Beauty Bias Hal Lumrah di Dunia Kerja?

Nilam Alfa Salmah
Pejuang rupiah seorang employee, Seorang Mahasiswi Sastra Indonesia UNPAM
Konten dari Pengguna
9 Oktober 2022 20:45 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Nilam Alfa Salmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Dokumentasi Pribadi
Pembahasan terkait bias. Bias menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kecenderungan untuk mendukung atau menentang sesuatu hal, orang atau kelompok daripada yang lain dengan cara yang kurang adil.
ADVERTISEMENT
Bias yang kita bahas bukanlah bias yang ada di dunia Korean Pop. Yang memiliki arti anggota grup idola yang difavoritkan. Bias masih marak di dunia nyata baik untuk laki-laki maupun perempuan. Apalagi terkait beauty bias yang mana sering kita temui di masyarakat bahkan untuk bahan candaan dengan cara menghina fisik.
Di dunia kerjapun kita dapati adanya beauty bias. Saya akui kalau orang yang memiliki wajah good looking emang enak dipandang. Tetapi apakah secara terang-terangan di dunia kerja hanya membutuhkan orang-orang yang good looking saja? Apakah skill tak diperlukan? Seringkali saya temui ketika ada lowongan kerja dengan persyaratan good looking. Maksud dari good looking tersebut apakah hanya berlaku bagi yang memiliki wajah yang cantik dan tampan? Atau berlaku untuk orang yang enak dipandang misal dengan berpakaian sopan dan rapi? Karena, dengan kata-kata good looking terkadang membuat orang yang merasa dirinya tak tampan atau cantik sudah mundur terlebih dahulu sebelum mendaftar. Faktanya, lowongan kerja di Indonesia sedikit sedang sumber daya manusia Indonesia yang membutuhkan pekerjaan sangatlah banyak.
ADVERTISEMENT
Apakah masyarakat Indonesia banyak menganggur dikarenakan tak good looking? Perlu dibenahi lagi untuk kata-kata good looking jika tidak memiliki skill yang tak mumpuni. Dalam dunia kerja juga dibutuhkan orang-orang good looking bilamana untuk yang bekerja sebagai frontliner atau kerja yang berhadapan langsung dengan konsumen guna untuk menarik minat banyak konsumen.
Beauty bias sangat sensitif dan banyak diperbincangkan dalam masyarakat bahkan di dunia kerja pun kita dapati. Saya ambil contoh salah satu akun di aplikasi TT bernama Ryan Jr. Dalam videonya ia mengomentari terkait video yang menunjukkan seorang bos atau senior yang memandang fisik pada anak magang. Menunjukkan seorang bos yang malas mengajari pada anak magang yang jelek karena tidak ada kesenangan dan faedah baginya. Ryan Jr mengatakan bahwa ia pernah mengalaminya sendiri dahulu pernah mengalami kejadian saat magang dihina "Lo sudah jelek, tak bisa apa-apa, tak bisa kerja". Hal tersebut membuat dirinya trauma hingga ia hanya mampu bertahan selama 20 hari dan ia memilih berhenti di tempat kerja tersebut.
ADVERTISEMENT
Apakah bias di dunia kerja hanya berlaku terkait beauty bias saja? saya rasa bias yang ada di dunia kerja berlaku pula bagi anak magang atau anak-anak baru. Di mana kita dapat perbedaan perlakuan dari senior.
Setiap tempat kerja yang kita tempati pasti adanya senioritas karena faktanya senioritas tak berlaku di sekolah saja. Di dunia kerja pun ada yang merasa dirinya senior hingga bisa menindas junior dengan seenaknya. Apakah saya pernah mengalami bias di dunia kerja? Jawabannya pasti pernah. Hingga saat ini masih melekat di kepala. Saat saya sebagai anak baru di perusahaan, saya ikut morning briefing dan seperti biasa perkenalan diri di hadapan semua oang bagi yang baru join. Dalam morning briefing tersebut ada game. Game tersebut pertandingan antar divisi di mana satu tim perdivisi melawan dengan divisi lain. Ada salah satu atasan yang menyuruh dan memaksa saya untuk ikutan game tersebut. Saya yang merasa anak baru tersenyum malu dan merasa segan untuk ikut game tersebut. Saat saya mau maju dalam barisan, ada salah satu senior yang mendorongku dan ia mengatakan, "Anak baru jangan ikutan dulu". Saya hanya bisa mundur dengan dorongan yang ia lakukan. Dengan cepat saya meminggirkan diri dan hanya tersenyum kecut. Saya tak tahu apakah dikarenakan saya anak baru atau tak good looking. Karena, saya menyadari bahwasanya ketika saya sudah beberapa bulan di perusahaan, ada yang mengatakan bahwa saya sudah mulai berubah dan terlihat glow up. Karena, waktu pertama kali ketemu saat perkenalan diri saya terlihat polos, kusam dan hitam.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu mengapa beauty bias hal yang sensitif. Karena, dengan adanya beauty bias orang - orang akan minder dan merasa dirinya kurang pantas. Dan perlu diubah untuk standar kecantikan Indonesia apabila orang yang putih adalah orang yang good looking. Pada dasarnya kita akan terlihat cantik atau tampan pada orang yang tepat.