Konten dari Pengguna

Indonesia-China Sepakat Transaksi Pakai Rupiah dan Yuan, Menakar Keuntungan LCS

Arina Nihayati

Arina Nihayati

Seorang dosen Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya yang berfokus pada isu politik global dan kajian keamanan strategi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arina Nihayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi antar negara dalam LCS. (Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi antar negara dalam LCS. (Pixabay)

Tepat pada 6 September 2021, Bank Indonesia mengeluarkan siaran pers terkait Local Currency Settlement (LCS) antara Indonesia – China dalam transaksi bilateral. Selain untuk mendukung penguatan Rupiah dan Yuan, LCS juga bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika.

Berikut ulasan mengenai LCS, bank-bank pilihan LCS, keuntungan bagi kedua belah pihak serta mereview singkat LCS Indonesia dengan Malaysia, Jepang dan Thailand yang sudah dilaksanakan sejak lama.

Apa itu Local Currency Settlement (LCS)?

Mengutip dari Bank Indonesia, Local Currency Settlement (LCS) merupakan penyelesaian transaksi antar dua negara dengan menggunakan mata uang lokal. Adapun jenis-jenis transaksi yang termasuk dalam LCS yaitu seperti kegiatan perdagangan barang dan jasa (penerimaan ekspor dan impor) dan transaksi pendapatan primer (penerimaan dan pembayaran kompensasi tenaga kerja serta pendapatan investasi).

Selain itu juga dalam transaksi pendapatan sekunder, termasuk remitansi (penerimaan dan pembayaran sektor pemerintahan/sektor lainnya kecuali hibah, hadiah, donasi dan sejenisnya) dan investasi langsung (dengan batas kepemilikan ekuitas 10%). Transaksi antara Indonesia dan China ini menggunakan bank-bank yang telah dipilih baik di pihak Indonesia maupun China atau disebut Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).

Misalnya, pengusaha A dari Indonesia ingin impor besi dari pengusaha B di China, maka pengusaha A bisa menggunakan Rupiah atau Yuan sebagai alat transaksi pembayaran ke pengusaha B. Transaksi dilakukan melalui bank ACCD yang ada di Indonesia.

Bank-bank pilihan LCS atau disebut Appointed Cross Currency Dealer (ACCD)

Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBC) telah menunjuk beberapa bank di negara masing-masing untuk berperan sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Bank-bank yang ditunjuk sebagai ACCD adalah bank-bank yang dipandang telah memiliki kemampuan untuk memfasilitasi transaksi Rupiah dan Yuan:

Bank-bank yang ditetapkan sebagai ACCD di Indonesia adalah:

• P.T. Bank Central Asia, Tbk

• Bank of China (Hongkong), Ltd

• P.T. Bank China Construction Bank Indonesia, Tbk

• P.T. Bank Danamon Indonesia, Tbk

• P.T. Bank ICBC Indonesia

• P.T. Bank Mandiri (Persero), Tbk

• P.T. Bank Maybank Indonesia, Tbk

• P.T. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk

• P.T. Bank OCBC NISP, Tbk

• P.T. Bank Permata, Tbk

• P.T. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk

• P.T. Bank UOB Indonesia

Bank-bank yang ditetapkan sebagai ACCD di China adalah:

• Agriculture Bank of China

• Bank of China

• Bank of Ningbo

• Bank Mandiri Shanghai Branch

• China Construction Bank

• Industrial and Commercial Bank of China

• Maybank Shanghai Branch

• United Overseas Bank (China) Limited

Sebelum ada LCS, Indonesia jika ingin bertransaksi harus menukarkan mata uang Rupiah ke dolar USD lalu baru ditukarkan ke mata uang China, Yuan, begitu pula sebaliknya. Banyaknya jumlah negara yang menggunakan dolar USD inilah yang membuat permintaan dolar USD meningkat.

Menakar keuntungan LCS dalam ekspor impor Indonesia dan China

LCS digadang-gadang oleh BI akan menghasilkan keuntungan di antara manfaatnya seperti mempermudah hubungan transaksi bilateral, biaya transaksi menjadi lebih rendah dan kesediaan likuiditas yang terjamin.

LCS juga berfungsi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan sekaligus mendorong pendalaman pasar keuangan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menentukan rate kurs?

Penentuan kurs LCS, Bank ACCD Indonesia wajib menerbitkan kuotasi harga mata uang negara mitra terhadap Rupiah. Lebih lanjut, penetapan kuotasi harga yang dimaksud harus merefleksikan harga wajar yang terjadi di pasar valuta asing dan dapat ditransaksikan atau dieksekusi (hitable).

Harga wajar sendiri merupakan kuotasi harga mata uang negara mitra terhadap Rupiah yakni kuotasi spot dan forward yang mencerminkan harga yang ada di pasar valuta asing. Selain itu dapat ditransaksikan atau dieksekusi dengan mengacu pada manajemen risiko Bank ACCD Indonesia.

Jika mengambil salah satu aspek, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 nilai Impor Indonesia dari China senilai $39.634.710. Sementara Indonesia ke China senilai $31.775.692. Saat ini impor China lebih tinggi dari ekspor Indonesia. Jika Indonesia bisa memanfaatkan LCS ini dengan baik dan menaikkan ekspor, maka kebutuhan akan Rupiah akan semakin banyak. Sehingga LCS dapat menjadi keuntungan bagi Indonesia.

Bagaimana LCS Indonesia dengan Malaysia, Thailand dan Jepang?

Melalui IDX, mata uang Asia memimpin terhadap dolar per minggu pertama September 2021, Bath Thailand memimpin dengan penguatan 2,59%, disusul dolar Singapura 1,1% dan ringgit Malaysia 1,14%. Hal ini merupakan tujuan dari adanya LCS, di mana mata uang lokal menguat dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika.

Mengutip program IDX Channel pada 9 September 2021, Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Rahmatullah Sjamsudin, mengungkapkan bahwa transaksi LCS Indonesia saat ini telah dilakukan di 4 negara yaitu Thailand, Malaysia, Jepang dan China yang baru bergabung pada Agustus lalu.

Di mana sejak awal tahun hingga Juli 2021, nilai transaksi yang menggunakan LCS telah mencapai USD1,2 miliar. Keuntungan Indonesia dengan adanya program LCS ini menuai hasil sedemikian rupa. Selain itu juga mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika.