Konten dari Pengguna

Karhutla Tak Kunjung Padam: Menanti Solusi Abadi Krisis Kabut Asap

ninanurmaliaa14

ninanurmaliaa14

Saya mahasiswa akuntansi diuniversitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ninanurmaliaa14 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi petugas saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumber: Dok. Pribadi/AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi petugas saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumber: Dok. Pribadi/AI

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi momok tahunan yang menghantui Indonesia. Setiap kali musim kemarau tiba, langit di sejumlah wilayah seperti Sumatra dan Kalimantan kerap berubah abu-abu, diselimuti asap tebal yang menyesakkan dada. Karhutla bukan lagi sekadar bencana alam biasa, melainkan krisis multidimensi yang mengancam kesehatan, ekonomi, hingga reputasi internasional bangsa kita. Berdasarkan data terbaru, luasan lahan yang terbakar setiap tahunnya masih fluktuatif, namun dampaknya selalu nyata. Pertanyaannya, mengapa bencana yang terus berulang ini seolah belum menemukan jalan keluar yang benar-benar tuntas?

Aktivitas Manusia di Balik Pemicu Utama Karhutla

Banyak pihak menyalahkan fenomena iklim global seperti El Niño sebagai biang keladi utama meningkatnya titik panas di berbagai wilayah. Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa faktor kelalaian manusia tetap menjadi pemicu terbesar di lapangan. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih sering dipilih karena dianggap sebagai metode paling murah dan cepat oleh oknum korporasi nakal demi memperluas perkebunan secara ilegal.

Di sisi lain, sebagian masyarakat bawah juga terpaksa melakukannya karena terdesak kebutuhan ekonomi dan keterbatasan alat untuk membersihkan lahan secara mekanis. Ketika lahan gambut yang kering mulai tersulut, memadamkannya tidak semudah menyiram air pada api biasa karena bara api bisa menjalar di bawah permukaan tanah hingga kedalaman meteran dan terus memproduksi asap pekat.

Harga Mahal yang Harus Dibayar Masyarakat

Dampak kehancuran dari karhutla ini mencakup berbagai lini kehidupan yang merugikan masyarakat luas secara langsung. Dari sisi kesehatan publik, ribuan warga termasuk anak-anak dan lansia terpaksa terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut akibat menghirup partikel beracun.

Sementara itu, roda ekonomi lumpuh karena jadwal penerbangan dibatalkan, aktivitas sekolah dihentikan, dan produktivitas warga menurun drastis akibat kepungan kabut asap. Krisis ekologi juga tidak kalah mengerikan, sebab keanekaragaman hayati kita hancur seketika dan rumah bagi satwa langka seperti orangutan serta harimau sumatra kian menyusut.

Menggeser Strategi dari Reaktif Menuju Preventif

Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya taktis, mulai dari pembentukan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, penegakan hukum bagi korporasi pembakar lahan, hingga teknologi modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan. Namun, strategi yang berjalan di lapangan sering kali masih bersifat reaktif, di mana semua pihak baru sibuk memobilisasi pasukan saat api sudah membesar dan asap sudah mengepul tinggi.

Sudah saatnya kita menggeser fokus secara total ke arah pencegahan dini melalui penguatan ekonomi alternatif bagi masyarakat lokal. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan bantuan insentif atau teknologi pembersih lahan gratis agar mereka bisa bertransisi ke metode pembukaan lahan tanpa bakar secara mandiri.

Komitmen Nyata untuk Memutus Siklus Asap

Langkah pencegahan ini harus dibarengi dengan komitmen restorasi gambut berkelanjutan demi menjaga lahan tetap basah melalui pembuatan sekat kanal yang diawasi ketat menggunakan teknologi satelit. Selain itu, ketegasan hukum tanpa pandang bulu berupa pencabutan izin usaha dan denda administratif berat bagi perusahaan yang lalai menjaga konsesinya harus ditegakkan secara transparan tanpa ada kompromi.

Karhutla bukanlah takdir tahunan yang harus kita maklumi begitu saja dari tahun ke tahun. Mengatasi krisis ini membutuhkan komitmen jangka panjang yang konsisten, bukan sekadar kerja musiman yang baru aktif saat musim kemarau datang melanda. Melalui kolaborasi kuat antara pemerintah, penegak hukum, pelaku industri, dan masyarakat, kita pasti bisa memutus siklus kabut asap ini demi menyelamatkan masa depan anak cucu kita dari langit yang dipenuhi jelaga.