Konten dari Pengguna

Menolak Terkurung Kubikel: Otak Juga Butuh Segarnya Ruang Terbuka

Sumber : Unsplash/Evgeniy Beloshytskiy
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Unsplash/Evgeniy Beloshytskiy

Pernah tidak, kamu duduk berjam-jam di dalam ruangan ber AC, menatap layar laptop atau ponsel, lalu tiba-tiba merasa kepala rasanya kosong? Badan rasanya dingin, tapi entah kenapa ada rasa penat yang bikin emosi gampang tersulut. Kita sering mengira kalau rasa buntu saat belajar, bekerja, atau memikirkan tugas kuliah itu bisa selesai kalau kita terus-terusan mengunci diri di kamar sambil merenung. Padahal, makin lama kita terkurung di ruangan tertutup, pikiran kita bukannya makin jernih, malah makin buntu.

Sebagai mahasiswa yang mendalami bidang teknologi dan informatika, saya akrab banget dengan dunia digital. Setiap hari, hidup saya berputar di depan monitor, menganalisis data, dan menyelesaikan tugas-tugas di layar virtual. Ironisnya, di era sekarang, hampir semua orang mengalami hal yang sama. Kita menjadi "generasi rebahan yang mager" di dalam gua modern kita masing-masing. Kita memperlakukan diri kita seperti mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti di dalam ruangan tertutup selama belasan jam.

Di sinilah letak kekeliruan yang sering kita lakukan secara kolektif. Ketika otak kita lelah karena urusan pekerjaan atau tugas, apa yang biasanya kita lakukan untuk mencari hiburan? Mayoritas dari kita akan mengalihkan pandangan ke layar yang lain: scrolling media sosial, menonton video, atau bermain game. Kita terjebak dalam ilusi bahwa "istirahat" berarti berhenti bekerja, padahal mata dan pikiran kita masih terus dipaksa mengonsumsi informasi digital. Kita lupa bahwa tubuh manusia itu tidak didesain untuk menyatu dengan kursi dan ruangan ber-AC sepanjang hari.

Secara psikologis, otak kita itu punya batas energi untuk fokus. Ketika energi itu habis karena dipakai melihat teks dan gambar di layar terus menerus, otak akan mengalami kelelahan mental yang luar biasa. Menariknya, ilmu pengetahuan modern punya jawaban yang sangat sederhana untuk masalah ini: kita hanya perlu melangkah keluar ruangan. Riset-riset terbaru menunjukkan bahwa interaksi dengan alam terbuka, bahkan hanya dalam durasi singkat, punya kemampuan alami untuk memulihkan pikiran yang ruwet (attention restoration). Sederhananya, melihat pohon, menghirup udara segar, dan merasakan angin di luar ruangan itu seperti tombol refresh alami yang menurunkan tingkat stres emosional kita.

Melangkah keluar ruangan bukan berarti kita anti-teknologi atau malas melanjutkan pekerjaan. Justru, ini adalah cara paling bijak untuk merawat kesehatan mental kita sendiri. Kadang-kadang, jalan keluar dari masalah rumit yang sedang kita hadapi tidak akan ketemu kalau kita terus-terusan memelototi layar di dalam ruangan tertutup. Solusi itu sering kali baru muncul ketika kita mau melonggarkan urat saraf, berjalan kaki di bawah sinar matahari, dan menikmati suasana luar. Jadi, ambillah jeda, matikan layarmu sejenak, dan tengoklah dunia di luar sana. Otakmu butuh udara segar, bukan cuma embusan angin dingin dari mesin AC.

Daftar Pustaka

1. A. Basu, J. Duvall, and R. Kaplan, "Attention restoration in the time of COVID-19: An underutilized resource," Landscape and Urban Planning, vol. 200, p. 103814, Aug. 2020, doi: 10.1016/j.landurbplan.2020.103814.

2. G. R. Meredith, D. A. Rakow, E. R. Eldermire, C. G. Madsen, S. P. Shelley, and N. A. Sachs, "Minimum time dose in nature to positively impact the mental health of college students: A systematic review," Frontiers in Psychology, vol. 11, p. 292, Feb. 2020, doi: 10.3389/fpsyg.2020.00292.

3. A. M. Dzhambov et al., "Does green space protect against psychological distress in higher education students during lockdown?," Urban Forestry & Urban Greening, vol. 62, p. 127166, July 2021, doi: 10.1016/j.ufug.2021.127166.