Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Pendidikan Vokasi: Menghadapi Stigma dan Tantangan di Pasar Kerja
17 Juni 2024 10:25 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Niken Ayu Putri Agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Bicara mengenai pendidikan di Indonesia, kita tidak boleh melupakan wacana mengenai pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi menjadi salah satu opsi pendidikan strategis untuk para pelajar yang memiliki orientasi untuk bekerja selepas sekolah. Berbeda dari pendidikan sarjana yang pendekatannya cenderung teoretis, pendidikan vokasi adalah bentuk pendidikan yang berfokus pada penguasaan skill atau keterampilan (Suharno et al., 2020). Melalui sistem vokasi, lembaga pendidikan diharapkan mampu mencetak lulusan yang mampu memenuhi kebutuhan industri dan berkualitas di bidangnya.
ADVERTISEMENT
Mengingat tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan industri, kurikulum pendidikan vokasi didesain dengan komposisi praktik lebih banyak dibandingkan teori. Meski demikian, di beberapa universitas, pengajar vokasi bukan praktisi asli, melainkan pengajar sarjana. Dampaknya, praktik yang diajarkan terasa kurang tajam. Selain diberi mata kuliah praktikum, pelajar vokasi didorong untuk melakukan dan mencari pengalaman magang di luar sekolah atau kampusnya. Dengan terjun secara langsung ke industri atau perusahaan dan institusi, pelajar vokasi akan memperoleh ilmu dan pengalaman kerja yang nyata sekaligus meningkatkan keterampilan. Sebelum lulus dari pendidikannya, mereka sudah memiliki gambaran dan pemahaman terkait lapangan kerja.
Akan tetapi, sangat disayangkan, keterampilan kerja lulusan pendidikan vokasi tidak selalu berjalan beriringan dengan kesempatan kerja untuk mereka. Dewasa ini, para pelajar dari pendidikan sarjana juga sangat getol untuk mengikuti magang layaknya pelajar vokasi. Akibatnya, terjadi tumpang tindih tenaga kerja antara pelajar vokasi dan sarjana di pasar tenaga kerja.
ADVERTISEMENT
Tidak jarang pelajar atau lulusan vokasi dan sarjana bersaing dalam satu posisi yang sama di suatu perusahaan. Seandainya keduanya dipandang setara, tentu tidak menjadi masalah. Kenyataannya, mereka yang berlatar belakang pendidikan vokasi masih kerap menjadi second choice dan diremehkan. Ironis memang, pendidikan vokasi yang konon katanya untuk melahirkan individu siap kerja, ketika pelajar/lulusannya terjun mencari kerja justru dinomorduakan karena perusahaan cenderung mencari lulusan sarjana yang telah menelan lebih banyak teori. Rekrutmen BUMN dan CPNS pun masih didominasi lulusan sarjana, sedangkan formasi untuk lulusan vokasi sering kali hanya sedikit.
Magang melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dapat memberi ruang bagi pelajar vokasi untuk mengambil praktik dan memperdalam keahliannya. Namun, program tersebut juga menjadi contoh sekaligus pemicu kian tumpang tindihnya pelajar vokasi dan sarjana di ranah kerja.
ADVERTISEMENT
MSIB seolah menjadi ajang mengasah skill bagi para pelajar pendidikan sarjana dengan mencoba bekerja langsung di industri. Pada kriteria dan kualifikasi pemagang yang dicari pun, perusahaan lebih sering menyebut “S-1”, meskipun posisi tersebut juga sangat sejalan dengan vokasi. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan masih kurang memberi perhatian pada pelajar vokasi yang sudah lebih terlatih untuk praktik kerja. Menurut S, seorang mahasiswa vokasi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sarjana yang mengikuti MSIB, sudah memiliki nilai plus dan berpotensi mengalahkan lulusan vokasi yang tidak mengikuti MSIB di pasar kerja di kemudian hari.
Apa yang dialami para pelajar dan lulusan vokasi tersebut disebabkan oleh stigma masyarakat yang masih memandang sebelah mata pendidikan vokasi. Celoteh pertanyaan, seperti “Kenapa tidak ambil S-1 saja?” dan “ambil vokasi karena tidak lolos S-1, ya?” sudah tidak asing lagi di telinga anak-anak vokasi. Menurut Kurniawan (dalam Suharno et al., 2020), pendidikan vokasi di Indonesia masih dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Tidak sedikit anggota masyarakat yang meremehkan vokasi, menganggapnya berada di bawah sarjana. Perusahaan pun masih terjebak dalam stigma semacam itu sehingga pelajar vokasi terus disepelekan.
ADVERTISEMENT
Mismatch atau ketidaksesuaian antara industri dan keterampilan yang dimiliki juga menyebabkan kurang terserapnya lulusan vokasi di pasar tenaga kerja. Kurikulum vokasi masih kurang responsif terhadap kebutuhan industri (Suharno et al., 2020) sehingga keterampilan yang diperoleh pelajar vokasi tidak cukup kuat untuk diaplikasikan di dunia kerja. Pimpinan sejumlah perusahaan menilai lulusan vokasi yang mereka terima bekerja masih kurang kompeten dan belum siap kerja (Suharno et al., 2020).
Suharno et al. (2020) berpendapat bahwa para pemangku kepentingan di Indonesia belum sepenuhnya paham konsep pendidikan vokasi sehingga pendidikan tersebut belum disiapkan secara matang dan belum bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap masyarakat dan negara. Padahal, pendidikan vokasi yang direalisasikan secara optimal akan menghasilkan pertumbuhan industri dan ekonomi yang makin baik di suatu negara (Malley & Keating, 2000). Sementara itu, Wardiman (dalam Suharno et al., 2020) mengungkapkan bahwa semakin banyak pendidikan vokasi di suatu daerah, maka akan semakin baik pula kesejahteraan komunitas lokal.
ADVERTISEMENT
Pendidikan vokasi memerlukan atensi lebih dalam lagi untuk perkembangannya. Tidak melulu pendidikan sarjana, vokasi juga harus turut dioptimalkan kualitasnya, baik dari segi kurikulum, pengajar, sampai fasilitasnya. Harus ada batas yang jelas dan tegas antara pendidikan vokasi dan sarjana agar keduanya fokus di tujuannya masing-masing dan dapat menyongsong dunia kerja yang selaras. Dukungan industri terhadap pendidikan vokasi pun disebut belum memadai (Suharno et al., 2020). Maka dari itu, mengomunikasikan dan menjembatani hubungan antara pendidikan vokasi dan industri juga sebaiknya diterapkan oleh pemangku kepentingan.
Pendidikan vokasi dan sarjana sejatinya memiliki fokus dan tujuan berbeda. Hanya saja, di era sekarang ini, baik pelajar vokasi maupun sarjana, sama-sama dijadikan tenaga siap kerja setelah lulus dari pendidikannya. Perusahaan dan industri berlomba-lomba mencari pekerja yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman kerja (magang). Alhasil, mahasiswa pun semakin berambisi untuk mencari pengalaman magang di luar kegiatan akademiknya. Yang terakhir, negara, melalui program-program yang dicetuskannya mendukung pembentukan tenaga kerja tersebut.
ADVERTISEMENT
Lama-kelamaan, kompetensi lulusan vokasi dan sarjana menjadi serupa sebab keduanya sama-sama pernah melakukan magang selama masa pendidikannya dan akhirnya, kembali lagi, perusahaan cenderung memprioritaskan mereka yang memiliki latar belakang sarjana. Besar harapannya, di masa mendatang, pendidikan vokasi dapat mendobrak stigma terkait vokasi yang mengakar di masyarakat dan menghadapi tantangan persaingan di pasar kerja.
Daftar Pustaka
Malley, J., & Keating, J. (2000). Policy influences on the implementation of vocational education and training in Australian secondary schools 1. Journal of Vocational Education and Training, 52(4), 627-652. https://doi.org/10.1080/13636820000200140
Suharno, S., Pambudi, N. A., & Harjanto, B. (2020). Vocational education in Indonesia: History, development, opportunities, and challenges. Children and Youth Services Review, 115, 105092. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2020.105092
ADVERTISEMENT