Semangat Dua Bapak Penarik Becak Pangandaran yang Terus Mengayuh Harapan

Saya merupakan mahasiswi Universitas Padjadjaran program studi Ilmu Komunikasi K. Pangandaran semester awal.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nina Rahma Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Neng…masih muda, masih banyak harapan ke depannya. Nikmatin aja, jangan merugikan orang, dan percaya sama Yang Maha Kuasa,” ucap Mangun dan Sudarman

Mangun (66) dan Sudarman (63), dua sosok penarik becak yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya di atas roda becak sederhana. Mereka bukan sekadar mengantar penumpang, mereka berjuang mencari nafkah untuk kehidupan. Meski tubuhnya tak lagi sekuat dahulu, namun semangatnya masih terus membara.
“Kita mulai dari jam lima subuh, kadang sampai habis isya. Tapi ya tergantung ada muatan atau enggak,” ujar Mangun (66), Kamis (20/11/2025) yang sudah menarik becak sejak tahun 2000 hingga saat ini.
Dahulu, ia masih mengayuh becak “gowes” sebelum akhirnya tiga tahun lalu beralih ke becak motor (bentor). Meski lebih mudah, tantangan tidak berhenti datang. Setiap hari mereka harus menghadapi ketidakpastian, kadang hanya mendapat tiga sampai empat penumpang, dan kadang harus pulang dengan tangan kosong.
“Dulu bisa rame, sekarang paling seminggu itu dapet 100 ribu sampe 150 ribu. Tapi cuma dua hari doang di hari sabtu dan minggu,” gumam Sudarman (63), Kamis (20/11/2025).
Hal tersebut terjadi sejak kehadiran ojek online (ojol), motor ATV, sepeda listrik, dan tersedianya antar jemput dari pihak hotel, membuat pelanggan becak semakin langka sehingga kurang dilirik keberadaannya.
“Sekarang orang lebih suka naik ojek online karena lebih cepet.” Kata Mangun (66)
Tak heran mengapa komunitas becak Pangandaran saat ini sudah berubah. Dahulu Lokasi kumpul para penarik becak masih kondusif. Sekarang semuanya serba tak pasti. Namun satu hal yang tetap, yaitu sistem giliran diantara mereka untuk menjaga kerukunan.
“Alhamdulillahnya, enggak ada yang saling berebut kalau lagi ramai penumpang, sistemnya bergilir aja biar enggak rebutan,” Kata Mangun (66)
“Karena kalau enggak gitu rebutan neng, terus bisa berantem” sambung Sudarman sambil tersenyum.
Ada suka, ada juga duka. Kadang penumpang suka bercerita, kadang juga ada yang memberi ongkos lebih. Tetapi, tidak pernah ada pengalaman buruk bersama penumpang saat menarik becak.
“Alhamdulillah, penumpangnya baik-baik. Dari awal masalah harga sudah tawar menawar, jadi tidak pernah ada masalah,” ujar Mangun (66).
Namun, ada juga kisah yang menyedihkan tentang seorang rekan sesama becak yang mengalami gangguan mental, sering membawa penumpang keliling tanpa tujuan hingga tak memberikan kembalian uang.
“Sudah sering ditegur neng, tapi ya namanya orang stres,” lirih Mangun (66).
Selain menjadi penarik becak, Mangun (66) dan Sudarman (63) juga menjadi seorang nelayan dan petani. Mangun menyebutkan, bahwa ia terkadang menangkap ikan ke laut sebagai tambahan untuk mencari nafkah. Sudarman (63), berkata bahwa ia juga mencari tambahan nafkah dengan menjadi nelayan dan mengurus sawah miliknya. Namun, terbatasnya tenaga yang dimiliki oleh Mangun (66) dan Sudarman (63) membuat mereka tetap memilih untuk menarik becak sebagai sumber penghasilan utama.
Beberapa tahun terakhir dunia mengalami pandemi covid, mengharuskan kita menaati peraturan untuk diam di rumah saja #dirumahaja dan #stayathome. Pada masa itu, Mangun (66) dan Sudarman (63) hanya berdiam di rumah saja tidak melakukan pekerjaan narik becak.
“Enggak, di rumah,” jawab Sudarman (63).
Teknologi Mengubah Segalanya: Antara Ancaman atau Adaptasi
Perkembangan teknologi transportasi khususnya kehadiran layanan ojek online (ojol) seperti Gojek dan Grab, telah membawa perubahan pada mobilitas di Indonesia. World Bank (2020) mencatat, dalam kurun waktu 2015-2019, penggunaan transportasi online di kota-kota besar Indonesia melonjak dari 2% menjadi 19%, sementara moda tradisional seperti becak terus menurun.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada identitas sosial dan budaya para pekerja informal. Dikutip dari Penelitian Universitas Gadjah Mada (2019) juga menyoroti bahwa 72% penarik becak di Yogyakarta mengalami penurunan penghasilan harian, sementara 45% merasa semakin tidak aman secara ekonomi akibat kebijakan modernisasi transportasi yang kurang berpihak pada sektor informal.
Meskipun dihimpit tantangan, Mangun (66) dan Sudarman (63) tetap menanamkan optimisme. Mereka percaya bahwa selama ada semangat dan solidaritas, profesi penarik becak akan tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Namun, sebagaimana roda becak yang terus berputar, mereka tetap melaju, pelan tapi pasti.
Hidup yang Disyukuri, Bukan Ditakuti
Mangun (66) dan Sudarman (63), sosok pejuang yang tak pernah mengeluh soal penghasilan yang tak menentu atau persaingan yang semakin berat. Ada satu hal yang justru membuat mereka tampak lebih kuat daripada banyak orang muda, yaitu rasa syukur yang mendalam. Bagi mereka, bekerja adalah soal menjalani hidup dengan bahagia, bukan soal paksaan.
Walaupun pendapatan seringkali tidak pasti dan persaingan semakin ketat, mereka tidak pernah membiarkan kehidupan membuat mereka menyerah. Justru dari diri mereka terlihat kekuatan yang jarang dimiliki oleh banyak orang muda: kemampuan untuk bersyukur atas segala keterbatasan.
Bagi mereka, bekerja bukanlah sebuah perlombaan. Ini bukan suatu paksaan. Ini juga bukan soal seberapa banyak uang yang dibawa pulang.
Bekerja adalah cara mereka untuk berdamai dengan kehidupan. Ini adalah cara mereka untuk tetap bertahan hidup, meskipun dunia terus berubah tanpa kontrol mereka.
“Saya bahagia, terserah mau berangkat jam berapa pun. Istri saya tidak pernah suruh suruh,” Tutur Mangun (66) dan Sudarman (63). Tidak ada keluhan, tidak ada ratapan. Hanya keyakinan bahwa rezeki sudah diatur oleh Yang Maha kuasa menjadi tanda bahwa harapan tak akan pernah berhenti berjalan selama masih ada semangat dan hati yang percaya.
Mereka tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyerah dalam kehidupan mereka.
Yang tersisa hanyalah keyakinan di hati bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam memberikan jalan, meskipun kadang sulit dan meskipun pendapatan yang mereka bawa tidak selalu cukup.
Dari mereka, kita mendapatkan pelajaran yang sering terlupakan:
Bahwa hidup tidak selalu harus berukuran besar, megah, atau penuh pencapaian. Terkadang, hidup hanya perlu disyukuri, bukan ditakuti. Dijalani dengan tenang, bukan dikejar dengan rasa cemas.
Dan secara diam-diam, melalui kisah sederhana ini, mereka mengajarkan kita:
“Bahwa bekerja bukan hanya soal mencari uang, tapi tentang memaknai hidup dengan selalu percaya pada harapan yang kita pegang teguh”
Penulis: Nasywa Ghina Wardhani, Nina Rahma Maharani | Editor: Nasywa Ghina Wardhani, Nina Rahma Maharani
