Konten dari Pengguna

Terlalu Sibuk Mengejar Versi Terbaik, sampai Lupa Menghargai Diri yang Sekarang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nida Nurfadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cara atasi rasa insecure pada diri sendiri dengan berkaca  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cara atasi rasa insecure pada diri sendiri dengan berkaca Foto: Shutterstock

Kita hidup di zaman yang terus mendorong kita untuk menjadi lebih baik. Ada begitu banyak buku yang mengajarkan cara meningkatkan kualitas diri, video yang membahas produktivitas, hingga konten yang mengajak kita membangun kebiasaan baru. Semua itu tentu tidak salah. Keinginan untuk berkembang adalah bagian dari proses menjadi manusia.

Namun, tanpa disadari, keinginan untuk berkembang terkadang berubah menjadi tekanan.

Kita mulai merasa harus selalu menjadi versi yang lebih baik dari diri sendiri. Harus lebih produktif. Lebih sukses. Lebih sehat. Lebih pintar. Lebih percaya diri. Bahkan, ketika sudah berhasil mencapai sesuatu, muncul lagi standar baru yang harus dikejar.

Seolah-olah versi diri kita hari ini selalu belum cukup baik.

Akibatnya, kita menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan siapa yang ingin kita jadi, sampai lupa menghargai siapa diri kita sekarang.

Kita melihat orang lain yang lebih sukses, lalu merasa harus mengejar. Melihat seseorang yang lebih produktif, kemudian mempertanyakan diri sendiri. Melihat pencapaian orang lain di media sosial, lalu menganggap kehidupan kita masih jauh dari kata ideal.

Padahal, mungkin kita sedang berada di tengah proses yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Ada perubahan kecil yang sudah kita lakukan, tetapi tidak pernah kita rayakan. Ada kegagalan yang berhasil kita lewati, tetapi kita anggap tidak penting. Ada hari-hari ketika kita tetap berusaha meskipun sebenarnya ingin menyerah, tetapi semua itu sering kali tidak dianggap sebagai pencapaian.

Kita terlalu sibuk melihat siapa yang ingin kita capai sampai lupa melihat sejauh apa kita sudah berjalan.

Budaya self-improvement memang membawa banyak manfaat. Kita bisa belajar mengenali kekurangan, membangun kebiasaan yang lebih sehat, dan berusaha mencapai tujuan yang kita inginkan. Namun, ketika proses memperbaiki diri dilakukan tanpa penerimaan terhadap diri sendiri, pengembangan diri justru bisa berubah menjadi bentuk lain dari ketidakpuasan.

Kita tidak lagi berkembang karena ingin bertumbuh, tetapi karena merasa ada sesuatu yang salah dengan diri kita.

Perbedaan ini mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.

Ketika kita berkembang karena menghargai diri sendiri, kegagalan menjadi bagian dari proses. Kita bisa menerima bahwa tidak semua hari akan berjalan sesuai rencana. Kita bisa mencoba lagi tanpa merasa bahwa satu kegagalan menentukan nilai diri kita secara keseluruhan.

Sebaliknya, ketika kita terus mengejar versi ideal karena merasa diri kita sekarang tidak cukup, setiap kesalahan terasa seperti bukti bahwa kita memang belum menjadi seseorang yang seharusnya.

Pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar sampai.

Sebab, setelah berhasil mencapai satu tujuan, selalu ada tujuan lain yang menunggu. Setelah merasa cukup pintar, muncul standar untuk menjadi lebih produktif. Setelah merasa cukup sukses, muncul keinginan untuk mendapatkan lebih banyak. Kita terus bergerak dari satu titik ke titik berikutnya tanpa pernah benar-benar berhenti untuk mengakui bahwa kita sudah berkembang.

Psikolog Carl Rogers melalui pendekatan person-centered menekankan pentingnya penerimaan terhadap diri sebagai bagian dari proses pertumbuhan manusia. Penerimaan diri bukan berarti seseorang berhenti berubah atau tidak memiliki keinginan untuk berkembang. Justru, seseorang dapat bertumbuh dengan lebih sehat ketika ia tidak terus-menerus memandang dirinya sebagai sesuatu yang harus diperbaiki agar layak dihargai.

Hal yang sama juga dapat dilihat dalam gagasan Brené Brown mengenai pentingnya menerima diri dan memiliki keberanian untuk tampil sebagai diri sendiri. Kita sering kali menghabiskan energi untuk memenuhi gambaran tentang siapa yang seharusnya kita menjadi, sementara kehidupan nyata tidak pernah berjalan sesempurna gambaran tersebut.

Mungkin, masalahnya bukan pada keinginan kita untuk menjadi lebih baik.

Masalahnya muncul ketika kita mulai percaya bahwa diri kita yang sekarang tidak pantas dihargai sebelum berhasil menjadi versi yang kita inginkan.

Padahal, diri kita yang sekarang adalah satu-satunya versi yang sedang menjalani semua proses itu.

Versi yang pernah gagal.

Versi yang masih belajar.

Versi yang belum tahu harus melangkah ke mana.

Versi yang mungkin belum mencapai banyak hal.

Namun, juga versi yang sudah berhasil melewati begitu banyak hal yang sebelumnya kita kira tidak akan mampu kita lewati.

Kita tetap boleh memiliki target. Kita tetap boleh ingin berubah. Kita boleh mengejar versi terbaik dari diri kita sendiri.

Tetapi, mungkin kita tidak perlu membenci versi diri yang sedang berproses untuk sampai ke sana.

Sebab, menjadi versi terbaik bukanlah perlombaan untuk meninggalkan diri kita yang sekarang secepat mungkin. Ia adalah perjalanan untuk tumbuh tanpa kehilangan kemampuan untuk menghargai diri sendiri di sepanjang jalan.

Mungkin, kita tidak perlu menunggu sampai menjadi seseorang yang kita impikan untuk merasa bangga.

Kita bisa mulai dari sekarang.

Bukan karena kita sudah menjadi versi terbaik.

Melainkan karena kita sedang berusaha menjadi lebih baik, dan proses itu sendiri sudah layak dihargai.