Desa Salagedang Menjadi Sentral Kerajinan Anyaman Bambu di Majalengka

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia
Tulisan dari Noorca Aburahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KKN atau Kuliah Kerja Nyata merupakan kegiatan yang umum dilakukan oleh universitas yang ada di Indonesia. Pada dasarnya, KKN merupakan satu mata kuliah yang mengharuskan para mahasiswa khususnya S1 untuk turun langsung ke lapangan. Membuat program kerja dan berbaur dengan masyarakat yang didatangi. Hal ini untuk mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tiga hal tersebut menjadi poin penting guna mewujudkan visi dari suatu perguruan tinggi.
Seperti yang dilakukan oleh Universitas Pendidikan Indonesia tahun ini. Salah satu kampus yang terletak di sebelah utara Kota Bandung ini selalu mengadakan kegiatan KKN setiap tahunnya. KKN tematik Universitas Pendidikan Indonesia kali mengusung tema “Menguatkan dan Meningkatkan Program SDG’s Desa dan Rekognisi MBKM Puspernas Kemdikbudristek” yang dilaksanakan pada 11 Juli-10 Agustus 2022 secara daring/online.
Daerah yang dijadikan tempat KKN oleh kelompok 125 yaitu di Desa Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka. Adapun tema yang menjadi dasar kelompok 125 melakukan KKN ini yaitu “Desa Tanpa Kemiskinan”. Tema yang diberikan kepada setiap kelompok yaitu mendasar kepada program pembangunan yang dicetuskan oleh PBB. Ditambah dengan program SDG’s desa yang berlandaskan kearifan lokal.
Dalam menentukan tema tersebut LPPM selaku penyelenggara kegiatan KKN ini tentu berdasar fakta yang ada. Masalah kemiskinan masih menjadi hal yang besar di Indonesia. Ditambah Indonesia merupakan negara berkembang, yang di mana masalah kemiskinan di negara berkembang masih menjadi perhatian serius.
Berangkat dari tema “Desa Tanpa Kemiskinan”, kelompok 125 tentu mempunyai program kerja yang dilaksanakan di lapangan. Beberapa di antaranya yaitu 1) Mendata BPJS dan 2) Memasarkan UMKM. Dalam menjalankan program kerja tersebut, kelompok 125 dibantu oleh perangkat desa yang juga menjadi mitra kerja. Di Desa Salagedang ada banyak UMKM yang menjadi mata pencaharian warga. Salah satunya yaitu pembuatan anyaman dari bambu.
Blok Wage, merupakan kawasan di Desa Salagedang yang mayoritas masyarakatnya memiliki keterampilan pekerjaan menganyam. Ibu Ening salah satunya, menganyam sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Walaupun memiliki kegiatan lain seperti mengurus kebun dan sebagainya, tetapi menganyam tetap menjadi prioritas. Karena dengan mengayam lah beliau menjadikan hal tersebut sebagai mata pencaharian. Ketika diwawancara, beliau mengatakan “sudah dari kecil diajarkan mengayam oleh orang tua. Dan keahlian ini juga diturunkan kepada anak saya” jadi bisa dipastikan kegiatan mengayam sudah dari turun-temurun.
Produk yang dihasilkan dari kegiatan mengayam ini sangat beragam. Utamanya yang berkaitan dengan alat-alat dapur. Contohnya seperti boboko, tampi beras, keranjang dan lain-lain. Semuanya dikerjakan secara manual dan masih tradisional. Selain itu, satu anyaman bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 hari. Tergantung tingkat kerumitan dan bahan baku yang tersedia.
Pada awalnya Ibu Ening menjual hasil anyaman ke bandar. Karena beliau tidak tahu bagaimana cara memasarkan produk. Harga jual ke bandar tentu lebih murah dibandingkan dengan menjual sendiri secara langsung. Oleh karena itu, mahasiswa KKN Tematik Universitas Pendidikan Indonesia membantu memasarkan produk Ibu Ening.
Para mahasiswa membuat poster dan juga instagram UMKM Desa Salagedang. Bagi para pelaku UMKM yang ingin ikut memasarkan produknya bisa langsung menghubungi pihak desa. Dengan adanya poster dan instagram khusus UMKM desa diharapkan bisa membantu masyarakat agar produk yang mereka hasilkan lebih dikenal secara luas.
Noorca Aburahman, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia
