Konten dari Pengguna

Dulu Kita Ingin Punya Banyak Waktu Luang, Namun Kini Tak Tahu Cara Menikmatinya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nida Nurfadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang menikmati waktu luang tanpa distraksi digital. Sumber foto: magnific.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang menikmati waktu luang tanpa distraksi digital. Sumber foto: magnific.com

Dulu, waktu terasa seperti sesuatu yang selalu kurang.

Kita berharap sekolah cepat selesai agar punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Kita membayangkan betapa menyenangkannya menjadi dewasa dan bebas menentukan apa yang ingin dilakukan. Tidak ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi, tidak ada jadwal kuliah yang padat, dan tidak ada orang yang terus-menerus mengingatkan apa yang harus dikerjakan.

Namun, ketika akhirnya memiliki waktu luang, sesuatu yang berbeda justru terjadi.

Kita membuka ponsel.

Scroll media sosial.

Menonton video pendek.

Berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.

Lalu tanpa terasa, beberapa jam berlalu.

Anehnya, setelah itu kita tidak selalu merasa lebih bahagia. Kadang justru muncul perasaan kosong dan bosan. Kita punya waktu, tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan dengannya.

Mungkin, masalahnya bukan karena kita kekurangan waktu luang. Bisa jadi, kita hanya sudah terlalu terbiasa mengisi setiap jeda dengan sesuatu.

Di era digital, hampir tidak ada ruang kosong yang benar-benar kosong. Ketika sedang menunggu kendaraan, kita membuka ponsel. Ketika makan sendirian, kita mencari tontonan. Bahkan ketika hendak tidur, kita masih menggulir layar hingga mata terasa lelah.

Tanpa disadari, kita semakin jarang mengalami momen ketika tidak melakukan apa-apa.

Padahal, kemampuan untuk merasa nyaman dalam kesunyian dan kebosanan merupakan bagian penting dari kehidupan. Psikolog Sandi Mann, penulis The Upside of Downtime, menjelaskan bahwa kebosanan tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk. Ketika tidak terus-menerus mendapatkan stimulasi dari luar, pikiran justru memiliki ruang untuk berkelana, berimajinasi, dan memunculkan ide baru.

Masalahnya, kita hidup dalam budaya yang membuat kebosanan terasa seperti sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Sedikit bosan, buka TikTok.

Sedikit sepi, buka Instagram.

Sedikit tidak nyaman, cari hiburan.

Akibatnya, kita menjadi semakin terbiasa dengan rangsangan yang cepat dan terus-menerus. Waktu luang yang seharusnya menjadi kesempatan untuk beristirahat justru berubah menjadi rangkaian aktivitas kecil yang menguras perhatian.

Hal ini juga berkaitan dengan cara media sosial dirancang. Platform digital menawarkan aliran konten yang hampir tidak ada habisnya. Satu video selesai, muncul video berikutnya. Satu unggahan dilihat, ada puluhan unggahan lain yang menunggu untuk dibuka.

Kita tidak perlu lagi mencari sesuatu untuk mengisi waktu. Sesuatu itu akan selalu datang kepada kita.

Pada akhirnya, kemampuan kita untuk merasa bosan perlahan berkurang. Kita menjadi tidak terbiasa dengan jeda.

Padahal, tidak semua waktu harus diisi.

Ada waktu yang memang hanya perlu dilewati tanpa menghasilkan sesuatu. Ada sore yang bisa dinikmati dengan duduk di teras. Ada perjalanan yang bisa dilalui sambil melihat pemandangan. Ada akhir pekan yang tidak perlu dipenuhi agenda. Bahkan, ada hari ketika kita tidak harus memiliki alasan khusus untuk merasa baik-baik saja.

Mungkin, yang kita rindukan sebenarnya bukan lebih banyak waktu.

Kita hanya merindukan kemampuan untuk benar-benar hadir di dalam waktu yang sudah kita miliki.

Sebab, sebanyak apa pun waktu luang yang diberikan kepada kita, semuanya akan terasa sia-sia jika setiap jeda selalu kita isi dengan sesuatu yang membuat kita kembali merasa lelah.

Barangkali, menjadi dewasa bukan hanya tentang memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang ingin dilakukan. Menjadi dewasa juga berarti belajar bahwa kita tidak harus selalu melakukan sesuatu.

Kita boleh bosan.

Kita boleh diam.

Kita boleh memiliki satu hari yang tidak menghasilkan apa-apa.

Dan mungkin, justru di tengah waktu yang kosong itulah kita akhirnya bisa mendengar kembali apa yang selama ini terlalu sibuk untuk kita dengarkan, yaitu diri sendiri.