Pentingnya Penyuntingan Naskah Kumpulan Cerpen untuk Siswa Sekolah Dasar

Indonesian Literature
Tulisan dari Anisa Catherine tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan itu sendiri mencakup semua upaya seseorang atau individu dalam mengembangkan potensi untuk lebih baik dari sebelumnya. Karena hal itu, pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Hal ini sangat wajar karena manusia memberikan perhatian yang maksimal terhadap masalah pendidikan. Berbicara mengenai pendidikan sudah pasti tidak akan terlepas dari salah satu faktor yang berperan penting, yakni media pembelajaran atau proses pembelajarannya. Salah satu proses pembelajaran yang menarik adalah buku cerita atau bahan bacaan cerita rakyat, terutama bagi kalangan siswa sekolah dasar.
Cerita rakyat merupakan salah satu media pembelajaran terutama bagi kalangan siswa sekolah dasar yang berguna untuk membangun generasi penerus yang memiliki karakter kuat. Buku cerita memiliki potensi yang kuat untuk secara lebih efektif mampu untuk menyampaikan dan menanamkan nilai-nilai pendidikan pada peserta didik, khususnya pendidikan karakter. Beberapa contoh dari buku cerita yaitu ada dongeng, fabel, legenda, cerita rakyat, dan lain sebagainya.
Namun, pada teks cerita rakyat masih terlihat kurangnya pemahaman bahasa dongeng dalam bahasa cerita rakyat dengan tanda baca dan penulisan yang kurang tepat. Oleh karena itu, diadakannya penyuntingan naskah dongeng akan berguna untuk menunjukkan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Pada proses penyuntingan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi kesesuaian dan ketidaksesuaian isi cerita untuk siswa sekolah dasar.
2. Memperbaiki teknik penulisan dengan berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
3. Menghilangkan bagian cerita yang mengandung unsur kekerasan dan hal negatif lainnya.
4. Apabila terdapat hal yang mengandung unsur negatif tetapi sulit dihilangkan maka harus ditambahkan redaksi yang dapat menetralisir unsur negatif tersebut.
5. Tidak menggunakan cerita yang terlalu berat akan unsur negatif.
6. Mengoreksi ulang hasil penyuntingan.
Selain beberapa hal di atas, ada juga hal yang perlu diperhatikan dalam cerita rakyat yaitu bacaan yang kurang baik untuk dibaca oleh anak-anak. Sebagian besar dari 36 cerita rakyat yang ada, dua belas cerita rakyat memiliki tema dan alur cerita yang sesuai untuk disampaikan kepada siswa sekolah dasar. Dari 12 cerita rakyat tersebut, terdapat empat cerita rakyat yang mengambil tema dan alur cerita yang sama, yakni tema seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Cerita rakyat tersebut yaitu Si Malin Kundang, Si Lancang, Asal Mula Negeri Lumpur, dan Batu Menangis.
Ada 24 cerita rakyat yang memiliki tema dan alur cerita yang tidak sesuai untuk disampaikan kepada siswa sekolah dasar karena sebagian besar memiliki tema cerita yang mengandung unsur percintaan, kekerasan, dan sifat tidak terpuji. Alur ceritanya juga memiliki unsur kekerasan, pembunuhan, dan sifat-sifat tercela yang apabila bagian tersebut dihilangkan atau diganti maka akan mengubah alur cerita. Adegan kekerasan dan penggambaran akhlak tidak terpuji harus dihindarkan dari anak-anak agar tidak ditiru oleh siswa, maka dari itu diperlukan penyuntingan pada bacaan cerita rakyat.
Namun, jika ada yang terpaksa membacanya harus tetap disampaikan penjelasan tentang dampak buruk hal tersebut agar nantinya tidak dijadikan sebagai bahan acuan atau contoh dalam kehidupan anak-anak. Selain itu, pada pemberian karakter yang baik dengan mempertegas hal-hal yang menggambarkan sifat positif dan memilih kata atau kalimat yang mudah dipahami agar siswa dapat lebih mudah mengingat sifat terpujinya yang nantinya bisa dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari.
