Konten dari Pengguna

Scrolling Instagram, Kok Malah Jadi Minder?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nisrina Lutfia Nabiha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi logo Instagram. Foto: Pavel105/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi logo Instagram. Foto: Pavel105/Shutterstock

Membuka Instagram sering kali dimulai dengan niat sederhana, misalnya ingin melihat kabar teman atau mencari hiburan di sela-sela aktivitas. Namun, beberapa menit kemudian, suasana hati bisa berubah. Setelah melihat teman yang baru wisuda, rekan kerja yang mendapat promosi, atau seseorang yang sedang menikmati liburan, muncul perasaan seolah-olah semua orang sedang melangkah lebih jauh.

Padahal, sebelum membuka aplikasi itu, perasaan tersebut mungkin tidak ada.

Fenomena seperti ini ternyata cukup umum. Banyak orang tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain saat menggunakan media sosial. Perbandingan itu tidak selalu muncul karena iri, tetapi karena manusia memang memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya dengan melihat orang di sekitarnya.

Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dijelaskan melalui Social Comparison Theory yang diperkenalkan oleh Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa manusia secara alami melakukan perbandingan sosial untuk mengevaluasi kemampuan, pencapaian, maupun posisi dirinya. Di kehidupan sehari-hari, proses ini sebenarnya wajar. Namun, media sosial membuat proses tersebut terjadi lebih sering dan dalam skala yang jauh lebih besar.

Ilustrasi perbandingan kehidupan nyata dan media sosial. Sumber: Pixabay

Bentuk perbandingan yang paling sering terjadi di Instagram adalah upward social comparison, yaitu ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang yang dianggap memiliki kehidupan, pencapaian, atau penampilan yang lebih baik. Perbandingan seperti ini memang dapat menjadi sumber motivasi bagi sebagian orang. Namun, jika dilakukan terlalu sering tanpa disadari, perasaan kurang puas terhadap diri sendiri juga menjadi lebih mudah muncul.

Instagram dipenuhi foto dan video yang telah dipilih dengan cermat. Sebagian besar orang membagikan momen ketika mereka sedang bahagia, berhasil mencapai sesuatu, atau berada di tempat yang menarik. Sebaliknya, kegagalan, rasa cemas, konflik keluarga, atau hari-hari yang melelahkan lebih sering disimpan sebagai konsumsi pribadi.

Akibatnya, muncul perbandingan yang tidak seimbang. Kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan dibandingkan dengan potongan momen terbaik milik orang lain. Tidak heran jika setelah beberapa menit berselancar di media sosial, seseorang bisa merasa hidupnya kurang menarik atau belum cukup berhasil.

Perasaan tersebut sebenarnya bukan berasal dari Instagram semata. Cara seseorang memaknai apa yang dilihat juga berperan besar. Ketika setiap unggahan dianggap sebagai gambaran utuh kehidupan seseorang, rasa tidak puas terhadap diri sendiri akan lebih mudah muncul. Sebaliknya, jika disadari bahwa setiap unggahan hanyalah bagian kecil dari kehidupan, kecenderungan untuk membandingkan diri dapat berkurang.

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Ada yang lulus kuliah lebih cepat, ada yang baru mendapatkan pekerjaan setelah berkali-kali ditolak, dan ada pula yang memilih fokus pada hal lain sebelum mengejar karier. Perbedaan tersebut bukan berarti ada yang lebih berhasil daripada yang lain.

Media sosial bukan sesuatu yang harus dihindari. Instagram tetap bisa menjadi tempat mencari inspirasi, memperoleh informasi, atau menjaga hubungan dengan orang lain. Namun, akan lebih sehat jika apa yang muncul di layar tidak dijadikan ukuran untuk menilai diri sendiri.

Pada akhirnya, tidak semua hal layak dijadikan bahan perbandingan. Kehidupan yang terlihat sempurna di Instagram belum tentu mencerminkan kenyataan secara utuh. Karena itu, mungkin yang perlu lebih sering dibandingkan bukanlah kehidupan dengan orang lain, melainkan diri sendiri hari ini dengan diri sendiri beberapa waktu yang lalu. Di situlah perkembangan yang sesungguhnya dapat terlihat.