Konten dari Pengguna

Neymar dan Mayor Arcana The Fool

Daniel Simanullang

Daniel Simanullang

Pandit abal2 Sepak Bola , Tarot Reader, Madridista, Pemain DOTA 2 role Support :),

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daniel Simanullang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Neymar dan Mayor Arcana The Fool
zoom-in-whitePerbesar

The Fool (buildingbeautifulsouls.com)

Perpindahan Neymar dengan sejuta kontroversi saat ini jadi sorotan. Bayangkan hanya untuk satu pemain yang tingkah polahnya tidak jauh berbeda dengan Justin Beiber dalam mencari pusat perhatian, federasi sepak bola Spanyol harus turun tangan demi menjaga marwah dan martabatnya. Namun apa boleh buat inilah pilihan Neymar (bapaknya juga kok).

Hal ini merupakan isu yang menarik dan berbagai pendekatan telah membahas Neymar ini. Menjadi menarik bila di tinjau dari sudut pandang tarot. Apa yang terjadi pada Neymar adalah gambaran sebenar-benarnya manusia. Jika orang menilai Neymar itu rakus, tamak, tidak tahu berterima kasih atau berbagai pergunjingan atas tindakannya ini maka itu hanya soal sudut pandang saja.

Neymar dan Mayor Arcana The Fool (1)
zoom-in-whitePerbesar

Efek pindahnya Neymar ke PSG (telegraph.co.uk)

Terlalu angkuh bila kita langsung melabeli Neymar dengan hal-hal di atas bahkan sampai menudingnya secara langsung. Sebuah tuduhan adalah bentuk lain dari standard yang berlaku pada diri kita.

Sebuah loyalitas itu cuma idealisme. Neymar memiliki tanggung jawab untuk memberi hidup yang layak bagi keluarganya. Loyalitas tidak dapat membeli sembako.

(sekedar intermezo, saya menjadi teringat akan salah satu kota di Jawa Barat yang Pemdanya tidak bisa menaikkan gaji penyapu jalan namun membela ketidakmampuan menaikkan gaji penyapu jalan dengan mengatakan kalau pekerjaan menyapu jalan banyak pahalanya. Emang Pahala bisa membayar token listrik dan juga harga garam dapur yang mencekik?)

Idealisme adalah sebuah bentuk yang hadir di dalam dunia impian yang kita bangun. Idealisme hanya akan hidup di langit sana dan ketika kita masih ada di bumi maka realita adalah bentuk yang kita hadapi.

Neymar Terlalu Populer dan Tidak Ada Antidotenya

Jika ditinjau dari skuad yang ada di timnas Brazil saat ini, keberadaan Neymar begitu menonjol dan mendominasi. Hal ini membentuk ego tersendiri yang hadir dalam lingkungan sosial dan juga bertanding.Coba kita lihat apakah ada pemain yang mampu mengalahkan bahkan mengimbangi popularitas Neymar di Brasil saat ini?

Itu adalah kondisi yang menyebabkan Neymar menjadi terbonsai ketika hadir di Barca, pendar kepopuleran yang ia dapat di Brasil terutama di timnas, terdepak oleh pesona Messi. Bahkan bukan secara kepopuleran ia terdepak, secara sistem permainan dia malah jadi pelayan Messi.

Usia yang tidak jauh dari justin Beiber ini layak diperhatikan dengan hati hati, saat seorang Neymar sudah terbiasa dengan spotlight yang mengarah padanya dan melahirkan berbagai ragam apresiasi dan harapan, maka ketika dihadapkan pada kondisi berbeda dimana spotlight jauh dari dirinya, itu akan memberi masalah yang memengaruhi mental dan juga fisik.

Hal yang sangat bijak bila dulu ayah Neymar, Neymar da Silva Sr, berhasil menolak Barca dan Real Madrid kala media menjulukinya seorang wonderkid.

Di tengah kibasan uang yang mampu menghidupi keluarganya di tengah kondisi ekonomi Brazil yang makin sakit . Sang ayah membuat pilihan tepat dan bijak dimana ia mengabaikan Real Madrid dan Barcelona namun memilih Santos.

Setelah Neymar matang secara fisik dan mental dalam standar ayahnya, tawaran Barca ia terima dan gelimang prestasi mengiringi kehadirannya di klub kebanggaan Catalan tersebut di bawah label MSN.

Sayangnya semua tidak berjalan dengan baik bagi mental Neymar yang terbiasa jadi spotlight. Kepopuleran yang ia terima tidak sebesar yang ia dapat di Brasil. Minggat selagi ada peluang adalah jalan menemukan spotligt itu, masalah pajak dan urusan remeh temeh hanya sebagai bumbu penguat kalau pindah adalah satu-satunya jalan yang harus ia pilih. Dia boleh saja mengatakan tidak kerasan karena masalah pajak yang membelitnya namun ia tidak bisa menepikan soal alasan hilangnya popularitas ketika sekapal dengan Luisito terlebih dengan Messi adalah pemicunya.

Boleh-boleh saja orang mengatakan jika dia harusnya sabar untuk bertahan di Barcelona kemudian ketika saatnya Messi mundur dari Barca,maka Neymar akan mendapat spotlight yang ia idamkan itu.

Orang boleh berkata demikian, tapi kita tidak tahu bagaimana dengan Neymar. Kita mungkin hanya menilai berdasarkan kekhawatiran akan performa Barca kala Neymar pergi di saat messi uda memasuki usia 30 yang mana merupakan usia puncak pemain sepak bola dan butuh suksesor. Ini hanya salah satu alasan.

Kasus Neymar juga merupakan buah ketidakseimbangan regenerasi pemain sepak bola di negeranya.

Di timnas, hanya pada era Neymar lah popularitas itu begitu jomplang, sehingga ketika dihadapkan pada beban untuk menjadi penyokong tim, Neymar tidak bisa membaginya. Sialnya popularitas dia terlalu besar di Brasil sana sebagai harapan tim. Jika merujuk pada skuad juara dunia Brasil di masa lalu, kebintangan pemain Brasil di timnas selalu ada antidotenya.

1958 &1962: Sinar Pele bisa diimbangi oleh Gariccha, Djalma dan Nilton Santos, Didi, Zagallo,Vava, Jose Alfatini, dan masih banyak lagi. Artinya Pele bertingkah ingin showoff bisa langsung diingatkan oleh pemain lain yang kadar kebintangan dan popularitasnya bisa mengimbangi Pele.

1970: Pele sudah mendunia dan kehebatannya sudah melegenda d iusia muda tetap diimbangio oleh Carlos Alberto, Rivelino, dan lain-lain. Skuad ini diisi oleh nama-nama terbaik di zamannya dan pele adalah salah satunya, namun lihat Pele bukan jadi pilihan untuk mengemban tanggung jawab kapten secara tim sekalipun dia sudah populer.

2002: Nama-nama seperti Cafu, Roberto Carlos, Dunga, mampu mengimbangi kebintangan Rivaldo, Ronaldinho, dan Ronaldo buncit. Bahkan dalam analisa saya, skuad inilah skuad yang paling cair soal kebintangan di mana Rivaldo sedang dalam titik terendahnya di Barcelona. Ronaldo sedang mencoba merintis karier comeback setelah terkena cidera parah, dan Ronaldinho sedang mencari jati diri pada jalur legenda. Pemain-pemain Brasil secara utuh hadir dalam spotlight baik secara popularitas dan perminan.

Jika ingat Zico yang di juluki Pele Putih akan tunduk dan semaput jika diingatkan oleh Socrates.

Kembali pada kasus Neymar dan juga pendekatannya dalam tarot. Maka inilah penjelasannya

The Fool adalah kartu yang cocok untuk Neymar saat ini, bukan berarti dia bodoh atau pandir atau tolol sebagaimana terjemahan harfiahnya.

Nyemar menjadi The Fool guna memulai sesuatu yang baru untuk melihat sejauh mana potensinya.

0 dalam tarot adalah awal karier Neymar di PSG . PSG adalah klub label OKB yang haus akan pengakuan sejak dibeli pengusaha minyak asal timur tengah sana.

Matahari orang-orang sekitar yang mendukungnya dalam mengambil keputusan. Terkhusus yang akan jadi sorotan adalah ayahnya. Bukan hal yang menjadi rahasia lagi jika Neymar senior pernah melemparkan wacana berani mati demi melindungi anaknya.

Bunga, buntelan, dan tongkat adalah modal dan pengalaman yang ia dapatkan ketika bermain di Santos dan menjadi pemain yang "terabaikan" di Barcelona karena Messi. Sikap, gaya hidup, kedewasaan, pemikiran dan hal-hala yang berkaitan secara psikologis hadir dalam simbol ini.

Tebing dan Jurang adalah konsekuensi yang harus ia ambil karena mengambil keputusan ini nantinya.

Pandangan mata ke depan adalah kemantapan hati unutk menjalani semua keputusan ini meskipun modalnya dikatakan orang masih mentah dan juga sedikit . Ia (Neymar) mengabaikan jurang dan tebing karena ia fokus akan tujuannya, jika dia melihat jurang dan tebing maka tujuan itu hanya sebatas niat atau impian saja, Neymar sudah memiliki action. Artinya Neymar sudah tidak terfokus pada kemungkinan terburuk akan pilihan yang dia buat.

Sedangkan anjing adalah para pembenci yang mencintai dengan cara lain, para pengamat sok tahu, dan mungkin juga mantan-mantan yang pernah mencampakkan Neymar kala masih menjadi manusia recehan.

Begitulah Neymar dan The Fool. Neymar adalah sebenar-benarnya manusia dimana ia tidak munafik kalau capaian yang ia dapat saat ini bukan hal yang memuaskan dan dia perlu membuat satu rencana lagi ke depan guna menelaah sejauh mana potensi yang ia miliki.

Kan siapa tahu PSG juara di final UCL tahun ini, ketika di final mengalahkan Juventus lewat hatirck yang bersarang di gawang Scezney.

Baloon d'or jadi deh sama Neymar.