Ferrari... Ferrari... Kapan Sih Juara Lagi?

Mahasiswa S1 Prodi Sistem Informasi - Fakultas Ilmu Komputer - Universitas Pamulang - F1 Nerd and Tech Enthusiast
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Naufal Dzaki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ferrari selalu ngasih fansnya harapan disetiap musim F1, gimana nggak? Raksasa Italia yang didirikan Enzo Ferrari pada tahun 1929 ini punya portofolio yang mantap dengan berhasil ngantongin 16 gelar kejuaraan konstruktor dan 15 gelar kejuaraan pembalap, nggak heran kalo Tifosi selalu berharap lebih setiap musimnya. "This Year, Is Our Year", adalah slogan yang udah nggak asing lagi bagi Tifosi karena selalu bergema dalam 18 tahun belakangan ini.
Hal ini bukan tanpa sebab, terakhir kali Ferrari berhasil juara adalah musim 2007 dan musim 2008, mereka berhasil bawa pulang kedua piala pembalap dan konstruktor pada musim 2007, tapi cuman bisa bawa pulang piala konstruktor aja pada musim 2008. Karena pembalap penantang gelar juara dunia mereka pada saat itu, Felipe Massa, harus dengan lapang dada merelakan gelarnya ke Lewis Hamilton, yang pada saat itu membalap untuk McLaren (ironisnya, sekarang Lewis Hamilton membalap untuk Ferrari) di balapan kandangnya, Brazil.
Musim 2008 bukanlah kali pertama Ferrari harus "mengalah", karena 3 musim sebelumnya, pada musim 2005, dan musim 2006, mereka harus merelakan kedua gelar kepada Renault dan Fernando Alonso. Tapi... sama halnya seperti tim-tim juara dunia lainnya, Ferrari punya masa keemasan mereka sendiri, yang paling dikenal adalah pada era Michael Schumacher (2000-2004). Schumacher datang ke Ferrari pada tahun 1996 sebagai pembalap 2 kali juara dunia (1994, 1995). Ia tidak hanya membawa gelar saja, tetapi juga membawa satu sosok penting untuk membuat Ferrari juara lagi, yaitu Ross Brawn.
Prosesnya tidak instan, pada saat Schumacher dan Ross Brawn bergabung, Ferrari sedang "puasa" gelar sejak musim 1979 setelah memenangkan 3 kejuaraan bersama pembalap legendaris Ferrari lainnya, Niki Lauda. Setelah 5 tahun pengembangan dan beberapa kali upaya revitalisasi pada internal tim, Schumacher, Ross Brawn, serta Jean Todt (Tim prinsipal Ferrari pada kala itu) berhasil membawa Ferrari ke jalur kemenangan lagi pada musim 2000, dan Schumacher berhasil mengantongi 5 gelar juara dunia setelahnya hingga musim 2004.
Meski era kejayaan Ferrari sudah lama padam, bukan berarti Tifosi ga bisa berharap lagi, karena ada beberapa momen dalam 18 tahun kehampaan ini yang membuat jiwa para Tifosi bangkit, seperti pada musim 2010 dan 2012, Fernando Alonso, yang pindah haluan ke Ferrari berhasil menantang rival terdekat mereka kala itu, Red Bull dan Sebastian Vettel hingga ujung akhir penghabisan. Setelah itu ada musim 2018, dimana Sebastian Vettel berhasil memimpin klasemen dari Mercedes dengan Lewis Hamilton, dan harus berakhir pada akhir GP Meksiko 2018 karena inkonsistensi performa dan beberapa kesalahan. Hal yang serupa juga terjadi kepada Charles Leclerc dan Ferrari dimusim 2022, dan harus merelakan kedua gelar ke Max Verstappen dan Red Bull.
Musim ini, Ferrari duduk diposisi ke-2 puncak klasemen konstruktor sementara dibawah Mercedes, dengan Lewis Hamilton yang sempat menduduki posisi ke-2 puncak klasemen pembalap sementara dibelakang sang Wonder Kid asal Italia, Kimi Antonelli. Namun, lagi-lagi Tifosi harus bersabar, karena performa Ferrari yang angin-anginan disaat harapan lagi tinggi-tingginya. Jika pola ini terus berulang, sulit membayangkan Ferrari jadi tim juara lagi. Jika mau juara lagi, Ferrari harus membuat gebrakan yang serupa pada era Schumacher. Jadi, kapan sih mau juara lagi, Ferrari?
