Pro dan Kontra Pembelajaran Daring di Kalangan Orangtua

Tulisan dari Nisa Anjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Covid-19 atau Novel Coronavirus yang disebut pertama kali menyebar di Wuhan telah menjadi wabah atau pandemi di berbagai belahan dunia. Kasus Covid-19 pertama kali muncul di Indonesia pada 2 Maret 2020. Pemerintah mengumumkan dua orang WNI telah positif terpapar Covid-19. Semakin hari jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat, sehingga pemerintah menetapkan status bencana nasional. Hal ini berdampak pada segala sektor kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah sektor pendidikan. Sektor pendidikan mengalami gangguan dan perubahan dalam proses pembelajaran.

Pemerintah melalui Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) telah mengeluarkan kebijakan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 di masa Pandemi Covid-19 mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan menengah atas, proses belajar mengajar dilakukan secara daring atau online.
Pembelajaran daring dijadikan solusi di masa pandemi seperti ini dengan menggandeng berbagai aplikasi pendukung untuk melakukan pembelajaran bagi siswa. Kendati sistem ini telah berjalan beberapa bulan namun masih menuai pro dan kontra khususnya di kalangan orangtua. Sebagian orangtua merasa tidak masalah dengan sistem pembelajaran yang dilakukan secara daring. Sementara sebagian lain merasa keberatan dengan sistem daring ini yang mana mereka berpendapat bahwa “anak menjadi malas dan semakin bodoh”.
Desi, seorang Ibu rumah tangga (38) memberikan pendapat positif terkait sistem pembelajaran daring, “Belajar Online ini merupakan solusi yang cocok untuk saat ini, dengan belajar online di rumah, kita sebagai orang tua juga bisa lebih dekat dan memperhatikan proses pembelajaran anak-anak.” Ujar Desi, saat ditanyai, Sabtu (8/8/2020).
Belajar online dirumah, kata Desi, merupakan kegiatan yang menyenangkan karena bisa mendampingi anak saat belajar yang dimana hal itu tidak bisa dilakukannya saat anak belajar di sekolah.
Sementara Suryati (45) berpendapat lain, “Bagi saya Belajar Online itu enggak efektif, terkadang anak saya beranggapan libur jadi belajarnya tidak maksimal, semakin malas belajar, kalau kata kasarnya semakin bodoh. Apalagi belajar Online menambah biaya, belum lagi orangtua yang tidak terlalu paham teknologi.” Menurut Suryati, anak-anak memiliki mindset atau pemikiran bahwa saat ini mereka sedang libur sekolah, dan tugas yang mereka kerjakan itu seperti pekerjaan rumah (PR).
Kedua pendapat tersebut mewakili pemikiran para orangtua siswa di berbagai wilayah di Indonesia. Ada sebagian yang merasa biasa saja, setuju dan juga merasa puas terhadap kebijakan pemerintah tentang pembelajaran daring, yang dimana orangtua dapat berperan aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran anak-anak mereka. Namun sebagian yang lain merasa pembelajaran daring tidak efektif bagi anak-anak. Minat belajar siswa yang menurun serta banyaknya keluhan orangtua siswa bahwa belajar daring menambah biaya. Mereka tidak hanya diwajibkan membayar uang sekolah tetapi juga harus mengeluarkan biaya untuk membeli kuota internet.
Penulis: Nisa Anjani, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UINSU. Peserta KKN-DR Kelompok 61, 2020. (DPL: Dr. Zulfahmi Lubis, Lc. M.Ag)
