Kebohongan Suci Para Elit di Film “Transformers One” (2024)

Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ignasia Gonystylus Dasi Muda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari sekian banyaknya narasi pahlawan yang hebat dan selalu dibanggakan, pernahkah muncul pertanyaan di benak kita:
“Bagaimana jika sosok yang selama ini paling kita puja layaknya seorang pahlawan menjadi alasan mengapa selama ini kita tidak pernah merdeka?”.
Pertanyaan tersebut perlahan menyelinap usai menonton film “Transformers One” (2024). Film animasi robot-robotan yang bisa berubah bentuk. Sekilas, wajar bila film ini dianggap sebuah tontonan hiburan semata bagi anak-anak. Percayalah, dibalik visual warna-warni, film ini lebih dari sekedar film bagi anak-anak. Tersembunyi sebuah metafora politik dan kiasan kaum pekerja (pro-labor) yang lekat dengan kehidupan kita hari ini.
Mari kita bicarakan tentang Cybertron. Di planet ini masyarakatnya dibagi berdasarkan sebuah sistem kasta yang manipulatif. Ada mereka yang hidup nyaman dengan privilege-nya dan ada pekerja bawah tanah. Para pekerja ini ditindas dalam bentuk perampasan roda gigi (cog) semenjak mereka lahir dan merenggut kebebasan jasmani mereka untuk berubah wujud. Yang mereka tahu hanyalah lahir tanpa roda gigi.
Kondisi struktural di Cybertron mengingatkan kita pada sebuah realitas bahwa keberadaan film tidak pernah lepas dari konteks sosial dan politiknya. Semua konteks politik, relasi kuasa, dan kepentingan pihak tertentulah yang pada akhirnya menentukan wacana apa yang mesti dibangun dalam sebuah film. Di film “Transformers: One”, relasi kuasa dibangun dengan kokoh oleh Sentinel Prime. Sebagai pemimpin, Sentinel menggunakan instrumen ideologis licik guna mencuci otak para pekerja kelas bawah melalui dogma-dogma manis tentang pengabdian suci dan stabilitas negara. Ia meyakinkan kepada mereka bahwa penindasan struktural yang mereka alami adalah bentuk pengorbanan yang mulia demi menyelamatkan planet Cybertron dari krisis.
Sehebat apapun kebohongan yang telah dibangun dengan indah, pada akhirnya akan ada masa kadaluarsanya. Ketika topeng sang penguasa hancur, jalan dua sahabat yakni Orion Pax dan D-16 (keduanya yang kelak akan menjadi Optimus Prime dan Megatron) menjadi pecah karena prinsip yang berbeda. D-16 adalah wujud nyata dari kemarahan rakyat kecil yang tertindas. Selama ini ia mengagungkan Sentinel Prime sebagai sosok pahlawan. Nyatanya Sentinel adalah orang yang sengaja merampas kebebasannya dan menjadikannya budak seumur hidupnya. Kekecewaan ini berubah menjadi dendam. Megatron akhirnya mengambil jalan revolusi radikal. Ia yakini bahwa tatanan negara yang sudah terlanjur jahat dan busuk tak dapat disembuhkan lagi. Satu-satunya cara adalah dengan menghancurkannya hingga rata tak tersisa.
Sebaliknya, Orion Pax memilih jalan yang lebih bijak untuk memperbaiki keadaan yang sedang terjadi. Menurutnya, jika melawan pemimpin yang jahat dengan cara yang kejam pula, maka akan tercipta pemimpin jahat yang baru. Tujuan Orion Pax memberontak murni untuk merebut kembali kebebasannya dan teman-temannya yang selama ini diinjak-injak, bukan untuk membalas dendam dan melanggengkan siklus kekerasan.
Benturan ideologi inilah yang menjadikan film “Transformers One” jauh lebih besar dari sekedar fiksi ilmiah (sci-fi) yang menampilkan fantasi robot. Film ini tak hanya mengejar keuntungan komersial, melainkan memposisikan diri sebagai medium kritik sosial. “Transformers One” membongkar “the real structures” di balik hierarki Cybertron. Sebagai penonton, film ini secara tak langsung mengajak kita untuk memiliki kesadaran kritis terhadap sebuah institusi kekuasaan dan pada akhirnya memberanikan diri untuk bersuara merenggut hak yang telah dirampas.
Di tengah riuhnya dunia politik hari ini, di bawah bayang-bayang kedamaian palsu yang terus dibisikkan oleh penguasa, apa “roda gigi” dalam manusia yang sedang dirampas secara diam-diam dari diri kita di masa kini?
