Konten dari Pengguna

Cepat Naik, Cepat Hilang: Kok Tren Jaman Sekarang Nggak Lama Hilang?

Nicole Ashley Purnama

Nicole Ashley Purnama

Siswi kelas 12 dari sekolah Penabur International Kelapa Gading

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nicole Ashley Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, tren datang dan pergi dengan kecepatan yang mengejutkan. Apa yang viral hari ini bisa menjadi basi esok hari. Ambil contoh Labubu, boneka maskot unik merek Pop Mart yang sempat booming di media sosial karena digemari Lisa BLACKPINK. Dalam hitungan bulan, hype-nya surut. Dari yang awalnya pembeli harus antre panjang dan membayar hingga jutaan rupiah, kini gerai Pop Mart di Jakarta sudah mulai sepi pengunjung. Hal yang sama terjadi pada produk fashion seperti kaos bertema “hypebeast” dari merek-merek seperti Lifework dan Acme de la Vie (ADLV), yang awalnya menjadi simbol gaya kekinian tetapi kini mulai kehilangan pamor.

Tak hanya mainan dan baju, makanan seperti Milk Bun dari Thailand yang sempat mendominasi kafe-kafe seluruh Indonesia juga kini tergeser oleh inovasi baru seperti Dubai Chocolate atau bahkan hidangan dan camilan fusion lainnya. Mengapa tren-tren ini cepat pudar, dan apa yang bisa kita pelajari dari fenomena ini?

Media Sosial: Mesin Penggerak dan Penghancur Tren

Media sosial berperan besar dalam membentuk, menyebarkan, dan mengakhiri tren. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi katalis utama yang membuat produk atau fenomena tertentu menjadi viral. Sebagai contoh, popularitas Labubu meningkat drastis berkat para influencer yang memamerkannya di Instagram dan TikTok. Namun, justru karena eksposur berlebihan ini, daya tariknya cepat memudar. Algoritma media sosial mempercepat siklus hidup tren. Tren baru muncul hampir setiap minggu, membuat pengguna merasa perlu terus mengikuti arus agar tetap relevan. Sebuah studi dari Microsoft menyebut bahwa rentang perhatian manusia di era digital telah turun menjadi hanya 8 detik, sehingga sesuatu yang menarik hari ini bisa cepat terlupakan esok.

Sebuah keychain Labubu (foto saya)

Budaya Konsumsi Instan

Budaya konsumerisme saat ini mendorong orang untuk memiliki sesuatu dengan cepat tanpa benar-benar mempertimbangkan nilainya. Dalam konteks ini, tren seperti kaos hypebeast dari Lifework atau ADLV menjadi contoh nyata. Produk-produk ini sempat menjadi simbol status bagi banyak anak muda, tetapi begitu merek tersebut tersedia di mana-mana, eksklusivitasnya hilang, dan konsumen mulai mencari sesuatu yang lebih unik. Budaya ini juga terlihat dalam tren kuliner seperti croffle. Di Indonesia, croffle sempat menjadi menu wajib di berbagai kafe pada 2023. Namun, setelah orang mencoba sekali atau dua kali dan unggahan media sosial mulai terasa berulang, tren ini cepat kehilangan daya tariknya.

baju Acme de la Vie (ADLV) (foto saya)

Generasi Z dan Pencarian Keaslian

Generasi Z, yang menjadi penggerak utama tren, dikenal memiliki kebutuhan tinggi akan keaslian dan makna dalam pilihan mereka. Menurut laporan dari McKinsey, 62% Generasi Z cenderung mendukung merek yang mencerminkan nilai-nilai pribadi mereka. Contohnya, tren kaos hypebeast atau barang fashion generik lain sering kali dianggap kurang memiliki keunikan. Begitu tren ini menjadi terlalu mainstream, konsumen mulai mencari produk yang lebih eksklusif atau memiliki cerita di baliknya, seperti koleksi streetwear dari merek lokal dengan pendekatan lebih personal.

Efek Overexposure: Terlalu Banyak, Terlalu Cepat

Tren sering kali kehilangan pesonanya karena eksposur berlebihan. Ketika sesuatu menjadi terlalu mudah diakses atau terlalu sering dilihat, daya tariknya berkurang. Ambil contoh kaos hypebeast seperti Lifework atau ADLV, yang semula menjadi simbol eksklusivitas di kalangan anak muda urban Indonesia. Namun, ketika semua orang mulai mengenakannya, termasuk berbagai kalangan di luar target pasar awal, kaos ini berangsur kehilangan citra eksklusifnya. Overexposure membuat sesuatu yang sebelumnya dianggap “spesial” menjadi terlalu biasa, sehingga orang-orang yang ingin tetap unik mulai meninggalkannya. Dalam dunia fashion, di mana orisinalitas dan kebaruan sangat penting, overexposure bisa menjadi ‘pembunuh’ tren yang paling mematikan.

FOMO dan Psikologi Konsumen

FOMO (fear of missing out) atau rasa takut ketinggalan tren juga mendorong oranguntuk buru-buru mengadopsi tren baru tanpa benar-benar menikmatinya. Tren seperti koleksi kaos hypebeast, Labubu, atau makanan viral sering kali diikuti bukan karena kebutuhan, tetapi untuk menunjukkan bahwa seseorang “in” dengan gelombang populer. Sayangnya, siklus ini seringkali berakhir dengan kejenuhan. Begitu banyak orang merasa “semua orang sudah punya,” nilai eksklusivitas hilang, dan orang mulai meninggalkan tren tersebut.

Peran Industri dan Marketing

Industri juga memiliki peran besar dalam memanfaatkan tren untuk menciptakan permintaan baru. Misalnya, saat croffle menjadi populer, banyak bisnis kuliner kecil berlomba-lomba membuat versinya sendiri. Namun, begitu pasarnya jenuh, bisnis-bisnis ini harus beradaptasi dengan menawarkan produk baru.

Menciptakan Tren yang dan Berlekas bagi Konsumen

Tren yang bertahan lama biasanya adalah tren yang menawarkan nilai lebih dari sekadar popularitas sementara. Restoran dapat terus ramai pengunjung karena makanannya yang enak, dan barang akan terus dibeli jika memang berkualitas serta memenuhi kebutuhan konsumen dalam jangka panjang. Salah satu contoh produk yang berhasil melampaui hype adalah Rare Beauty, merek kecantikan milik Selena Gomez. Meskipun awalnya dikenal berkat pengaruh besar Gomez sebagai penyanyi global, Rare Beauty berhasil mempertahankan posisinya di pasar karena kualitas produknya yang terbukti unggul. Menurut data dari Cosmetics Business, Rare Beauty menghasilkan pendapatan lebih dari $70 juta hanya pada tahun pertama peluncurannya, dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya.

Di era digital, tren cepat pudar karena budaya konsumsi instan, eksposur berlebihan, dan FOMO. Namun, ini juga menjadi pengingat bagi kita untuk lebih selektif dalam memilih tren yang diikuti. Mencari tren yang menawarkan nilai jangka panjang, keberlanjutan, dan dampak positif tidak hanya membuat kita menjadi konsumen yang lebih bijak tetapi juga membantu menciptakan budaya yang lebih menghargai makna di balik setiap pilihan.

Di tengah arus tren yang terus berubah, mungkin saatnya kita berhenti sejenak untuk bertanya: Apakah tren ini hanya sekadar hype, atau benar-benar memiliki nilai yang pantas untuk bertahan?