Konten dari Pengguna

Ketika Peran Membentuk Kekuasaan: Relasi Kuasa antara Dosen dan Mahasiswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nizma Kamalia Mumtaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekuasaan merupakan hal yang tak pernah luput hadir dalam kehidupan sosial masyarakat, sebagaimana tiap individu pasti memilikinya. Hadirnya kekuasaan memberikan wewenang kepada individu untuk memerintah dan memimpin sesuai dengan nilai dan moral yang sah. Dalam ruang lingkup kampus, peran kekuasaan antara dosen dan mahasiswa menjadi salah satu contoh yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam lingkungan kampus, dosen berperan sebagai pemegang kekuasaan di atas mahasiswa. Hal ini dikarenakan dosen dan mahasiswa memiliki peran yang berbeda dalam sistem pendidikan. Seperti yang kita tahu, dosen memiliki peran untuk mengajar dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran, sedangkan mahasiswa sendiri memiliki peran sebagai peserta didik yang berpartisipasi dan terlibat aktif dalam proses tersebut. Perbedaan peran ini menciptakan suatu hubungan yang memiliki kewenangan tersendiri di dalamnya. Dosen memiliki kewenangan yang meliputi kewenangan untuk mengajar, memerintah, memberi aturan, juga memberi tugas kepada mahasiswa. Sementara mahasiswa memiliki haknya tersendiri untuk memperoleh pembelajaran, menyampaikan pendapat dan berpartisipasi dalam kegiatan akademik itu sendiri. Ini merupakan hal yang membentuk struktur sosial berdasarkan perbedaan peran dan tanggung jawab.

Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi

Relasi tersebut kerap bisa kita amati dalam berbagai aktivitas akademik, mulai dari proses pembelajaran di kelas, pemberian tugas, penilaian, hingga diskusi kelas. Dalam situasi tersebut, dosen memiliki kewenangan tersendiri untuk mengkoordinir proses pembelajaran, sedangkan mahasiswa diberi ruang untuk berpartisipasi di dalamnya. Menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu melalui kursi, tetapi bisa melalui aturan dan norma yang berlaku dalam sistem sosial.

Namun hal yang demikian, tentunya ada tabrakan mengenai proses pembelajaran tersebut dengan mahasiswa maupun dosen, seperti mahasiswa merasa sungkan mengutarakan pendapat dikarenakan relasi kekuasaan yang berbeda. Mahasiswa merasa harus lebih berhati-hati dan terkesan kurang percaya diri ketika harus menyampaikan kritik ataupun pendapat pribadi. Dalam kondisi tertentu, dosen bisa saja memiliki jadwal yang padat, sehingga proses pembelajaran cenderung tidak terlaksana dengan efisien. Pada beberapa kasus, terjadi fenomena “ghosting akademik” di mana dosen kerap menghilang tanpa kabar pada saat mahasiswa membutuhkan bimbingan akademik (Sinaga, Y. F., 2025). Fenomena ghosting akademik, masalah struktural di perguruan tinggi. Fenomena ini membuat mahasiswa kebingungan, terlebih di saat mahasiswa merasa sungkan untuk menanyakan kelanjutan dari proses akademik mereka yang pada akhirnya membuat kegiatan belajar-mengajar terhambat. Kendala-kendala tersebut tidak selalu terjadi karena satu pihak, tetapi dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika relasi sosial yang muncul karena adanya perbedaan peran dan posisi dalam lingkungan akademik.

Perbedaan relasi kekuasaan tidak selalu berarti buruk, tetapi justru dibutuhkan untuk mengarahkan proses pembelajaran. Namun, relasi tersebut perlu disertai komunikasi dan koordinasi yang baik antara kedua belah pihak. Dengan begitu, mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan dosen dapat menjalankan perannya sebagai pendidik dengan baik.

Dari hubungan dosen dan mahasiswa menunjukkan bahwa relasi kekuasaan merupakan bagian dari kehidupan sosial yang terbentuk melalui perbedaan posisi dan peran. Kekuasaan tidak hanya menentukan siapa yang menggenggam kewenangan, tetapi juga bagaimana hal tersebut memengaruhi interaksi, komunikasi, dan perannya dalam suatu sistem sosial. Dengan demikian, kekuasaan dalam hubungan dosen dan mahasiswa merupakan bagian dari struktur sosial di lingkungan akademik dan tidak selalu berdampak negatif. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan kewenangan tersebut tetap diiringi komunikasi, koordinasi, dan rasa saling menghargai.