Konten dari Pengguna

Pantulan Hidup dari Gerobak Cermin yang Melaju Pelan: Perjuangan Penjual Lansia

Nina Ariyani

Nina Ariyani

Mahasiswa Universitas Amikom Purwokerto

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nina Ariyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bapak Sukarto, Penjual Cermin di Purwokerto. Sumber. Dokumentasi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Bapak Sukarto, Penjual Cermin di Purwokerto. Sumber. Dokumentasi Penulis

Pantulan hidup dari gerobak cermin yang berjalan pelan di bawah matahari Purwokerto. Deretan cermin tersusun rapi, memantulkan langit, jalanan, dan wajah-wajah yang berlalu begitu saja. Setiap pantulan menyimpan cerita yang berbeda. Namun di balik gerobak cermin yang terus bergerak pelan itu, ada satu kehidupan yang tak pernah berhenti berjuang kehidupan seorang penjual lansia yang bertahan dari hari ke hari.

Penjual lansia itu kini berusia 75 tahun dan berasal dari Salem, Brebes. Dalam perjalanan hidupnya, beliau sempat berpindah-pindah kota Serang, Jakarta, hingga Lampung sebelum akhirnya singgah di Purwokerto sejak masa pandemi Covid-19. Berdagang cermin bukan pekerjaan yang idi tekuni sejak muda, melainkan pilihan yang dijalani untuk tetap bertahan di usia senja, ketika pilihan kerja semakin terbatas.

Setiap pagi sekitar pukul tujuh, gerobak mulai didorong keluar. Di dalamnya terdapat sekitar dua puluh cermin dengan harga jual antara Rp90 ribu hingga Rp150 ribu. Tidak ada rute tetap. Namun, biasanya beliau melewati GOR, Unsoed, dan Cerme dilalui mengikuti insting dan harapan akan pembeli.

Sebagaimana pantulan cermin yang mudah berubah arah, penghasilan pun tak pernah bisa dipastikan. Ada hari ketika beberapa cermin terjual, tetapi ada pula hari ketika tak satu pun laku. Jika ada cermin pecah di jalan, kerugian harus ditanggung sendiri. Tidak ada gaji, tidak ada jaminan. Semua risiko melekat pada setiap langkah.

“Kalau ngga ada penghasilan ya resiko,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Di sepanjang jalan cermin-cermin itu memantulkan berbagai wajah kota: mahasiswa yang bergegas, kendaraan yang melaju cepat, dan bangunan yang berdiri kokoh. Akan tetapi, di antara semua pantulan itu ada satu kehidupan yang kerap luput dari perhatian kehidupan mereka yang bekerja di usia senja tanpa kepastian.

Beliau tinggal di rumah milik bosnya di kawasan Karangpucung, sekaligus tempat mengambil barang dagangan. Hari-hari dijalani bersama seorang teman, sementara keluarga berada di kampung halaman. Dua anak lelakinya telah berumah tangga. Waktu pulang tidak pernah pasti kadang sebulan sekali, kadang dua bulan, kadang dua minggu semuanya bergantung pada keadaan.

Bagi beliau berdagang bukan tentang mengejar untung besar, yang terpenting adalah bisa makan dan menjalani hari esok. Prinsip hidupnya sederhana yang lahir dari pengalaman panjang.

“Kalau dagang itu siap untung, siap rugi. Kalau mau untung saja, jangan dagang,” katanya pelan sambil tertawa kecil.

Kalimat itu menjadi pegangan. Seperti cermin yang beliau jual rapuh dan mudah pecah hidup juga menuntut kehati-hatian. Karena itu, gerobak didorong pelan, langkah dijaga, dan harapan tetap disimpan meski tak selalu terpenuhi.

Gerobak cermin itu akan terus berjalan pelan, menyusuri kota dengan segala ketidakpastiannya. Dari pantulan kaca yang beliau jual tergambar potret kehidupan yang bertahan tanpa jaminan, tanpa sorotan, namun penuh keteguhan. Kisah ini bukan sekadar tentang berdagang, melainkan tentang bagaimana hidup tetap dijalani pelan, sederhana, dan setia pada perjuangan.