Bukan Hidup yang Semakin Berat, tapi Kita yang Tak Pernah Merasa Cukup

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nida Nurfadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masih ingat rasanya ketika dulu berhasil mencapai sesuatu yang pernah lama diimpikan? Diterima di kampus impian, mendapatkan pekerjaan pertama, atau akhirnya bisa membeli barang dari hasil kerja sendiri. Saat itu, semua terasa begitu membahagiakan.
Namun, kebahagiaan itu sering kali tidak bertahan lama. Beberapa minggu kemudian, muncul target baru. Setelah mendapat pekerjaan, kita mulai memikirkan kenaikan jabatan. Setelah penghasilan meningkat, kita ingin memiliki kendaraan yang lebih baik. Ketika berhasil membeli rumah, muncul keinginan untuk memiliki rumah yang lebih besar. Seolah-olah, setiap pencapaian hanya menjadi titik awal menuju daftar keinginan berikutnya.
Tanpa disadari, mungkin hidup kita sebenarnya tidak semakin sulit. Yang berubah adalah standar tentang apa yang kita anggap sebagai "cukup".
Fenomena ini semakin terasa di era digital. Dalam hitungan menit, kita bisa melihat teman yang baru lulus kuliah, rekan kerja yang mendapat promosi, seseorang yang membangun bisnisnya sendiri, hingga orang lain yang sedang menikmati liburan di luar negeri. Semua pencapaian itu hadir bersamaan di layar ponsel, membuat kita tanpa sadar menetapkan standar baru bagi kehidupan sendiri.
Akibatnya, apa yang dulu terasa istimewa perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa. Memiliki pekerjaan tetap pernah dianggap sebagai pencapaian besar. Kini, pekerjaan saja terasa belum cukup jika belum memiliki penghasilan tambahan, investasi, atau bisnis sampingan. Liburan yang dulu menjadi momen beristirahat kini sering terasa kurang lengkap jika tidak menghasilkan foto yang menarik untuk dibagikan. Bahkan, waktu luang pun perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus tetap terlihat produktif.
Psikolog Barry Schwartz, melalui konsep The Paradox of Choice, menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan yang dimiliki seseorang, semakin sulit pula ia merasa puas terhadap pilihannya. Ketika selalu ada pilihan yang tampak lebih baik, kita lebih mudah memusatkan perhatian pada apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang sudah ada.
Hal serupa juga dijelaskan filsuf Alain de Botton dalam Status Anxiety. Menurutnya, kecemasan modern sering kali muncul bukan karena seseorang hidup dalam kekurangan, tetapi karena ia terus membandingkan posisinya dengan orang lain. Standar keberhasilan tidak lagi dibentuk oleh kebutuhan pribadi, melainkan oleh apa yang dianggap berhasil oleh lingkungan sekitar.
Padahal, standar itu terus berubah. Hari ini kita mengejar satu pencapaian, besok muncul ukuran baru yang terasa lebih tinggi. Tidak ada garis akhir yang benar-benar memberi rasa puas karena selalu ada orang yang terlihat lebih sukses, lebih mapan, atau lebih bahagia.
Ironisnya, semakin tinggi standar yang kita tetapkan, semakin mudah pula kita mengabaikan pencapaian sendiri. Kita lupa bahwa pekerjaan yang hari ini terasa biasa pernah menjadi doa yang dipanjatkan bertahun-tahun lalu. Penghasilan yang kini terasa kurang mungkin dulu adalah angka yang ingin sekali kita capai. Bahkan, kehidupan yang sekarang kita anggap sederhana bisa jadi merupakan impian bagi orang lain yang sedang berjuang dari titik yang berbeda.
Penelitian mengenai hedonic adaptation dalam psikologi juga menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk cepat terbiasa dengan hal-hal baik yang dimilikinya. Setelah suatu pencapaian diraih, rasa bahagia akan perlahan kembali ke tingkat semula, sehingga kita terdorong mencari target baru. Inilah sebabnya mengapa mengejar pencapaian tanpa pernah memberi ruang untuk menghargai proses sering kali membuat seseorang merasa terus kekurangan, meskipun hidupnya terus berkembang.
Tentu, memiliki ambisi bukanlah sesuatu yang salah. Keinginan untuk berkembang justru membuat manusia terus belajar dan bertumbuh. Namun, ambisi akan kehilangan maknanya jika tidak pernah diiringi kemampuan untuk berhenti sejenak dan menyadari sejauh apa kita telah melangkah.
Pada akhirnya, mungkin yang membuat hidup terasa berat bukan karena kita benar-benar kekurangan. Yang membuatnya berat adalah kebiasaan terus menaikkan standar tanpa pernah memberi kesempatan pada diri sendiri untuk merasa cukup.
Sebab, rasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Rasa cukup adalah kemampuan untuk tetap menghargai apa yang sudah dimiliki, sambil tetap melangkah menuju tujuan berikutnya. Karena hidup tidak selalu menjadi lebih ringan ketika kita memiliki lebih banyak.
Terkadang, hidup justru terasa lebih ringan ketika kita berhenti menganggap bahwa "lebih" adalah satu-satunya cara untuk merasa bahagia.
