Representasi Anak Sebagai Investasi

Nilam Alfa Salmah
Pejuang rupiah seorang employee, Seorang Mahasiswi Sastra Indonesia UNPAM
Konten dari Pengguna
20 Januari 2024 19:12 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Nilam Alfa Salmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber gambar: Galeri Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar: Galeri Pribadi
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Seringkali kita mendengar tentang investasi baik di media sosial, media massa ataupun kehidupan sehari-hari. Investasi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Kita bisa lihat bahwa investasi berkaitan dengan ekonomi atau dunia bisnis. Namun, dalam dunia bisnis investasi tidak selamanya akan menghasilkan keuntungan bisa saja ada saatnya rugi.
ADVERTISEMENT
Investasi berguna untuk masa depan kita. Seperti halnya kita menabung untuk masa depan. Namun, perbedaannya bila menabung memiliki nilai dan hasil yang sama sedangkan investasi dapat menghasilkan keuntungan dan kerugian, bisa bertambah atau berkurang hasil uangnya. Jika mau berinvestasi tidak dianjurkan menggunakan uang yang siap pakai. Uang yang digunakan untuk berinvestasi sifatnya dingin yang mana uang tersebut tidak dibutuhkan secara terburu-buru atau mendadak. Dikarenakan kita tidak tahu uang yang kita investasikan akan menguntungkan atau justru merugi.
Kata investasi sendiri bukan hanya ditunjukkan sebagai keuntungan bisnis melainkan bisa digunakan untuk konotasi. Seperti halnya konotasi ‘investasi badan’ yang memiliki maksud di mana kita rajin merawat diri seperti menggunakan skin care,dan olahraga agar memiliki badan yang bagus dan indah dipandang. Seperti ucapan salah satu artis yang bernama Nia R yang berseliweran dalam sosial media yaitu “Perkara masalah dua puluh ribu, dua puluh lima ribu tidak ada masalah. Makanya invest di muka sama di badan.” Ucapan tersebut menunjukkan bahwasanya memakai baju murah pun akan cocok dan tak terlihat murahan jikalau badan dan wajah terawat.
ADVERTISEMENT
Selain konotasi investasi yang merujuk pada kecantikan, anak juga dijadikan investasi oleh orang tuanya. Pernyataan mengenai anak dianggap investasi orang tua itu benar adanya. Walaupun tak semua orang tua menjadikan anaknya sebagai investasi di masa tuanya. Dalam realita kehidupan, terdapat orang tua yang menginginkan anaknya sukses dalam hal materi sehingga bisa menghidupi atau memberi nafkah kepada orang tuanya. Saya ambil contoh dalam content TT yang bernama Bang Z yang di dalamnya terdapat beberapa ibu-ibu yang hidup di desa. Dan dalam content tersebut berisi permainan tanya jawab bilamana yang ditanya bisa menjawab, akan mendapatkan hadiah. Dalam permainan tersebut terdapat pertanyaan tentang ‘apa tujuan memiliki anak?’ dan kebanyakan ibu-ibu dalam content tersebut menjawab tujuan memiliki anak adalah agar anak sukses atau kaya, dapat kerja untuk mengurus orang tua saat tua nanti. Maksud dari investasi anak merujuk pada hal negatif tergantung pandangan orang. Karena, ada beberapa orang tua mengharapkan anaknya mendapatkan pekerjaan yang bagus dan memiliki uang yang banyak agar bisa menafkahi orang tuanya saat tua nanti.
ADVERTISEMENT
Bahkan terdapat kajian tentang investasi anak dalam kajian Ustazah Halimah Alaydrus yang bertema ‘Bersama dalam Cinta’ pada tanggal 15 Januari 2024. Beliau mengatakan bahwasanya anak bukan untuk investasi melainkan anak adalah kelanjutan sujudmu dan ibadahmu kepada Allah SWT setelah kematian menjemputmu. Bisa kita lihat bahwa Ustazah Halimah Alaydrus mau menyampaikan pesan bahwasanya anak bukan untuk investasi yang berkaitan dunia seperti untuk dijadikan barang yang menghasilkan uang.
Saya bisa melihat dari dua sisi. Bahwasanya kita sebagai anak bisa saja dijadikan investasi keduanya antara dunia dan akhirat. Seperti halnya kita sebagai anak membantu orang tua dalam hal materi sebagai balas budi atau rasa bakti sebagai anak kepada orang tua agar orang tua bisa menikmati masa tuanya dengan tenang tanpa perlu lelah untuk mencari uang. Dan sebagai muslim, kita bisa jadikan anak investasi akhirat yang mana kita ajarkan atau memberi fasilitas untuk belajar tentang agama sehingga menghasilkan keturunan yang saleh. Dari hasil ajaran agama tersebut, kita bisa mendapatkan kiriman doa-doa dari anak-anak yang telah terdidik agamanya. Dengan kesalehan anak, pastinya orang tua akan mendapatkan pahala. Sedangkan kebalikannya jika anak melanggar atau melakukan dosa yang dilarang Tuhan, maka dosa-dosanya akan mengalir juga pada orang tuanya.
ADVERTISEMENT
Jadi, kita bisa ambil sisi positifnya saja dalam konteks investasi anak. Meski masih ada beberapa yang menganggap bahwa investasi anak seperti halnya anak dijadikan boneka uang. Terkadang harapan-harapan tidak sesuai impian. Orang tua yang mengharapkan kelak di masa tuanya akan diurus oleh anak-anaknya, pada kenyataannya tak semua anak mau mengurus orang tuanya di masa tua apalagi sudah memiliki rumah tangga sendiri. Maka, otomatis lebih mementingkan rumah tangga sendiri dan ini berlaku pada anak yang sudah memiliki rumah masing-masing.