Konten dari Pengguna

Kritik Dianggap Benci, Puja Dianggap Loyalitas

Nisa Maharani

Nisa Maharani

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nisa Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

www.istockphoto.com (Orang Mengkritik Ilustrasi)
zoom-in-whitePerbesar
www.istockphoto.com (Orang Mengkritik Ilustrasi)

Dalam kehidupan demokratis, kritik seharusnya menjadi napas sehat bagi keberlangsungan ruang publik. Kritik lahir dari kepedulian, dari keinginan untuk memperbaiki, dan dari kesadaran bahwa tidak ada kekuasaan, kebijakan, maupun figur publik yang kebal dari kesalahan. Namun, realitas hari ini justru menunjukkan gejala sebaliknya. Kritik kerap dipersepsikan sebagai bentuk kebencian, bahkan dianggap ancaman. Sementara itu, pujian tanpa nalar kritis sering kali dielu-elukan sebagai tanda loyalitas. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan kemunduran cara berpikir publik, tetapi juga menandai rapuhnya budaya demokrasi dan dialog yang sehat.

Di era media sosial yang serba cepat, opini tidak lagi diukur dari kedalaman argumen, melainkan dari keberpihakan. Siapa yang mengkritik dianggap musuh, siapa yang memuji dianggap kawan. Ruang diskusi berubah menjadi arena pertarungan identitas dan emosi, bukan lagi pertukaran gagasan. Akibatnya, kritik yang konstruktif tenggelam, sementara puja-puji yang kosong justru menguat.

Kritik yang Kehilangan Makna

Kritik dalam makna idealnya adalah bentuk evaluasi rasional terhadap kebijakan, tindakan, atau pernyataan tertentu. Kritik tidak selalu berarti penolakan total, apalagi kebencian personal. Namun, hari ini kritik sering direduksi menjadi serangan. Setiap pertanyaan dianggap upaya menjatuhkan, setiap perbedaan pandangan ditafsirkan sebagai niat buruk.

Fenomena ini terlihat jelas dalam diskursus politik, birokrasi, bahkan dunia akademik. Ketika masyarakat menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik, respons yang muncul sering kali defensif. Alih-alih menjawab substansi kritik, yang terjadi justru pelabelan: pembenci, provokator, atau tidak nasionalis. Padahal, kritik justru menjadi alat penting untuk menghindari kesalahan yang lebih besar.

Ketakutan terhadap kritik juga menunjukkan adanya mentalitas kekuasaan yang rapuh. Kekuasaan yang matang seharusnya tidak alergi terhadap perbedaan pendapat. Sebaliknya, kekuasaan yang mudah tersinggung menandakan ketidakpercayaan diri dan kecenderungan otoriter.

Puja-Puji dan Loyalitas Semu

Di sisi lain, puja-puji sering kali ditempatkan sebagai simbol loyalitas. Semakin keras seseorang memuji, semakin dianggap setia. Ironisnya, loyalitas semacam ini kerap tidak dibangun atas dasar nilai, melainkan kepentingan. Pujian menjadi alat untuk mendekat pada kekuasaan, mencari keuntungan, atau sekadar mengamankan posisi.

Budaya puja-puji ini berbahaya karena menciptakan ilusi kesempurnaan. Ketika pemimpin atau institusi hanya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengatakan “ya”, maka koreksi tidak pernah sampai. Kesalahan dianggap keberhasilan, kegagalan ditutup dengan narasi pencitraan. Dalam jangka panjang, kondisi ini merusak sistem dan merugikan masyarakat luas.

Lebih jauh, puja-puji yang berlebihan juga mematikan daya kritis publik. Masyarakat diajak untuk mengagungkan figur, bukan menilai kebijakan. Rasionalitas dikalahkan oleh fanatisme. Akhirnya, loyalitas tidak lagi bermakna kesetiaan pada prinsip, melainkan kepatuhan tanpa syarat.

Media Sosial dan Polarisasi

Media sosial memperparah situasi ini. Algoritma cenderung memperkuat emosi, bukan nalar. Konten yang provokatif lebih mudah viral dibandingkan analisis yang tenang. Kritik yang bernada tajam sering disalahpahami, sementara pujian yang berlebihan mendapat panggung luas.

Polarisasi pun tak terhindarkan. Masyarakat terbelah dalam kubu-kubu yang saling mencurigai. Dialog berubah menjadi monolog. Setiap pihak merasa paling benar, dan kritik dari luar kelompok dianggap serangan. Dalam kondisi seperti ini, demokrasi kehilangan substansinya dan hanya menyisakan hiruk-pikuk.

Mengembalikan Martabat Kritik

Mengembalikan kritik pada tempatnya bukan perkara mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Pertama, perlu ada kesadaran kolektif bahwa kritik adalah bagian dari cinta terhadap bangsa, institusi, dan nilai-nilai bersama. Kritik tidak identik dengan kebencian, sebagaimana pujian tidak selalu berarti kebenaran.

Kedua, para pemimpin dan pemegang kekuasaan perlu memberi teladan. Sikap terbuka terhadap kritik akan menciptakan iklim dialog yang sehat. Mendengarkan tidak berarti melemah, justru menunjukkan kedewasaan. Ketiga, masyarakat juga harus belajar menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, berbasis data, dan berorientasi solusi.

Kritik yang dianggap benci dan puja yang dianggap loyalitas adalah tanda krisis berpikir kritis dalam kehidupan publik kita. Jika kondisi ini terus dibiarkan, ruang demokrasi akan semakin menyempit, dan kebenaran akan kalah oleh fanatisme. Sudah saatnya kita membedakan antara kritik dan kebencian, antara loyalitas dan penjilatan.

Demokrasi yang sehat tidak membutuhkan warga yang selalu memuji, tetapi warga yang berani bertanya. Negara yang kuat bukan negara yang sunyi dari kritik, melainkan negara yang mampu tumbuh karena kritik. Pada akhirnya,