Konten dari Pengguna

Hukuman bagi Pelaku Kekerasan Anak: Solusi atau Sekadar Ancaman di Atas Kertas?

Niken Anggraheny

Niken Anggraheny

Mahasiswi Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Niken Anggraheny tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/photo/depressed-woman-sitting-in-room-corner-7776352/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/photo/depressed-woman-sitting-in-room-corner-7776352/

Kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Hampir setiap tahun, publik disuguhi berita tentang anak yang menjadi korban kekerasan fisik, psikis, seksual, hingga penelantaran. Ironisnya, tindakan tersebut kerap terjadi di lingkungan terdekat anak, seperti keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosialnya sendiri. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah hukum pidana bagi pelaku kekerasan terhadap anak benar-benar memberikan efek jera, atau justru hanya sebatas formalitas hukum?

Anak merupakan generasi penerus bangsa yang seharusnya mendapatkan perlindungan, kasih sayang, dan jaminan tumbuh kembang yang layak. Oleh karena itu, negara melalui berbagai regulasi berupaya memberikan perlindungan hukum bagi anak dari segala bentuk kekerasan. Salah satu aturan yang menjadi dasar perlindungan tersebut adalah Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan terhadap anak, baik secara fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran. Pelaku dapat dikenakan sanksi pidana penjara dan denda dengan ancaman hukuman yang cukup berat, tergantung pada jenis kekerasan dan dampak yang ditimbulkan kepada korban.

Namun demikian, meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap anak menimbulkan keraguan mengenai efektivitas penerapan hukum tersebut. Banyak masyarakat menilai bahwa hukuman yang dijatuhkan terkadang belum mampu memberikan rasa keadilan bagi korban maupun efek jera bagi pelaku. Tidak sedikit pula kasus yang berakhir dengan hukuman ringan, penyelesaian damai, atau bahkan tidak ditindaklanjuti secara maksimal.

Dampak Kekerasan terhadap Anak

Kekerasan terhadap anak bukan hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang berkepanjangan. Anak yang menjadi korban kekerasan dapat mengalami gangguan mental, rasa takut berlebihan, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan bersosialisasi ketika dewasa nanti.

Pada kasus tertentu, trauma yang dialami korban bahkan dapat memengaruhi masa depan mereka, baik dalam pendidikan, hubungan sosial, maupun kehidupan keluarga di kemudian hari. Oleh sebab itu, kekerasan terhadap anak tidak dapat dianggap sebagai persoalan sepele.

Apakah Hukuman Berat Sudah Cukup?

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa hukuman berat perlu diberikan kepada pelaku kekerasan anak agar menimbulkan efek jera. Bahkan, muncul tuntutan agar pelaku diberikan hukuman maksimal karena dianggap telah merusak masa depan anak.

Namun, hukuman berat saja sebenarnya belum cukup untuk menyelesaikan persoalan. Faktanya, kasus kekerasan terhadap anak masih terus terjadi meskipun ancaman pidana telah diatur secara tegas dalam undang-undang. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan kekerasan anak bukan hanya terletak pada berat atau ringannya hukuman, melainkan juga pada lemahnya pencegahan dan pengawasan sosial.

Efek jera memang penting, tetapi upaya perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Pentingnya Pencegahan dan Perlindungan Anak

Selain penegakan hukum yang tegas, pencegahan menjadi langkah utama untuk mengurangi kekerasan terhadap anak. Edukasi kepada orang tua, guru, dan masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak perlu terus ditingkatkan.

Anak juga perlu diberikan pemahaman mengenai hak-hak mereka dan keberanian untuk melapor apabila mengalami kekerasan. Di sisi lain, lingkungan keluarga dan sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.

Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, serta masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan sistem perlindungan anak yang efektif. Penanganan kasus kekerasan anak juga harus memperhatikan pemulihan korban, bukan hanya menghukum pelaku.

Upaya yang Perlu Dilakukan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas perlindungan anak antara lain:

  • Memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan anak,

  • Melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap kasus-kasus kekerasan,

  • Meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat,

  • Memperkuat peran keluarga dan sekolah dalam perlindungan anak,

  • Serta memberikan pendampingan psikologis bagi korban agar dapat pulih dari trauma.

Dengan langkah yang menyeluruh, perlindungan anak tidak hanya berhenti pada proses hukum, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.

Kesimpulan

Hukum pidana bagi pelaku kekerasan anak memang penting sebagai bentuk perlindungan hukum dan pemberian efek jera. Namun, hukuman semata tidak cukup apabila tidak diiringi dengan upaya pencegahan dan penguatan sistem perlindungan anak.

Kekerasan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat. Anak bukan hanya korban yang harus dilindungi, tetapi juga masa depan bangsa yang harus dijaga. Oleh karena itu, penegakan hukum yang tegas, edukasi, serta lingkungan yang aman menjadi kunci utama dalam mencegah kekerasan terhadap anak di Indonesia.