Konten dari Pengguna

Saat Algoritma Menentukan Isi Piring Kita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Niken Rahmah Ghanny tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Algoritma media sosial ikut membentuk pilihan makanan keluarga, dari jajanan viral hingga tren diet. Bagaimana kita menyikapinya dengan lebih sadar?

Bayangkan seorang ibu membuka ponsel setelah hari yang melelahkan. Ia hanya ingin beristirahat sebentar sambil melihat media sosial. Di layar, seseorang membelah kue dengan lelehan cokelat, lalu muncul ulasan minuman kekinian dan ayam goreng bersaus mengilap. Beberapa menit kemudian, anaknya mendekat. “Besok kita beli itu, ya, Bu?”

Adegan sederhana ini memperlihatkan bagaimana percakapan tentang makanan kini dapat bermula dari layar. Menu keluarga tidak selalu lahir dari pertanyaan tentang bahan yang tersedia atau kebutuhan tubuh. Kadang, ia berawal dari sesuatu yang terus muncul, terlihat menggiurkan, lalu terasa sayang untuk dilewatkan.

Saya melihat persoalan ini melampaui urusan menahan selera. Kita sedang menghadapi lingkungan yang mampu membawa makanan tertentu ke hadapan kita berulang kali. Dalam lingkungan tersebut, keputusan makan perlu dipahami bersama pengaruh informasi, pemasaran, dan keadaan sehari-hari.

TikTok, misalnya, menjelaskan bahwa interaksi pengguna, termasuk waktu menonton, menjadi pertimbangan penting dalam rekomendasi konten. Artinya, perhatian kita ikut membentuk tontonan berikutnya. Menonton video makanan sampai selesai dapat menjadi sinyal ketertarikan, meskipun kita sebenarnya hanya penasaran. Namun, kemampuan membaca ketertarikan tentu berbeda dari kemampuan memahami kebutuhan gizi seseorang.

Pengaruh konten terhadap konsumsi makanan mempunyai bukti penelitian. Dalam uji acak yang diterbitkan di Pediatrics pada 2019, Anna Coates dan koleganya melibatkan 176 anak berusia 9–11 tahun. Anak yang melihat profil influencer dengan camilan tidak sehat mengonsumsi rata-rata 448,3 kilokalori dalam sesi makan berikutnya. Kelompok yang melihat influencer dengan produk bukan makanan mengonsumsi 357,1 kilokalori: selisih sekitar 26 persen.

Penelitian tersebut mengukur respons segera dalam situasi eksperimen, sehingga hasilnya tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi kenaikan berat badan jangka panjang. Meski demikian, temuannya membuat kita perlu berhenti menyebut promosi makanan sebagai tontonan biasa. Sesuatu yang lewat di layar ternyata dapat memengaruhi apa yang kemudian masuk ke tubuh.

Persoalannya juga menyentuh perasaan kita terhadap diri sendiri. Setelah tergoda makanan berlimpah, pengguna dapat menjumpai konten diet ketat dan tubuh yang ditampilkan seolah sempurna. Di antara keduanya, makan berpotensi menjadi pengalaman yang membingungkan: ingin menikmati, tetapi sekaligus merasa bersalah karena tidak menyerupai orang di layar.

Penelitian Hao Tang dan koleganya dalam Journal of Medical Internet Research pada 2026 menggambarkan pengalaman tersebut. Melalui wawancara dengan 25 pengguna media sosial berusia 18–25 tahun di Inggris, peneliti menemukan manfaat berupa inspirasi memasak, sekaligus pengalaman negatif seperti tekanan citra tubuh dan pemicu pembatasan makan. Karena bersifat kualitatif, penelitian ini menjelaskan pengalaman peserta, bukan persentase kejadian dalam masyarakat.

Saya khawatir ketika pembicaraan tentang kesehatan berubah menjadi penilaian moral terhadap isi piring. Orang yang membeli makanan praktis belum tentu tidak peduli. Bisa jadi ia baru pulang bekerja, memiliki anggaran terbatas, atau kehabisan tenaga untuk memasak. Nasihat yang mengabaikan keadaan tersebut mudah berubah menjadi tambahan beban.

Risiko pola makan tetap perlu dibicarakan secara jujur. Tinjauan payung Melissa Lane dan koleganya dalam The BMJ pada 2024 menemukan hubungan antara paparan makanan ultra-proses yang lebih tinggi dan berbagai luaran kesehatan merugikan, termasuk masalah kardiometabolik. Namun, bukti yang dihimpun terutama bersifat observasional; hubungan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan sebab-akibat.

Temuan itu sebaiknya mendorong perbaikan kebiasaan, bukan ketakutan setiap kali membeli camilan. Menikmati makanan sesekali merupakan bagian dari kehidupan sosial. Yang patut diperhatikan adalah ketika pilihan tertentu terus mendominasi keseharian, sementara kesempatan mengenal dan menikmati makanan yang lebih beragam semakin menyempit.

Ilustrasi berbasis AI.

Di rumah, kita dapat memulai dari percakapan kecil. Ketika anak meminta jajanan viral, tanyakan apa yang membuatnya tertarik. Ajak ia membedakan rasa penasaran, rasa lapar, dan ajakan membeli. Sesekali mencoba bersama dapat menjadi kesempatan belajar membaca informasi produk, membicarakan porsi, dan menikmati makanan tanpa mempermalukan tubuh.

Tenaga kesehatan juga perlu hadir dengan bahasa yang bersahabat. Penjelasan tentang gizi akan lebih berguna jika disertai pilihan yang terjangkau dan mudah dilakukan. Platform serta pengiklan pun selayaknya mengambil tanggung jawab: memperjelas konten berbayar dan memperkuat perlindungan anak dari pemasaran makanan yang merugikan.

Pada akhirnya, saya ingin meja makan tetap menjadi tempat yang hangat. Ada ruang untuk makanan kesukaan, cerita tentang hari yang melelahkan, dan kebiasaan baik yang dibangun perlahan. Algoritma boleh menawarkan inspirasi. Keputusan tentang isi piring perlu kembali pada kebutuhan tubuh, kemampuan keluarga, dan pengetahuan yang dapat dipercaya. Kita berhak menikmati makanan tanpa terus didorong membeli atau dibuat merasa kurang. Hak itu layak dijaga bersama, setiap hari.