Konten dari Pengguna

Swiss-cide: dari Wisata Alam hingga Wisata Akhir Hayat

Niwa R Dwitama

Niwa R Dwitama

A Traveller, Hiking Enthusiast, Policy Entrepreneur and Anything in Between. Sesdilu 78.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Niwa R Dwitama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang anda bayangkan ketika seorang teman bercerita tentang Swiss?

Coklat yang menggiurkan, keju yang menggugah selera, pegunungan yang menakjubkan, dan salju putih yang memesona.

Bak negeri dongeng di jantung Eropa, Swiss menjadi tujuan wisata favorit banyak orang untuk menikmati keindahan alamnya dan berburu foto-foto yang Instagramable. Pegunungan Alpen, danau biru jernih di Interlaken, hingga kota tua Zurich, setiap sudut Swiss bagaikan kartu pos hidup yang tak pernah gagal menarik wisatawan dunia.

Fronalpstock yang lambangkan keindahan bentang alam Swiss (Foto Personal)

Namun, pengalaman tinggal dan bekerja di Jenewa, Swiss, selama 3,5 tahun membawa saya kepada pemahaman yang lebih mendalam terkait kultur dan cara pandang masyarakat Swiss. Negeri pembuat jam ternama ini memang terkenal dengan budaya tepat waktu, presisi, disiplin dan kultur Alpen seperti Ski, hiking dan musik Alpen. Perbedaan kultur dengan Indonesia, membuat saya banyak belajar dari masyarakat dan negaranya, termasuk dalam hal melihat suatu nilai kehidupan.

Realita Lain Swiss: Suicide Tourism

Di balik keindahan alamnya dan kemajuan teknologinya, tersimpan sisi lain yang tidak banyak diketahui masyarakat dunia, yaitu fenomena "suicide tourism" atau wisata bunuh diri dengan bantuan medis, yang sering disebut sebagai "one-way ticket to Switzerland". Hal ini juga kamu ketahui jika pernah menonton “Me Before You” (2016).

Boneka Salju di salah satu puncak pegunungan Zermatt (Foto Personal)

Swiss memang menjadi salah satu negara yang memperbolehkan assisted suicide secara legal, yakni tindakan bunuh diri dengan bantuan medis profesional secara sukarela bagi mereka yang menderita penyakit parah atau kondisi kesehatan yang sulit disembuhkan.

Assisted suicide telah diizinkan di Swiss sejak tahun 1942, menjadikannya pionir dalam kebijakan kontroversial ini. Organisasi seperti Dignitas dan Exit menjadi terkenal karena menyediakan jasa assisted suicide bagi warga Swiss maupun internasional.

Kota Zurich dan Basel sering menjadi lokasi pilihan, terutama karena Dignitas berpusat di Zurich, sehingga wisatawan internasional berbondong-bondong datang ke kota tersebut untuk mengambil keputusan akhir mereka.

Selama beberapa dekade terakhir, banyak warga asing memilih Swiss sebagai tujuan akhir hidup mereka. Salah satu kasus paling terkenal adalah konduktor Inggris ternama, Sir Edward Downes, yang pada 2009 memilih meninggal melalui assisted suicide bersama istrinya yang menderita kanker stadium akhir.

Fakta lain yang menarik adalah bahwa permintaan assisted suicide meningkat setiap tahunnya, dengan rata-rata peningkatan sekitar 10-15%. Tren ini mengindikasikan bahwa banyak orang yang semakin sadar akan opsi ini sebagai pilihan terakhir dalam menghadapi penderitaan yang berat.

Makna dan Nilai di Balik Suicide Tourism di Swiss

Suicide tourism di Swiss menyiratkan filosofi mendalam tentang kebebasan individu dalam menentukan nasibnya sendiri. Di Swiss, pilihan hidup—dan juga pilihan untuk meninggal secara damai—dihargai sebagai bagian dari hak asasi manusia. Hal ini tentu menuai perdebatan moral di seluruh dunia. Di satu sisi, ada apresiasi terhadap nilai kebebasan individu, sementara di sisi lain muncul kekhawatiran tentang penyalahgunaan kebijakan ini.

Suicide tourism di Swiss memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya penghormatan pada kehidupan sekaligus pada kehendak manusia yang ingin meninggal dengan damai tanpa penderitaan. Kita diajak untuk merenungi makna kematian bukan sebagai hal tabu, melainkan sebagai realita yang harus dihormati dan dipahami dengan bijak.

Fenomena ini juga menjadi refleksi tentang betapa berharganya hidup, kesehatan, serta waktu yang kita miliki bersama keluarga. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa setiap momen harus diisi dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.

Segerombolang Penguin di Basel Zoo (Foto Personal)

Menghargai Hidup dari Perspektif Baru

Tinggal di Swiss memberikan saya perspektif baru tentang bagaimana budaya yang berbeda memandang kehidupan. Pengalaman ini mengajarkan betapa berharganya hidup yang kita miliki saat ini. Semoga kita mampu terus mensyukuri kehidupan, menjaga kesehatan, serta menikmati kebahagiaan bersama keluarga dan orang-orang tercinta.

Hidup adalah anugerah yang harus kita syukuri, rawat, dan isi dengan makna, cinta, serta kebahagiaan.