Transformasi Manusia: Dari Animisme ke Politheisme dalam Revolusi Pertanian

NISRINA RIZQI FADILAH
Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
12 Juni 2024 7:36 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari NISRINA RIZQI FADILAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik
ADVERTISEMENT

The Law of Religion

sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Agama adalah sistem yang mengatur norma dan nilai bagi manusia, berdasarkan kepercayaan pada otoritas yang lebih tinggi dari manusia. Aturan dalam agama tidak berasal dari kehendak manusia, tetapi ditetapkan oleh otoritas absolut dan tertinggi. Agama tidak hanya memberikan aturan, tetapi juga mengikat moral dan perilaku pengikutnya berdasarkan pada apa yang dianggap suci dan di luar jangkauan manusia.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks sosial, agama muncul sebagai salah satu pemersatu terbesar, setelah uang dan imperium. Karena semua tatanan sosial bersifat imajinatif, mereka cenderung rapuh, terutama dalam masyarakat yang lebih besar. Peran penting agama dalam sejarah adalah memberikan legitimasi supranatural kepada struktur-struktur yang rapuh ini. Agama menegaskan bahwa hukum bukanlah hasil dari kehendak manusia, tetapi ditetapkan oleh otoritas tertinggi, yang membantu menempatkan setidaknya beberapa hukum fundamental di luar jangkauan perdebatan, memastikan stabilitas sosial.
Untuk menjadi pemersatu, suatu agama harus memiliki setidaknya dua ciri khas. Pertama, ia harus menganut tatanan supranatural yang selalu benar di mana pun. Kedua, ia harus bersikeras menyebarkan kepercayaan ini kepada semua orang, dengan kata lain, harus universal dan misionaris.
ADVERTISEMENT

Silencing the lambs

Dampak revolusi pertanian terlihat dalam perubahan pandangan manusia. Animisme, di mana manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain, mulai tergantikan oleh agama politheisme yang menghadirkan dewa-dewa yang berkuasa. Pada awalnya, dalam animisme, manusia hidup beriringan dengan makhluk lain dan mempertimbangkan pandangan serta kepentingan mereka. Misalnya, di Lembah Gangga, pohon ara besar tidak boleh ditebang karena takut akan kemarahan roh pohon ara. Begitu juga di Lembah Indus, pemburuan rubah ekor putih dilarang karena mereka percaya rubah ekor putih pernah membantu sesepuh mereka.
Namun, dengan munculnya revolusi pertanian, para petani dan pengumpul merasa tidak perlu dan tidak mungkin bernegosiasi dengan "barang milik" mereka sendiri. Perubahan ini menimbulkan masalah besar. Petani menginginkan kendali penuh atas ternak mereka, namun mereka menyadari bahwa kendali tersebut terbatas. Manusia membutuhkan entitas yang memiliki kekuasaan dan otoritas yang mencakup segalanya.
ADVERTISEMENT
Kemudian, politheisme muncul sebagai solusi atas masalah ini, di mana keberadaan banyak dewa mengatasi keterbatasan tersebut. Secara singkat, dampak terbesar dari perubahan ini adalah pada status manusia. Dalam animisme, manusia hanya merupakan salah satu dari banyak makhluk di dunia. Dalam politheisme, manusia menjadi pusat alam semesta, dengan nasib mereka ditentukan oleh entitas di atas manusia.
Referensi:
Harari, Y. N. (2014). Sapiens: A brief history of humankind. Random House.