Konten dari Pengguna

Kaya Sebelum Tua: Misi Finansial Gen Z di Tengah Gempuran Flexing dan FOMO

Nisa Mutiana

Nisa Mutiana

Mahasiswa Aktif Program Studi Akuntansi Perpajakan di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nisa Mutiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI Generated bersumber dari chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
AI Generated bersumber dari chatgpt.com

“Generasi paling kreatif tapi juga paling boros.” Kalimat itu sering terdengar ketika orang bicara tentang Gen Z. Di satu sisi, generasi ini punya banyak peluang untuk sukses sejak muda. Tapi di sisi lain, godaan gaya hidup mewah dan tekanan media sosial bikin banyak dari kita terlena. Apalagi kalau udah ngomongin soal flexing dan FOMO (fear of missing out), dompet bisa jebol sebelum gajian berikutnya datang.

Kehidupan digital memang membawa banyak keuntungan. Gen Z bisa kerja dari mana aja, buka usaha online, bahkan cari cuan dari konten di media sosial. Tapi sayangnya, kemudahan itu nggak selalu dibarengi dengan pemahaman soal literasi keuangan. Ujung-ujungnya? Gaji habis buat nongkrong, skincare, atau beli barang yang sebenernya nggak urgent—semata-mata biar kelihatan “keren” di timeline.

Padahal, kalau boleh jujur, banyak dari kita sebenarnya belum siap menghadapi realitas finansial. Masih bingung bedain antara “butuh” dan “ingin”, belum paham soal dana darurat, dan terlalu bergantung pada sistem paylater. Belum lagi tekanan sosial yang bikin kita ngerasa harus punya semua hal yang dimiliki teman-teman, walau isi rekening udah nyaris nol.

Tapi, bukan berarti semua terlambat. Justru sekarang waktu yang tepat buat Gen Z mulai mikir “Apa aku mau terus-terusan hidup buat kelihatan keren, atau hidup tenang tanpa stres mikirin uang nanti?”

Mengatur uang itu bukan berarti pelit atau anti-healing. Justru dengan finansial yang sehat, kita bisa lebih bebas menentukan jalan hidup. Nggak harus nunggu umur 40 buat punya investasi. Mulai dari hal kecil, kayak sisihkan 10–20% dari penghasilan buat nabung, bikin budget bulanan, dan hindari utang konsumtif.

Belajar investasi juga nggak harus rumit. Sekarang banyak platform yang bisa bantu kita mulai dari nominal kecil. Yang penting bukan besar-kecilnya, tapi konsistensinya. Karena kekayaan itu dibangun, bukan tiba-tiba jatuh dari langit.

Yang paling penting, jangan biarkan gaya hidup menenggelamkan masa depan. Tampil keren itu oke, tapi punya tabungan dan tujuan jangka panjang jauh lebih keren.

Kaya sebelum tua bukan soal hoki. Tapi soal strategi, disiplin, dan keberanian untuk beda dari arus yang lagi tren.