Magang di Komisi D DPRD DIY: Di Balik Kerja Kesejahteraan Rakyat

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sleman, DIY
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari dista gusnansah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengalaman magang di Komisi D DPRD DIY bagi mahasiswa Manajemen UMY dalam mempelajari administrasi kedewanan, notula rapat, dan isu kesejahteraan rakyat.

"Lingkungan Sekretariat DPRD DIY menjadi tempat saya belajar memahami proses kerja lembaga legislatif daerah selama menjalani magang sebagai mahasiswa Manajemen UMY."
Dari menyusun notula hingga mengikuti kunjungan lapangan, pengalaman magang di Sekretariat DPRD DIY membuka perspektif saya tentang hubungan antara manajemen, tata kelola pemerintahan, dan kesejahteraan masyarakat.
Selama kuliah, saya mengenal manajemen melalui teori tentang organisasi, operasional, dan pengelolaan sumber daya. Namun, ketika menjalani magang di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPRD DIY), khususnya dalam mendukung aktivitas Komisi D , saya mulai melihat bagaimana hal-hal tersebut bekerja dalam praktik. Saya menyadari bahwa di balik rapat, audiensi, dan kunjungan kerja, terdapat proses administrasi, koordinasi, serta pengelolaan informasi yang ikut menentukan kelancaran pekerjaan sebuah lembaga.
Pengalaman ini menjadi kesempatan bagi saya, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), untuk belajar di luar ruang kuliah sekaligus memahami lebih dekat dinamika kerja lembaga legislatif daerah.
Mengenal Komisi D dari Dekat
Pada awal magang, saya mengikuti orientasi dan pengenalan lingkungan kerja Sekretariat DPRD DIY. Saya mulai mempelajari struktur organisasi, mekanisme kerja, serta tugas Komisi D yang berkaitan dengan bidang kesejahteraan rakyat.
Salah satu tugas awal saya adalah membantu menindaklanjuti laporan Kunjungan Dalam Daerah (KDD) Komisi D ke Museum Wayang Beber. Saya juga memperoleh pengalaman dalam rekapitulasi hasil kegiatan, administrasi perjalanan dinas, serta penyusunan dan penyesuaian dokumen pertanggungjawaban kegiatan.
Pada tahap ini, saya belajar bahwa pekerjaan administrasi bukan sekadar melengkapi berkas. Dokumen yang tersusun dengan baik membantu menjaga keteraturan informasi, memudahkan penelusuran kembali, dan mendukung kelancaran kegiatan.
Sebagai mahasiswa yang terbiasa mempelajari pengelolaan organisasi melalui teori, saya mulai melihat bahwa ketelitian dalam pekerjaan sehari-hari merupakan bagian penting dari sistem kerja yang lebih luas.
Mendengarkan Aspirasi dan Memahami Persoalan Masyarakat
Salah satu pengalaman yang memperluas perspektif saya adalah kesempatan mengikuti audiensi dan rapat kerja Komisi D. Melalui kegiatan tersebut, saya dapat mengamati bagaimana persoalan masyarakat disampaikan dan dibahas bersama pihak-pihak terkait.
Saya mengikuti audiensi “Jemput Suara” serta audiensi bersama organisasi pekerja yang membahas berbagai persoalan ketenagakerjaan. Dalam audiensi bersama Dewan Pengurus Pusat Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (DPP KSBSI) dan Korwil KSBSI DIY, pembahasan mencakup sistem pengupahan, pembayaran upah lembur, kesenjangan upah, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, hingga keselamatan dan kesehatan kerja.
Saya juga mengikuti audiensi yang melibatkan DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) DIY, perwakilan pekerja PT Mataram Tunggal Garment, Dinas Tenaga Kerja, dan pihak manajemen perusahaan.
Dari kegiatan tersebut, saya melihat bahwa persoalan ketenagakerjaan memiliki banyak sisi yang perlu dipahami. Ada aspirasi pekerja, penjelasan dari pihak terkait, serta kebutuhan untuk mengoordinasikan pembahasan dan tindak lanjut sesuai kewenangan masing-masing.
Pengalaman ini membuat materi perkuliahan mengenai organisasi dan hubungan industrial terasa lebih dekat dengan realitas. Saya tidak berada pada posisi pengambil keputusan, tetapi melalui kesempatan mengamati kegiatan dan mendukung pekerjaan administratif, saya memperoleh gambaran mengenai proses yang berlangsung di balik forum audiensi.
Bagi saya, pengalaman tersebut mengajarkan pentingnya mendengarkan, memahami konteks, dan menyajikan informasi secara cermat sebelum menarik kesimpulan.
Belajar dari Notula dan Dokumen Kedewanan
"Mengikuti rapat kerja Komisi D memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya pencatatan pembahasan dan pengelolaan informasi secara sistematis."
Selain mengikuti audiensi, saya mendapatkan pengalaman dalam menyusun notula rapat, menyiapkan dokumen pendukung, serta membantu pengelolaan administrasi kegiatan Komisi D.
Saya mengikuti rapat kerja yang membahas Perubahan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2026 dan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan RAPBD Tahun Anggaran 2026. Dalam kegiatan tersebut, saya turut menyusun notula dan dokumen pendukung sesuai arahan pembimbing.
Menyusun notula menjadi salah satu pengalaman yang melatih ketelitian saya. Pembahasan rapat dapat berlangsung panjang dan melibatkan berbagai pandangan. Saya perlu memahami inti pembicaraan, memilah informasi penting, dan menyusunnya secara sistematis tanpa menghilangkan substansi.
Saya juga membantu penyelesaian dokumen administrasi, seperti Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD), Surat Pertanggungjawaban (SPJ), Surat Perjalanan Dinas (SPD), serta dokumen pendukung Kunjungan Dalam Daerah.
Melalui pekerjaan tersebut, saya melihat penerapan manajemen operasional dalam lingkungan sektor publik. Setiap kegiatan memerlukan persiapan, alur administrasi, koordinasi, dan dokumentasi yang tertib. Pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata memiliki peran dalam mendukung kelancaran kegiatan organisasi.
Pengalaman ini sekaligus mengingatkan saya bahwa kemampuan manajemen tidak hanya dibutuhkan ketika menyusun rencana atau mengambil keputusan. Kemampuan mengelola informasi, menjaga ketelitian, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai prosedur juga menjadi bagian penting dari profesionalisme.
Memahami Kesejahteraan Rakyat Melalui Kunjungan Lapangan
Perspektif saya semakin berkembang ketika mengikuti Kunjungan Dalam Daerah Komisi D. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk melihat berbagai isu kesejahteraan masyarakat melalui pembahasan dan monitoring di lapangan.
Saya mengikuti kunjungan ke Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DIY yang berkaitan dengan data Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) dan program kesejahteraan sosial. Saya juga mengikuti kunjungan ke Dinas Sosial DIY untuk membahas akurasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar penyaluran bantuan sosial agar lebih tepat sasaran.
Dari kegiatan tersebut, saya memperoleh gambaran mengenai pentingnya data dalam mendukung pelaksanaan program pemerintah. Informasi yang akurat dan mutakhir dibutuhkan agar proses evaluasi memiliki dasar yang memadai dan program dapat menyasar kelompok yang membutuhkan.
Selain itu, saya mengikuti monitoring pemanfaatan hibah sarana tempat ibadah di Masjid Al Huda, Seyegan, serta Musholla Al-Huda, Tirtonirmolo. Saya juga mengikuti kunjungan ke Kelompok Sekar Arum, Panggungharjo, dalam rangka monitoring pelaksanaan program "Mobile Training Unit" (MTU) yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan kepada saya bahwa kesejahteraan rakyat memiliki cakupan yang luas. Isunya tidak hanya berkaitan dengan bantuan sosial, tetapi juga mencakup ketenagakerjaan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
Saya pun mulai memahami bahwa pekerjaan kelembagaan tidak hanya berlangsung di ruang rapat. Kunjungan lapangan menjadi salah satu cara untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan program dan kondisi yang dihadapi masyarakat.
Membawa Ilmu Manajemen ke Dunia Kerja
Hingga minggu kedelapan pelaksanaan magang, saya merasakan bahwa pengalaman kerja langsung memberikan pelajaran yang berbeda dari pembelajaran di ruang kuliah.
Saya belajar menyesuaikan diri dengan agenda yang dinamis, berkoordinasi dengan pembimbing, serta menyelesaikan tugas dengan memperhatikan ketelitian dan prosedur. Saya juga semakin memahami pentingnya pengelolaan informasi, terutama ketika berbagai kegiatan menghasilkan dokumen dan catatan yang perlu disusun secara sistematis.
Sebagai mahasiswa Manajemen UMY, saya melihat hubungan yang nyata antara materi perkuliahan dan pekerjaan yang saya jalani. Pengelolaan dokumen berkaitan dengan keteraturan operasional, penyusunan notula membutuhkan kemampuan mengolah informasi, sedangkan pelaksanaan kegiatan melibatkan koordinasi antarbagian dan pihak terkait.
Pengalaman tersebut tidak serta-merta membuat saya memahami seluruh proses kerja pemerintahan. Namun, saya memperoleh kesempatan untuk mengenal mekanismenya dari dekat, menjalankan tugas sesuai arahan, dan memahami tanggung jawab yang menyertai setiap pekerjaan.
Saya juga menyadari bahwa proses belajar di lingkungan profesional membutuhkan kesediaan untuk bertanya, menerima arahan, memperbaiki pekerjaan, dan terus meningkatkan kemampuan.
Bukan Hanya Tentang Pengalaman Kerja
Bagi saya, magang di Sekretariat DPRD DIY, khususnya dalam mendukung kegiatan Komisi D, bukan sekadar bagian dari perjalanan akademik. Pengalaman ini membantu saya melihat manajemen dari sudut pandang yang lebih luas, termasuk penerapannya dalam organisasi sektor publik.
Saya semakin memahami bahwa sebuah organisasi tidak hanya berjalan melalui keputusan besar, tetapi juga melalui pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, koordinasi, dan tanggung jawab pada setiap tahapnya. Administrasi yang tertib, informasi yang terdokumentasi, dan komunikasi yang baik menjadi bagian dari proses yang mendukung pelaksanaan tugas lembaga.
Lebih dari itu, pengalaman mengikuti audiensi dan kunjungan lapangan membuat saya melihat bahwa isu kesejahteraan masyarakat perlu dipahami melalui berbagai sudut pandang. Data, proses administrasi, aspirasi, dan kondisi di lapangan merupakan unsur yang saling berkaitan dalam memahami persoalan tersebut.
Sebagai mahasiswa, saya masih berada dalam proses belajar. Namun, pengalaman magang ini memberi saya perspektif baru bahwa memahami manajemen bukan hanya tentang mengelola organisasi, melainkan juga memahami bagaimana orang, informasi, dan proses saling terhubung untuk mencapai tujuan.
Itulah pelajaran yang ingin saya bawa dari Komisi D DPRD DIY: bahwa di balik setiap pekerjaan, termasuk yang tampak administratif, terdapat tanggung jawab untuk bekerja secara cermat, memahami konteks, dan mendukung proses yang lebih besar.
