Sebagian Orang Tak Excited Menyambut Hari Raya Idul Fitri

Nilam Alfa Salmah
Pejuang rupiah seorang employee, Seorang Mahasiswi Sastra Indonesia UNPAM
Konten dari Pengguna
8 April 2024 13:16 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Nilam Alfa Salmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Setiap tahun kita sudah biasa dengan adanya budaya mudik. Mudik yang berarti pulang ke kampung halaman sendiri atau ke kampung halaman pasangan. Budaya mudik dilakukan ketika libur lebaran atau hari raya Idul Fitri oleh orang-orang rantauan yang mencari nafkah, dan belajar di kota orang. Tak heran pula jalanan akan macet ketika orang-orang sudah mulai mudik baik di jalan tol maupun jalanan biasa. Semua orang merasakan nikmatnya perjalanan mudik yang begitu melelahkan akan tetapi tidak menjadikan hal tersebut orang-orang berhenti mudik karena merindukan keluarga di kampung halaman.
ADVERTISEMENT
Nuansa hari raya begitu indah ketika kita menikmatinya dengan baik. Bahkan jalanan ibu kota sepi ketika orang-orang sudah mudik. Ibu kota biasa dikenal dengan macetnya, maka ketika hari raya mendatang, jalanan akan terasa sepi ditinggal orang mudik. Ketika acara hari raya Idul Fitri, memori yang membekas yakni adanya kumpul keluarga, meminta maaf atau saling memaafkan dengan berkeliling ke rumah sesepuh dan para tetangga, adanya makanan khas yakni opor ayam, dan uang THR. Namun, memori tersebut diingat orang saat masa kecil. Berjalannya waktu, ketika dewasa sebagian orang sudah mulai tak semangat menyambut hari raya Idul Fitri.
Banyak keluhan yang dirasakan orang-orang di media sosial saat menyambut hari raya. Ada alasan tertentu mengapa sebagian orang bahkan kebanyakan orang tak excited menyambut hari raya Idul Fitri. Alasan tersebut adalah pertama, orang tua yang disayangi telah tiada yang biasanya saat hari raya kumpul dengan orang tua menikmati masakan atau kue buatan ibu. Kedua, kurang suka saat kumpul keluarga dengan kerabat karena saat lagi kumpul keluarga tersebut akan ada pertanyaan kapan wisuda, kapan kerja, kapan nikah, kapan hamil bahkan kapan menambah anak lagi. Ketiga, tidak suka kumpul keluarga takut ada pertanyaan dan dibandingkan tentang pencapaian. Keempat, tak ketinggalan pula ketika kumpul keluarga akan dilihat dan dikomentari tentang perubahan fisik. Hal tersebut orang-orang memilih tak pulang kampung dan memilih kerja saat libur hari raya karena malas bertemu dengan kerabat yang memiliki mulut yang tak bisa dikontrol.
ADVERTISEMENT
Semua orang menikmati bulan Ramadhan akan tetapi dihancurkan dengan satu hari karena ucapan keluarga atau kerabat yang tak enak didengar. Walaupun pertanyaan demi pertanyaan dari keluarga hanyalah basa-basi akan tetapi basa-basi tersebut sudah basi seolah-olah tak bisa mencari topik lain yang tidak menyinggung lawan bicara. Mungkin saja bagi mereka pertanyaan basa-basi tersebut biasa bahkan tidak membuat orang tersinggung tetapi siapa yang tahu hati seseorang. Dari beberapa keluhan yang kita lihat di media sosial, bisa disimpulkan bahwasanya tak semua orang menikmati kemenangan di hari kemenangan dikarenakan ulah keluarga yang seolah-olah menang dari kemenangan pencapaian yang didapatkan dibanding dengan saudara yang lain. Bukan hanya lingkup pertemanan, dalam keluarga pun terdapat pamer pencapaian baik itu pencapaian nyata atau manipulasi. Dan mental pun dapat jatuh oleh keluarga yang memiliki mulut sinis tak bermoral atau pun perilaku buruk dan diskriminasi.
ADVERTISEMENT
Selain nyinyiran tetangga yang sudah biasa kita dapatkan, keluarga pun ikut andil dalam menyakiti hati dan mematahkan mental anggota keluarga sendiri. Lalu, bagaimana kita menyikapinya dalam keluarga dan sebagai anggota keluarga bagaimana menyikapinya dengan saudara lain? Tentu saja, sebaik-baiknya keluarga berilah do’a yang baik serta positif untuk memotivasi bukan menuntut dengan pencapaian orang lain. ketika ada kesalahan maka tegurlah, berikan arahan atau pun carikan solusi. Apalagi pada hari raya Idul Fitri yang mana keluarga besar berkumpul yang dilakukan pada saat hari raya saja maka manfaatkan dengan harmonis, curahkan kebaikan agar hari raya bukan hal yang ditakuti tetapi dinantikan dan dirindukan.