Prosedur Pemeriksaan Radiografi Hip Joint Pada Klinis Osteoarthritis

Mahasiswa Universitas Airlangga prodi Teknologi Radiologi Pencitraan Fakultas Vokasi
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari ningdra ainus I TRP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PENDAHULUAN
Semenjak ditemukannya sinar - X oleh William Conrad Rontgen pada 1895, pembuatan citra tubuh manusia dengan menggunakan sinar-x menjadi teknik pencitraan pertama dan terus berkembang hingga saat ini. Sekarang, teknik pencitraan suda tidak menggunakan radiografi konvensional, namun telah menggunakan computed radiography dan digital radiography. Kontribusi radiologi dalam bidang medis telah membantu untuk analisis suatu klinis dan memberikan diagnosa terkait kondisi yang dialami pasien (1)
Salah satu penyakit yang membutuhkan pencitraan dari CR adalah Osteoarthritis. Osteoartritis (OA) adalah kelainan klasik yang berkaitan dengan usia. Kondisi ini sering digambarkan sebagai penyakit degeneratif kronis dan dianggap oleh banyak orang sebagai konsekuensi penuaan yang tidak dapat dihindari(2). Faktor yang dapat menyebabkan seseorang terkena OA adalah obesitas, wanita, umur, cedera yang serius pada bagian sendi (5). . Pada orang tua faktor yang paling banyak mempengaruhi OA adalah umur karena fungsi sendi akan menurun sejalan dengan menuanya seseorang. Pada usia muda, OA banyak disebabkan oleh obesitas dan cedera yang serius. Pada orang yang obesitas, sendi akan bekerja lebih keras untuk menopang berat badan sehingga sendi akan mengalami kompresi (3). OA merupakan penyebab utama morbiditas, keterbatasan aktivitas fisik, kecacatan fisik, dapat mengurangi kualitas hidup para penderitanya, merupakan sumber nyeri kronis serta merupakan penyebab utama kecacatan pada orang dewasa dan lanjut usia di atas 60 tahun(4). Pada orang tua faktor yang paling banyak mempengaruhi OA adalah umur karena fungsi sendi akan menurun sejalan dengan menuanya seseorang (6) Pada usia muda, OA banyak disebabkan oleh obesitas dan cedera yang serius. Pada orang yang obesitas, sendi akan bekerja lebih keras untuk menopang berat badan sehingga sendi akan mengalami kompresi (3)
Sendi panggul ( Hip Joint ) merupakan sendi bola dan soket yang merupakan titik artikulasi antara caput femur dan acetabulum panggul(7). Sendi ini merupakan sendi di arthrodial yang kestabilannya ditentukan terutama oleh komponen/artikulasi tulangnya (8). Fungsi utama sendi panggul adalah untuk memberikan dukungan dinamis terhadap berat tubuh/batang tubuh sekaligus memfasilitasi transmisi gaya dan beban dari kerangka aksial ke ekstremitas bawah, sehingga memungkinkan mobilitas (9). Fungsi dari hip joint sendiri adalah untuk menopang berat badan dan juga untuk membantu mobilitas dengan memfasilitasi transmisi gaya dan beban dari kerangka axial ke ekstremitas bawah. Hip joint terdiri dari tiga bagian yakni femur, femoral head dan rounded socked. Permukaan hip joint dilapisi oleh synovial yang sangat kuat. Pada bagian sekitar sendi, kapsul articular sangat kuat dan padat dengan bagian paling tebal berada pada superior sendi, karena fungsinya menahan beban tubuh(10)
METODOLOGI
Jenis pendekatan yang digunakan dalam observasi ini adalah studi literatur. Data untuk observasi ini didapatkan melalui penggalian informasi dari buku, ensiklopedi, jurnal ilmiah. Tahapan dalam observasi ini dimulai dari pencarian kata kunci, pencarian literatur, mengolah data, lalu data yang telah didapatkan akan dianalisis lebih mendalam. Untuk lokasi tempat observasi yaitu Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) lantai 4 yang berada di kampus C dengan alamat Jl. Mulyorejo, Mulyorejo, Kec. Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur, 60115.
Dalam observasi terdapat beberapa bahan dan alat yang digunakan yang meliputi Ppesawat sinar-X radiografi, imaging plate ukuran 43x35 cm, work station radiografi, CR reader, operator console, grid, marker, apron timbal dan TLD. Langkah-langkah yang digunakan terbagi menjadi 11 tahap yaitu identifikasi peralatan yang digunakan, melakukan persiapan ruangan radiografi dan alat seperti kerapian ruangan, suhu di bawah 25 derajat, kesiapan imaging plate, dan lain sebagainya; identifikasi pasien dengan melakukan validasi data meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan alamat; melakukan prosedur pemeriksaan mulai dari pemosisian pasien, pemosisian objek, letak central point dari bagian yang akan diperiksa, FFD yang digunakan, dan luas lapangan kolimasi; setalah melakukan prosedur maka imaging plate yang sudah terekspose dapat di bawa ke workstation; lalu selanjutnya melakukan pengisian data pasien; setelah itu melakukan pemrosesan imaging plate ke CR reader; dan setelah itu gambar akan muncul pada layar komputer serta dapat dilakukan pengaturan kontras, croppping, dan anotasi; tahap terakhir adalah adalah evaluasi dari hasil citra pada komputer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komisi Internasional Proteksi Radiasi (ICRP) menyarankan prinsip-prinsip umum proteksi radiasi sebagai tiga kata kunci; pembenaran, optimasi dan batas dosis. Batasan dosis sama sekali tidak relevan, karena radiasi pengion, yang digunakan pada tingkat dosis yang sesuai untuk tujuan medis tertentu, merupakan alat penting yang akan menyebabkan lebih baik daripada membahayakan. Oleh karena itu radiasi medis tidak memiliki batasan dosis, dan umumnya digunakan tingkat referensi diagnostik (DRL) sebagai nilai referensi (11). Untuk mengurangi risiko paparan radiasi, paparan radiasi medis apa pun harus dibenarkan dan pemeriksaan yang menggunakan radiasi pengion harus dioptimalkan. Justifikasi berarti pemeriksaan tersebut harus ada indikasi medis dan bermanfaat. Optimasi berarti bahwa pencitraan harus dilakukan dengan menggunakan dosis serendah mungkin yang dapat dicapai (ALARA), konsisten dengan tugas diagnostik(12)
Salah satu pemeriksaan yang dilakukan di rumah sakit adalah pemeriksaan area hip joint. Ini dilakukan untuk mengevaluasi kelainan atau penyakit seperti trauma pada sendi panggul, fraktur tulang panggul, pelvis, dan kepala femur. Kelainan yang sering terjadi pada hip joint yaitu ankylosing spondylitis, fraktur avulsion, condrosarcoma, development dysplasia of the hip (DDH), slipped capital femoral epiphysis (SCFE), metastase kanker, osteoarthritis, dan fraktur proksimal femur. Fraktur proksimal femoral, salah satunya terjadi di collum femur yang dapat diklasifikasi untuk menentukan seberapa parah fraktur yang dialami pasien, dan apa penanganan yang tepat untuk fraktur tersebut(13)
Sudah lama dianggap sebagai kelainan 'keausan', osteoartritis (OA) kini dipahami memiliki patofisiologi kompleks yang mempengaruhi banyak sendi dan struktur sendi, seperti yang digambarkan definisi OA dari Osteoarthritis Research Society Internasional adalah Penyakit yang pertama kali bermanifestasi sebagai penyakit molekuler. Kelainan (metabolisme jaringan sendi yang tidak normal) diikuti kelainan anatomis dan/atau fisiologis (ditandai dengan degradasi tulang rawan, remodeling tulang, pembentukan osteofit, peradangan sendi, dan hilangnya fungsi sendi normal), yang dapat berujung pada penyakit (14)Pada pasien yang terkena OA dampak yang dirasakan antara lain mobilitas pada ekstremitas yang terganggu, kecacatan, kesusahan saat beraktivitas seperti duduk, berjalan dan berlari (15)
Di seluruh dunia, diperkirakan 240 juta orang mempunyai gejala OA yang membatasi aktivitas (16) Lutut dan pinggul adalah dua sendi yang sering terkena dampak dan menjadi fokus tinjauan ini. Hampir 30% orang yang berusia lebih dari 45 tahun mempunyai bukti radiografi OA lutut, sekitar setengahnya mempunyai gejala lutut (17,18). Prevalensi OA pinggul yang memiliki gejala dan radiografi adalah sekitar 10% (19) Risiko OA lutut simtomatik seumur hidup lebih besar pada orang yang mengalami obesitas (BMI ≥ 30 kg/m 2 ) dibandingkan orang yang tidak mengalami obesitas (19,7% berbanding 10,9%)(20). Trauma sendi sebelumnya, seperti ruptur ligamen anterior dan patah tulang pergelangan kaki, meningkatkan risiko, yaitu sebesar 12% dari kasus OA lutut (21). Prevalensi OA lutut yang memiliki gejala dan radiografi adalah 11,4% pada wanita dan 6,8% pada pria dalam satu penelitian kohort besar dan 18,7% pada wanita dan 13,5% pada pria dalam penelitian kohort besar lainnya. Dibandingkan dengan laki-laki dengan OA, perempuan mempunyai temuan dan gejala radiografi yang lebih parah (22). Usia yang lebih tua dan jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko OA pinggul dan juga OA lutut. Selain itu, kelainan anatomi bawaan dan didapat (misalnya displasia pinggul) merupakan faktor risiko OA pinggul(23)
Osteoarthritis dapat dipastikan melalui pemeriksaan radiografi hip joint dengan menggunakan proyeksi AP (Antero-Posterior) dan proyeksi khusus yakni frog leg (24) . Proyeksi AP dan frog leg dapat dilakukan dengan posisi supine atau tidur terlentang dengan FFD 100 cm dan central point di femoral neck. Posisi frog leg memiliki perbedaan yaitu posisi kaki yang tidak terindikasi OA ekstensi penuh (25)
KESIMPULAN
Pada pemeriksaan yang dilakukan adalah bagian hip joint, hip joint adalah sendi panggul di mana dapat menghubungkan antara tubuh bagian atas dengan kaki. Fungsi utama hip joint adalah untuk memberikan dukungan dinamis terhadap berat tubuh/batang tubuh sekaligus memfasilitasi transmisi gaya dan beban dari kerangka aksial ke ekstremitas bawah, sehingga memungkinkan mobilitas. Pada ahip joint da beberapa kelainan yaitu fraktur, dislokasi, dan osteoarthritis. Osteoartritis (OA) adalah kelainan klasik yang berkaitan dengan usia. Hal ini sering digambarkan sebagai penyakit degeneratif kronis dan dianggap oleh banyak orang sebagai konsekuensi penuaan yang tidak dapat dihindari. Di seluruh dunia, diperkirakan 240 juta orang mempunyai gejala OA yang membatasi aktivitas sehari-hari. Pada pemeriksaan radiografi osteoarthritis dapat di evaluasi dengan 2 proyeksi yaitu proyeksi AP dan proyeksi frog leg.
REFERENSI
1. Martin Spahn. Nuclear Instrument and Methods in Physis Research Section A: Accelerators, Spectrometers, Detectors and Associated Equipment. 2013 Dec 11;731:57–63.
2. Shane Anderson A, Loeser RF. Why is osteoarthritis an age-related disease? Best Pract Res Clin Rheumatol. 2010 Feb;24(1):15–26.
3. Udhaya Nedunchezhiyan IVARSXWRCIP. Obesity, Inflammation, and Immune System in Osteoarthritis . 2022 Jul 4;
4. Ambrose KR, Golightly YM. Physical exercise as non-pharmacological treatment of chronic pain: Why and when. Best Pract Res Clin Rheumatol. 2015 Feb;29(1):120–30.
5. Arden NK, Leyland KM. Osteoarthritis year 2013 in review: clinical. Osteoarthritis Cartilage. 2013 Oct;21(10):1409–13.
6. HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN NYERI, KEKAKUAN SENDI DAN AKTIVITAS FISIK PADA PASIEN OSTEOARTRITIS LUTUT DI POLI BEDAH ORTOPEDI RSU DR. SOEDARSO PONTIANAK TAHUN 2013 TANGGUNG JAWAB YURIDIS MATERIAL PADA.
7. Chang A, Breeland G, Black AC, Hubbard JB. Anatomy, Bony Pelvis and Lower Limb: Femur. 2024.
8. Ramage JL, Varacallo M. Anatomy, Bony Pelvis and Lower Limb: Medial Thigh Muscles. 2024.
9. Chang C, Jeno SH, Varacallo M. Anatomy, Bony Pelvis and Lower Limb: Piriformis Muscle. 2024.
10. Maks Gold AMMVaracallo. Anatomy, Bony Pelvis and Lower Limb, Hip Joint. StatPearls ; 2023.
11. ICRP. Editorial. Ann ICRP. 2007 Dec 17;37(6):3–5.
12. Do KH. General Principles of Radiation Protection in Fields of Diagnostic Medical Exposure. J Korean Med Sci. 2016;31(Suppl 1):S6.
13. Hanayzul Fahmi W, Wibowo Nurcahyo P, Teknik Radiodiagnostik Dan Radioterapi J, Kemenkes Semarang P. PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI HIP JOINT POST-OPERASI TOTAL HIP ARTHOPLASTY.
14. Kraus VB, Blanco FJ, Englund M, Karsdal MA, Lohmander LS. Call for standardized definitions of osteoarthritis and risk stratification for clinical trials and clinical use. Osteoarthritis Cartilage. 2015 Aug;23(8):1233–41.
15. Lespasio MJ, Sultan AA, Piuzzi NS, Khlopas A, Husni ME, Muschler GF, et al. Hip Osteoarthritis: A Primer. Perm J. 2018;22:17–084.
16. Vos T, Barber RM, Bell B, Bertozzi-Villa A, Biryukov S, Bolliger I, et al. Global, regional, and national incidence, prevalence, and years lived with disability for 301 acute and chronic diseases and injuries in 188 countries, 1990–2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013. The Lancet. 2015 Aug;386(9995):743–800.
17. Felson DT, Naimark A, Anderson J, Kazis L, Castelli W, Meenan RF. The prevalence of knee osteoarthritis in the elderly. The Framingham Osteoarthritis Study. Arthritis Rheum. 1987 Aug;30(8):914–8.
18. Jordan JM, Helmick CG, Renner JB, Luta G, Dragomir AD, Woodard J, et al. Prevalence of knee symptoms and radiographic and symptomatic knee osteoarthritis in African Americans and Caucasians: the Johnston County Osteoarthritis Project. J Rheumatol. 2007 Jan;34(1):172–80.
19. Haugen IK, Englund M, Aliabadi P, Niu J, Clancy M, Kvien TK, et al. Prevalence, incidence and progression of hand osteoarthritis in the general population: the Framingham Osteoarthritis Study. Ann Rheum Dis. 2011 Sep 1;70(9):1581–6.
20. Losina E, Weinstein AM, Reichmann WM, Burbine SA, Solomon DH, Daigle ME, et al. Lifetime Risk and Age at Diagnosis of Symptomatic Knee Osteoarthritis in the US. Arthritis Care Res (Hoboken). 2013 May 23;65(5):703–11.
21. Brown TD, Johnston RC, Saltzman CL, Marsh JL, Buckwalter JA. Posttraumatic osteoarthritis: a first estimate of incidence, prevalence, and burden of disease. J Orthop Trauma. 2006;20(10):739–44.
22. Srikanth VK, Fryer JL, Zhai G, Winzenberg TM, Hosmer D, Jones G. A meta-analysis of sex differences prevalence, incidence and severity of osteoarthritis. Osteoarthritis Cartilage. 2005 Sep;13(9):769–81.
23. Katz JN, Arant KR, Loeser RF. Diagnosis and Treatment of Hip and Knee Osteoarthritis: A Review. JAMA. 2021 Feb 9;325(6):568–78.
24. Lim SJ, Park YS. Plain Radiography of the Hip: A Review of Radiographic Techniques and Image Features. Hip Pelvis. 2015;27(3):125.
25. Pendidikan P, Keperawatan D. LAPORAN TUGAS AKHIR ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA OSTEOARTHRITIS SERTA PENATALAKSANAAN MANAJEMEN NYERI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TELAGA DEWA KOTA BENGKULU SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAPTA BAKTI PRODI DIII KEPERAWATAN TAHUN 2021 MILIK STIKES SAPTA BAKTI.
