Konten dari Pengguna

Tantangan Kepemimpinan di Era Digital dalam Perspektif Ilmu Komunikasi

Nida Fadlilah

Nida Fadlilah

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nida Fadlilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kepemimpinan di Era Digital (Sumber: freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kepemimpinan di Era Digital (Sumber: freepik.com)

Tantangan Kepemimpinan di Era Digital dalam Perspektif Ilmu Komunikasi - Kepemimpinan di era digital memiliki karakteristiknya tersendiri. Kita telah memasuki sebuah masa observed leadership, yaitu kepemimpinan yang teramati. Setiap tindakan, pernyataan, dan keputusan seorang pemimpin tidak lagi terisolasi di dalam ruang rapat atau di balik mimbar resmi.

Baik itu seorang ketua BEM, CEO perusahaan, atau presiden sekalipun, mereka tak hanya eksis di ruangan dengan arti yang sebenarnya. Sebaliknya, semua itu kini dipertontonkan di sebuah panggung digital yang beroperasi tanpa henti dan ditonton secara masif oleh siapa saja, selama mereka terhubung ke dalam jaringan digital. Di panggung ini, nyaris tidak ada lagi tirai pemisah. Siaran pers yang dipoles kaku telah tergantikan oleh streaming langsung dan memo internal yang berhati-hati dapat bertransformasi menjadi utas viral dalam hitungan menit. Pemimpin modern tidak lagi sekadar memimpin organisasi. Mereka hidup di bawah sorotan media sosial, di mana setiap gestur, pilihan kata, dan bahkan kealpaan mereka, dapat dinilai, diinterpretasi, dan disebarluaskan secara instan oleh audiens yang tak terbatas.

Sebuah Panggung di Ruang Digital

Seorang pemimpin di era digital memiliki dua panggung yang berbeda, yaitu dalam kehidupan nyata dan di ruang maya. Teori Dramaturgi yang dirumuskan oleh E. Goffman tahun 1959 dapat menjelaskan bahwa kini media sosial ibarat panggung sandiwara yang dijadikan sebagai panggung depan (Littlejohn & Foss, 2009). Pemimpin yang menggunakan media sosial berperan sebagai aktor di akun Instagram, TikTok, atau X mereka. Akun media sosial itu dikatakan sebagai panggung depan. Mereka menampilkan versi diri yang sudah diedit, diatur, dan didesain sedemikian rupa agar disukai penonton. Diri mereka yang asli, yang mungkin sedang lelah atau ragu, tersembunyi di panggung belakang.

Untuk itu, para pemimpin semakin berlomba-lomba membangun citra. Katakanlah ketika pemilihan presiden 2024 lalu, setiap pasangan calon bergerak masif melalui media. Ada yang melalui jogetnya di TikTok, ada yang melalui programnya ke kampus-kampus lalu kemudian dibagikan secara live streaming, atau ada pula yang diundang melalui podcast di kanal YouTube. Masyarakat Indonesia mengamati mereka dengan tak kenal jarak dan waktu, selama bisa mengakses ranah digital termasuk media sosial.

Kepemimpinan Adaptif

Dilema antara penampilan melalui ruang digital dan ruang nyata adalah salah satu hal yang menjadi tantangan kepemimpinan di era sekarang. Hal itu tidak dimungkiri dan sudah sepatutnya setiap pemimpin mampu menyesuaikan. Kini, pemimpin tak cukup keren di dunia nyata. Ia harus mampu membangun citra baiknya di dunia maya.

Konsep "Kepemimpinan Adaptif" yang dicetuskan Wulandari & Pudjiarti (2024) menekankan pentingnya ketangkasan, pembelajaran berkelanjutan, dan keberanian mengambil risiko untuk merespons perubahan yang cepat. Kepemimpinan adaptif berarti nilai-nilai inti yang dianut pemimpin tidak boleh berubah meskipun ia telah mulai tampil di dunia maya-nya.

Menjadi otentik bukan berarti kaku. Ia tetap menjadi diri sejati di kedua ruang yang dimasukinya. Menjadi keren di dunia nyata dan selaras membangun citra di dunia maya. Bukan hanya pencitraan saja di dunia maya namun "kosong" dalam aksi nyata.

Jika seorang pemimpin ingin menyampaikan pesan penting tentang transparansi anggaran kampus misalnya, ia tidak harus kaku berpidato ala orator zaman dulu. Ia bisa secara otentik menyampaikan nilai transparansi itu melalui utas di X, video penjelasan di TikTok, atau sesi Q&A di Instagram Live. Media yang dia gunakan adalah media populer, tapi pesannya tetap otentik. Popularitas di sini menjadi alat penyampai pesan, bukan tujuan yang mengorbankan pesan.

Ruang Maya dan Ruang Nyata yang Seimbang

Di tengah era digital yang serba mudah, pertemuan organisasi tentu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Namun, seorang pemimpin jangan terjebak dalam kemudahan itu. Ia harus tetap memiliki prinsip untuk menjalin hubungan interpersonal dengan para anggotanya.

Seorang peneliti bernama Müller (2022) menyampaikan hasil risetnya bahwa kepemimpinan yang efektif membutuhkan interaksi tatap muka yang sering dan interaksi berbasis teknologi menghambat pengembangan hubungan dekat. Itu artinya, interaksi langsung tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh tatap muka melalui ruang virtual. Ada hal-hal yang menjadi keterbatasaan di dalam komunikasi melalui media.

Berdasarkan hal itu, komunikasi tatap muka masih menjadi hal penting untuk dilakukan. Pada rapat-rapat yang ringan, komunikasi digital melalui online meeting bisa menjadi solusi untuk memangkas jarak dan lebih efektif. Namun, membangun bonding dengan anggota organisasi serta komunikasi yang empatik lebih cocok dilakukan dengan pertemuan tatap muka. Seorang pemimpin bisa mengombinasikan ruang maya dan nyata dengan seimbang agar iklim organisasi tetap terjaga sehingga tujuan organisasi tercapai dengan maksimal.

Referensi:

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Encyclopedia of Communication Theory. Sage.

Müller, S. (2022). The Challenge of Leadership Development in the Digital Era (pp. 94–106). IGI Global https://doi.org/10.4018/978-1-6684-5864-8.ch006.

Wulandari, D. C., & Pudjiarti, E. S. (2024). Kepemimpinan adaptif dalam duniadigital: Mengatasi tantangan dan peluang di era 4.0. Transformasi: Journal of Economics and Business Management, 3(1), 207–220.