Konten dari Pengguna

Dilema ASN Muda: Berani Beda demi Integritas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Kaniasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masuk ke dalam ekosistem pemerintahan bagi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) muda kerap membawa dua perasaan yang bertolak belakang. Di satu sisi, generasi yang lahir di era serba cepat ini membawa gairah membara pembaharuan: ingin memangkas alur pelayanan yang ribet, memodernisasi sistem kerja, dan menjaga transparansi anggaran. Namun di sisi lain, mereka langsung berhadapan dengan tembok tebal bernama budaya “ewuh pakewuh”. Tantangan terbesar mereka bukan lagi tumpukan berkas atau sistem IT yang rumit.

Dokumen Arif Budi Hartono
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Arif Budi Hartono

“Ewuh pakewuh” rasa sungkan, enggan berkonfrontasi, dan kebiasaan menjaga perasaan senior, sebenarnya berakar dari kearifan lokal tentang kesopanan dan tenggang rasa serta niat baik untuk menjaga keharmonisan. Namun di dalam panggung birokrasi, nilai luhur ini kerap terdistorsi secara keliru. Rasa tidak enak hati bergeser menjadi pemakluman atas ketidakberesan.

Ruang-ruang kerja pemerintahan pada akhirnya melahirkan dilema harian bagi para ASN muda. Ujian integritas yang mereka hadapi sering kali bukan soal skandal korupsi raksasa bernilai miliaran rupiah, melainkan kompromi-kompromi kecil yang dianggap biasa. Mulai dari urusan penggelembungan anggaran perjalanan dinas, pemanfaatan fasilitas kantor untuk urusan pribadi oleh oknum atasan, hingga membiarkan standar operasional prosedur (SOP) dilanggar demi meloloskan berkas titipan atau kenalan.

Saat ASN muda mencoba bersikap kritis atau mempertanyakan kebiasaan tersebut, respons yang didapat biasanya seragam dan menekan secara psikologis: "Kamu kan masih baru, jangan sok idealis," atau "Dari dulu juga sudah begini dan aman-aman saja, tidak usah bikin kegaduhan."

Dampak pemakluman ini terlihat jelas pada penilaian tata kelola publik kita. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia yang stagnan.

Ledakan Demografi di Tengah Sistem Lama

Padahal, jika melihat peta demografi aparatur negara saat ini, posisi ASN muda sebenarnya berada di atas angin. Bukanlah suara minoritas. Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat bahwa postur ASN Indonesia kini telah didominasi oleh kelompok usia produktif. Generasi Milenial dan Gen Z mengisi lebih dari 60 persen total pegawai negeri di tanah air.

Secara matematis, masa depan dan arah roda pemerintahan hari ini sebenarnya sudah berada di tangan generasi baru. Lantas, mengapa arus perubahan di ranah pelayanan publik masih terasa lambat?

Jawabannya ada pada tekanan sosial internal dan fenomena silent majority. Banyak ASN muda memilih diam dan mengalah demi mengamankan karier, menghindari konflik, atau sekadar ingin diterima dalam lingkungan sosial kantor.

Pemakluman kolektif inilah yang secara perlahan mengikis integritas. Padahal pembiaran terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil itulah yang membentuk celah bagi praktik korupsi yang lebih besar di kemudian hari.

Siasat 'Berani Beda' Tanpa Memicu Permusuhan

Menjaga integritas di lingkungan birokrasi tentu tidak harus dilakukan dengan cara frontal atau menjadi troublemaker. Diperlukan taktik yang cerdik, elegan, dan terukur agar pesan pembaruan tetap sampai tanpa harus merusak hubungan kerja.

Pertama, pindahkan benturan ke regulasi, bukan personal. Saat harus menolak perintah yang menyimpang, jangan gunakan opini pribadi. Gunakan regulasi resmi. Seperti kalimat berbasis risiko administrasi, misalnya: "Saya khawatir alur ini nanti jadi temuan kritis saat audit Inspektorat, Pak/Bu. Bagaimana kalau kita sesuaikan dengan regulasi terbaru agar posisi lembaga dan Bapak/Ibu tetap aman?". Pendekatan ini mengubah posisi ASN Muda dari "penentang" menjadi "penyelamat".

Lalu, dobrak lewat efisiensi digital. Generasi muda memiliki keunggulan alami dalam penguasaan teknologi. Manfaatkan keahlian ini untuk memotong rantai manipulasi. Dorong otomatisasi sistem pelayanan atau transparansi data berbasis aplikasi di kantor. Ketika proses manual yang rawan penyelewengan diubah menjadi sistem digital yang terbuka, celah untuk kompromi etika akan tertutup secara otomatis tanpa perlu menunjuk siapa yang salah.

Kemudian, bangun "Political Shield" dengan atasan atau senior yang tepat. Dunia birokrasi tidak sepenuhnya berisi figur-figur “bad man”. Di setiap instansi, selalu ada pejabat senior atau atasan yang memiliki komitmen pembaruan namun kekurangan eksekutor yang andal. Temukan figur-figur ini, tunjukkan kompetensi, dan bangun hubungan kerja yang solid. Mereka bisa menjadi mentor sekaligus pelindung ketika inovasi berhadapan dengan tembok resistensi dari pihak lain.

Terakhir, runtuhkan stigma lewat kinerja tanpa celah. Cara terbaik menghilangkan label "sok idealis" adalah dengan membuktikan kualitas kerja yang tak tertandingi. Ketika ASN muda mampu menyelesaikan tugas dengan cepat, disiplin, akurat, dan transparan, integritas tersebut tidak lagi dipandang sebagai sikap arogan, melainkan bentuk profesionalisme tinggi yang patut disegani. Ingat core values BerAKHLAK.

Dokumen Arif Budi Hartono

Arah Baru Birokrasi

Perubahan tata kelola pemerintahan memang tidak bisa diwujudkan hanya dalam waktu semalam. Namun, membiarkan diri larut dan pasrah dalam rasa sungkan yang salah tempat, hanya akan mengawetkan persoalan lama ke generasi berikutnya.

Budaya “ewuh pakewuh” tidak perlu dihapuskan sepenuhnya, karena nilai kesopanan dan saling menghargai tetap menjadi bagian dari komunikasi yang penting dalam organisasi. Namun, penyalahgunaan rasa sungkan untuk menutupi ketidakbenaran harus segera dihentikan.

Generasi Milenial dan Gen Z yang kini memenuhi kantor-kantor pemerintahan adalah penentu wajah birokrasi Indonesia besok. Berani beda demi integritas bukan berarti merusak keharmonisan kantor, melainkan upaya menaikkan standar pelayanan publik ke level yang lebih bermartabat. Sebab pada akhirnya, kompas utama seorang ASN bukanlah rasa nyaman di ruang kerja, melainkan kemanfaatan dan keadilan nyata yang dirasakan oleh masyarakat luas.

ASN muda tidak perlu takut dan berkecil hati saat menjadi minoritas yang idealis. Birokrasi yang bersih tidak lahir dari keseragaman pemikiran, melainkan dari keberanian individu yang konsisten berkata tidak.