawah asuhan Kloop mengingat jalur mereka sampai babak final terlihat “ringan” dibandingkan Real yang Madrid yang di fase krusial menghadapi jawara-jawara di liga domestik yakni PSG, Bayern Munchen, dan juga Juventus.

Tentu hal ini dari kacamata saya sangat “fair” mengingat Liverpool dengan materi yang dia miliki wajar dan layak berduel dengan tim-tim yang ada pada grupnya. Praktis hanya Manchester City yang membuat mereka sesak nafas.

Perbandingan palagan menuju laga final tersebut layak juga jadi acuan mengingat berbagai fase mampu membuat mental tiap pemain mampu terbiasa.

Jika dibandingkan komposisi pemain Liverpool dengan Real Madrid yang berpengalaman pada laga bertensi tinggi dalam helatan UCL, praktis nama-nama yang menghuni starting line up sudah memiliki pengalaman di palagan UCL yang atmosfernya luar biasa, sebut saja Ramos dan Cristiano Ronaldo, sedangkan Liverpool hanya sosok Kloop yang merasakannnya.

Bagaimana critical point gegenpressing ala Kloop menjadi kartu mati pada laga tersebut?

Gegenpressing bagi beberapa orang seperti barang baru karena atraktifnya pola permainan yang diberikan, namun jika merujuk pada sejarah perkembangan taktik dan strategi sepak bola, hal mengenai gegenpressing bukan sesuatu yang baru.

Gegenpressing Memiliki Beberapa Varian:

1. Berorientasi pada Bola

Gegenpressing ini mengedepankan aspek penekanan lawan pada posisi bola. Gegenpressing ini pernah diaplikasikan oleh oleh Belanda di bawah komando lapangan sang maestro Johan Cruyff. Anda bisa melihat kegilaan yang dipertunjukkan gegenpressing ini di youtube dengan kata kunci “Netherlands Hunting For the Ball.”

Pada cuplikan tersebut anda akan melihat bahwa lawan yang menguasai bola akan diserang dan diburu oleh banyak orang dari tim Belanda sembari menjaga garis offside di daerah diri sendiri.

2. Berorientasi pada Orang

Gegenpressing ini adalah ciri khas Jupp Heynckes, sang guru dari Bavaria ini menunjukkan ciri khas penekanan pada lawan yang menguasai bola melalui orang paling dekat pada area bola tersebut. Pada saat menyerang, aspek gegenpressing-nya secara sistematis bagi para pemainnya yang tanpa bola akan langsung menyerang lawan yang berpotensi memutus serangan.

Hal ini sangat tampak ada laga Munchen melawan Barcelona saat Bayern meraih treble, di mana saat Robben sedang memegang bola dan bersiap menciptakan peluang, ada sosok Jordi Alba yang ingin menutup pergerakannya, namun sosok Muller hadir menetralisir Alba. Saat bertahan hal ini tampak jelas dengan tetap bertugasnya sosok striker untuk menekan lawan kala para bek menguasai bola.

3. Orientasi Garis Passing

Ini sangat unik karena pressing yang dilakukan dengan menekan lawan lewat aspek garis passing.

Artinya saat bertahan, opsi-opsi garis passing menjadi fokus untuk diputus, sedangkan saat menyerang, aspek passing akan melindungi bola guna menciptakan peluang. Ini seperti gambaran bagaimana benda berharga yang akan dipindahkan ke suatu wilayah dengan bergerak secara sistematis dilindungi oleh sosok yang berkoordinasi dengan baik.

Pernahkah Anda melihat Pep Guardiola lewat ciri khas nya ini, menghujani gawang lawan dengan goal sembari memperlakukan bola seperti sebuah benda berharga yang bergerak secara terstruktur oleh para pemainnya sebelum dimasukkan ke dalam gawang, inilah gegenpressing ala Pep.

Secara umum saya melihat ini sebagai bentuk lain dari bagaimana seorang tawanan politik atau sandera dikawal oleh tentara elite sampai menuju target yang ditentukan, berbagai kemungkinan halangan langsung dinetralisir dengan perpidahan yang elegan.

4. Gegenpressing ala Kloop

Dibandingkan dengan gaya gegenpressing di atas, Kloop dengan gegenpressing ala dirinya memiliki 3 poin utama yang saya lihat menjadi core bagi taktiknya.

1. Hanya bisa berjalan jika lawan memegang bola.

2. Saat bola berhasih direbut kembali oleh pemain Kloop, setiap pemain harus siap untuk mengalirkan bola tersebut dengan 2 pokok muara.

• Efisien untuk menghasilkan goal atau peluang goal.

• Mampu menghidupkan gegenpressing saat aliran bola itu berhasil diputus oleh lawan.

3. Setiap pemain harus memiliki daya tahan tubuh luar biasa guna mampu melakukan poin-poin di atas baik dari stamina maupun recovery kondisi.

Namun sebagaimana taktik yang berkembang dalam dunia sepak bola, gegenpressing ala Kloop memiiki poin krusial yang harus dibahas, mengingat apa yang terjadi pada laga final ini. Banyak yang tidak menyadari bahwa di Dortmund, Kloop dengan gegenpressing-nya terbantu oleh Kagawa dan Nuri Sahin.

Memang secara umum gegenpressing tidak memerlukan sosok playmaker secara menonjol, sebab setiap pemian harus diupayakan mampu mengambil tugas dan tanggung jawab sebagai seorang playmaker. Namun, jika dalam tim ada sosok beratribut playmaker, bagi Kloop adalah sebuah nilai tambah yang mampu menghasilkan opsi serangan lebih variatif.

Hal ini secara jelas tampak ketika Kloop kehilangan Countinho, praktis Kloop tidak terlihat secara brutal untuk melihat suksesor Countinho di lini kreatif Liverpool. Alih-alih malah Kloop memproyeksikan para pemain agar bermain secara efektif guna melindungi trio Fir-Man-Sa.

Padahal jika melihat komposisi pemain yang ada pada skuad Liverpool, sosok Wijnaldum dapat diproyeksikan menjadi suksesor Countinho mengingat di Feyenord dan Newcastle, nama Wijnaldum meroket pada sisi kreator serangan yang bebas berkreasi.

Sepanjang musim sejak Kloop masuk dan diperkuat oleh salah, apa yang menjadi core taktik dan strategy Kloop adalah beberapa poin berikut.

1. Mane pada suatu kondisi akan turun ke lini tengah dan bertindak seperti apa yang dilakukan oleh Silva di City atau Hazard di Chelsea dengan pendekatan off the ball dan juga mengisi ruang yang ditinggalkan Firmino kala menarik bek lawan dan memberi ruang bebas untuk cut inside bagi Salah.

2. Salah diharapkan dengan kecepatannya mampu membatalkan garis offside.

3. Setiap lini akan memberi umpan pada salah satu dari trio Fir-Man-Sa dengan melihat peluang gol dan juga gegenpressing yang auto on kala umpan itu diputus.

Tak peduli siapapun pengisi lini tengah atau belakang, bagi Kloop, selama Mane, Firmino, dan Salah masih ada di lapangan, maka ia akan mengambil segala kemungkinan yang memberi keuntungan bagi Liverpool.

Keroposnya lini belakang Liverpool adalah salah satu masalah krusial, namun sejak Virgil van Dijk datang, lini ini menjadi luar biasa, sangat jarang pemain belakang yang langsung turn on bagi timnya. VVD luar biasa mengawal lini belakang Liverpool, hanya saja dia memiliki duet yang menjadi beban bagi dirinya sendiri, sehingga pada kebanyakan momen, seorang VVD akan selalu menunggu di kotak 16 sembari menginstruksikan duetnya agar menjadi tukang gasak untuk menggasak lawan.

Berbeda dengan duet Ranmos dan Varane yang kepaduannya mampu memberi kepercayaan satu sama lain untuk bertanggung jawab kala pos ditinggal salah satu pemain untuk menutup ruang atau melakukan gasakan.

Ini yang tidak ada pada lini belakang Liverpool, VVD menganggap duetnya malah menjadi beban karena area covering yang harus ia pertanggungjawabkan juga harus ekstra, yakni area tanggung jawab duetnya.

Anda bisa melihat bahwa inilah skema paling utama bagi seorang Kloop dengan gegenpressing-nya, tidak peduli siapa yang akan melengkapi nama di atas, asal 4 nama di atas hadir, maka skema Kloop akan berjalan dengan baik.

Jalan Pikiran Zidane dan Rencana-rencana yang Tak Tercatat Statistik Umum

Zidane mungkin sudah mengetahui pakem apa yang harus ia lakukan di UCL, tinggal bagaimana melihat komposisi yang akan dilakukan oleh Klop dengan Gegenpressing-nya.

Toh semua orang sudah sepakat bahwa Kloop tidak memiliki pakem istimewa soal optimalisasi seorang pemain beratribut playmaker seolah tipikal pemain ini agak haram bagi Kloop, jika memang ada tidak apa-apa anggap saja menjadi bonus.

Tidak terlalu banyak analisis yang saya berikan soal bagaimana seorang Zidane dalam aspek taktikalnya. Kuncinya adalah bagaimana mengontrol pertandingan dengan membuat para pemain Liverpool sampai pada batas kelelahan dan menihilkan potensi auto on gegenpressing kala Real Madrid kehilangan bola.

Juga bagaimana mem-bonsai Mane karena masalah mendasar bagi Real Madrid bukan keberadaan Salah, namun bagaimana daya jelajah Mane yang mampu berubah seperti yang saya jelaskan di atas akan menjadi sosok playmaker semu ala Hazard atau Silva.

Real Madrid vs Liverpool (Foto: Andrew Boyers/Reuters)

Menurunkan Isco sebagai pemain awal merupakan pilihan yang patut untuk dikaji, terlepas begitu banyak salah passing dan juga gocekan dan dribble yang mungkin terlihat tidak berguna, apa yang Isco berikan lewat totalitas daya jelajahnya di tiap lini berhasil membuktikan bahwa sosok Isco sebagai pemilik keeping ball kawakan di skuad Real Madrid saat ini harus disikapi secara serius bagaimana fungsi dan variasinya dalam konsep taktik dan startegy.

Isco dengan daya jelajahnya sebelum ia digantikan Bale berhasil menjadi pemain yang membuat pemain-pemain Liverpool lebih cepat mengalami kelelahan. Mane, Arnold, Robertson, dan Firmino harus berjibaku dengan luar biasa guna menutup pergerakan dari Isco.

Di sisi lain Kroos menjadi gelandang yang mengarahkan bola ke area seluruh lapangan dengan tugas yang sangat baik, meskipun tidak seperti biasa dia dilindungi oleh Modric yang harus berjibaku guna membantu Nacho. Kroos dengan sentuhan dan penampilan yang tenang begitu nyaman mendikte permainan, sehingga setiap guliran bolanya tidak membuat gegenpressing Liverpool yang on berhasil secara optimal.

Satu hal kenapa Kroos begitu meraja di lini tengah adalah, tidak sigap dan tidak adanya sosok metronom dari lini Liverpool yang mampu bertugas dengan baik. Kloop membiarkan Kroos bermain dengan cair dan menyatu dalam tim Real Madrid sehingga oleh Kroos, trio lini tengah Liverpool hanya bekerja untuk menghabiskan stamina sendiri, bahkan pada suatu momen, ketidakberdayaan lini tengah tersebut harus ditolong oleh pergerakan Mane.

Heatmaps Isco ( Via whoscred.com)

Gambar: Bagaimana Isco menguras lebih cepat dan menunjukkan kelemahan gegenpressing.

Plan B yang Tidak Jelas dari Seorang Kloop

Kehilangan sosok Salah menjadi pukulan telak bagi Kloop, saya katakan di WAG bahwa Liverpool sudah kehilangan arah karena komponen utama yang satu kesatuan di taktik Kloop sudah tidak ada, masuknya Llalana tidak memberi efek berarti bagi Liverpool.

Buvac tidak ada lagi dalam jajaran asisten Kloop, sosok Buvac merupakan asisten Kloop yang memiliki sentuhan dinamis dan fleksibel ala gegenpresssing ala Kloop tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dengan Salah di Liverpool dan Carvajal di Real Madrid, Liverpool and Real Madrid begitu luar biasa dalam aspek determinasi. Namun, malapetaka untuk Kloop itu hadir.

Gambar: Nacho in, Isco out, Marcelo going mad, Mane free role

*Nacho menjaga kedalaman dan memaksa Mane mencoba mencari celah yang ditinggalkan Oleh Marcelo.

*Bale menghujani bek-bek dan gelandang Liverpool yang sudah terkuras energinya dengan kecepatannya.

Hasil akhir jelas karena kontrol luar biasa dari pemain Zidane, meskipun Carvajal hilang, opsi taktikalnya masih variatif meskipun tidak seperti biasnya.

Nacho menjaga kedalaman

Modric memaksa Mane melakukan free role.

Kroos menjadi tuan di lini tengah, seolah mengatakan bahwa Emrecan, Handerson, Wijnaldum, dan Llana perlu belajar lagi

Marcelo menggila seolah mengatakan bahwa ini adalah hariku, dan momen itu hadir saat Salah sudah keluar dan permainan Liverpool selesai.

Seperti kata pepatah bijak “ Tidak ada pesta yang tidak usai, setelah pesta selalu ada badai...maka Real Madrid harus bersiap menyongsong hal-hal baru pasca pesta dan keriuhan ini.”

Hala Madrid

Real Madrid Juara Liga Champions 2018 (Foto: LLUIS GENE/AFP)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: