Konten dari Pengguna

Menjembatani Budaya dan Matematika lewat Buku Ajar Berbasis Kain Tapis Lampung

Annisa Ayu Pradani Putri

Annisa Ayu Pradani Putri

Mahasiswi Universitas Negeri Semarang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Ayu Pradani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim Tapisphere | Pencipta Buku Ajar (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Tim Tapisphere | Pencipta Buku Ajar (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Matematika tidak selalu harus dipelajari melalui deretan angka dan rumus di dalam buku. Di balik motif Kain Tapis Lampung, tersimpan pola-pola yang ternyata dapat dikaitkan dengan konsep transformasi geometri. Berangkat dari potensi tersebut, mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan buku ajar yang mengajak murid mengenal budaya sekaligus memahami matematika melalui pendekatan etnomatematika. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Ayu Rahmawati, Annisa Ayu Pradani Putri, Masyitha Khairunnisa, Febiana Daris Salma, dan Immanuel Hutapea, dengan bimbingan Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd.

Kain Tapis merupakan salah satu warisan budaya Lampung yang dikenal melalui kain tradisional dengan beragam motif dan pola. Jika diperhatikan lebih dekat, susunan motif pada Kain Tapis tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga dapat menjadi konteks untuk mengenalkan konsep matematika. Pola yang berulang dan tersusun secara teratur dapat diamati menggunakan sudut pandang geometri. Beberapa penelitian sebelumnya, seperti Loviana (2020) dan Susiana (2020), menunjukkan adanya konsep transformasi geometri dalam motif Kain Tapis. Konsep tersebut antara lain dapat dikaitkan dengan translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi. Hal inilah yang kemudian menjadi titik awal pengembangan buku ajar. Murid tidak hanya diperkenalkan dengan transformasi geometri melalui gambar abstrak, tetapi terlebih dahulu diajak melihat bagaimana konsep tersebut dapat ditemukan pada objek budaya. Pendekatan tersebut dikenal sebagai etnomatematika, yakni pembelajaran matematika yang menghubungkan konsep matematika dengan budaya dan aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Setelah menemukan keterkaitan antara motif Kain Tapis dan transformasi geometri, tim mahasiswa kemudian mengembangkan hasil eksplorasi tersebut menjadi sebuah buku ajar. Proses pengembangan diawali dengan melihat kebutuhan pembelajaran, karakteristik murid, serta mengidentifikasi unsur-unsur matematika yang dapat digunakan dari motif Kain Tapis. Selanjutnya, konsep-konsep tersebut dituangkan ke dalam materi pembelajaran transformasi geometri. Buku tidak hanya berisi penjelasan konsep, tetapi juga dirancang agar murid dapat mengamati, menemukan pola, dan menyelesaikan permasalahan berdasarkan konteks yang diberikan. Dalam pengembangannya, tim juga memadukan Problem Based Learning (PBL), Augmented Reality (AR), dan GeoGebra. PBL digunakan untuk memberikan permasalahan yang dapat mendorong murid memahami konsep melalui proses pemecahan masalah. Sementara itu, teknologi AR dan GeoGebra digunakan untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dalam memvisualisasikan objek serta transformasi geometri.

Penggunaan Kain Tapis sebagai konteks pembelajaran membuat materi transformasi geometri memiliki hubungan langsung dengan objek yang dapat diamati. Misalnya, ketika mempelajari translasi, murid dapat mengamati bagaimana suatu pola mengalami perpindahan. Pada refleksi, murid dapat melihat keteraturan atau pencerminan pada susunan motif. Konsep rotasi dan dilatasi juga dapat diperkenalkan melalui perubahan posisi maupun ukuran pola. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada penggunaan rumus. Murid diarahkan untuk memahami bahwa konsep matematika dapat ditemukan dalam benda dan budaya yang ada di lingkungan masyarakat. Bagi tim pengembang, pendekatan tersebut juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya Indonesia melalui pembelajaran matematika.

Uji Respons Murid terhadap Buku Ajar (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Buku ajar yang dikembangkan kemudian melalui tahap validasi dan uji keterbacaan untuk mengetahui kelayakan produk sebelum digunakan lebih lanjut. Hasil validasi memperoleh persentase 90,07%, sedangkan hasil uji keterbacaan mencapai 85%. Respons murid terhadap produk juga menunjukkan persentase 93%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan memperoleh penilaian positif dari aspek kelayakan, keterbacaan, dan respons murid. Namun, pengembangan ini masih berfokus pada menghasilkan dan menguji kelayakan produk. Karena itu, hasil tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa buku ajar secara langsung telah terbukti meningkatkan kemampuan berpikir geometris murid secara luas. Pengujian efektivitas lebih lanjut masih diperlukan.

Pengembangan buku ajar berbasis Kain Tapis menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dapat mengambil konteks dari budaya yang ada di Indonesia. Motif yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai hiasan kain dapat diamati kembali sebagai susunan pola yang memiliki keterkaitan dengan konsep geometri. Dengan pendekatan tersebut, murid dapat melihat bahwa matematika tidak selalu berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Matematika juga dapat ditemukan pada pola, bentuk, dan warisan budaya yang ada di sekitar mereka.