Konten dari Pengguna

Bebersih Diri Jelang Bulan Suci

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Noorma Amalia Siregar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menyambut bulan suci Ramadhan Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menyambut bulan suci Ramadhan Foto: Shutter Stock

Hujan deras menyelimuti Desa Lubuk Raya yang berada di Tapanuli Selatan. Rentetan skenario untuk menyambut Ramadhan hancur tak dapat terlaksana. Warga desa telah bersiap-siap untuk melakukan tradisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Sayang sekali, Ramadhan tahun ini dimulai tanpa tradisi itu.

Marpangir namanya. Tradisi yang biasa dilakukan suku Mandailing dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi yang kini mulai pudar keberadaannya sebab tak banyak lagi yang melakukan. Bahkan beberapa milenial yang ditanyai mengenai tradisi ini mengaku tidak pernah melaksanakannya meski mengetahui tradisi apa Marpangir itu.

Marpangir adalah kegiatan membersihkan diri di sungai atau pancuran menggunakan ramuan yang telah diracik. Marpangir dilakukan sebagai upaya pembersihan diri sehingga keadaan manusia kembali suci untuk melaksanakan ibadah puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Ramuan khusus yang disiapkan dalam melangsungkan tradisi Marpangir. Namun sayang, ramuan yang berasal dari rempah-rempah itu harus mengalir dalam kamar mandi bukannya perairan yang seharusnya menjadi tempat untuk Marpangir.

“Racikan ramuannya terdiri dari pandan musang (daun pandan), bunga kenanga, jeruk purut, tapak leman (dedaunan), habelu (akar wangi). Biasanya itu dimasak lalu dibawa ke pancuran atau Parsariran (salah satu sungai daerah Tapanuli Selatan) buat dipakai mandi,” ujar Lisa saat menjelaskan kandungan ramuan yang dipakai untuk Marpangir.

Sungai dan pantai wilayah Tapanuli ini biasanya penuh pengunjung menjelang Ramadhan. Tidak salah lagi, mereka datang sekeluarga bahkan sekampung untuk Marpangir. Perkumpulan besar tidak dapat terhindar dari adanya kontak fisik, oleh karena itu gaungan physical distancing kemungkinan besar tidak akan terlaksana. Virus Covid-19 ternyata tidak menghentikan keinginan warga Desa Lubuk Raya untuk Marpangir meskipun virus ini telah melumpuhkan berbagai wilayah di belahan dunia. Sayangnya, bukan Corona yang menjadi penghalang untuk Marpangir melainkan derasnya hujan yang menyelimuti Desa Lubuk Raya.

“Kalau takut sama Corona pasti iya, tapi karena Marpangirnya di sini aja ga papa,” ujar Lisa yang merasa aman Marpangir di desanya sebab belum ada kasus Covid-19 di sana.

Berbeda dengan Lisa, Dinda remaja asal Desa Pangarongan, Tapanuli Selatan memilih untuk tidak Marpangir akibat pandemi yang sedang terjadi. Meskipun belum ada catatan kasus Corona, Dinda memilih untuk berada di rumah saja dibanding Marpangir.

Marpangir bukanlah sebuah kewajiban melainkan sebuah tradisi. Tradisi telah menjadi bagian dari masyarakat sejak lama dan merupakan harta serta ciri khas dari suatu daerah. Tradisi akan memudar dan kemudian hilang jika tidak dilestarikan. Tradisi Marpangir, secara berkala mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Salah satu ibu rumah tangga asal Kota Padangsidimpuan, Helena, mengaku sudah tidak melakukan tradisi Marpangir berpuluh-puluh tahun lamanya. Hal tersebut terjadi sejak ia pindah dari Desa Pangarongan ke Kota Padangsidimpuan sejak menduduki bangku SMP. Ternyata, Marpangir tidak begitu laris sebagai tradisi penyambutan Ramadhan di kota itu.

Marpangir itu dulu pas masih kecil. Kalau sekarang udah ga lagi. Tapi anak-anak (anak Helena) tahu tentang Marpangir karena keluarga di kampung sering cerita,” ujar Helena saat ditanya mengenai pengalamannya dalam Marpangir.

Keunikan tradisi dalam menyambut Ramadhan ini bukan hanya dimiliki oleh suku Mandailing saja. Sumatera Barat memiliki tradisi serupa yang disebut Balimau. Masyarakat Minang melakukan pembersihan diri di sungai menggunakan ramuan menjelang bulan Ramadhan. Balimau dan Marpangir adalah tradisi yang sama, hanya berbeda nama atau sebutannya saja.

Menyeberang ke tanah Jawa, ada tradisi Padusan yang memiliki makna pembersihan diri pula. Yang membedakannya dengan Marpangir dan Balimau yaitu tidak adanya ramuan dalam tradisi pembersihan diri asal Jawa ini. Padusan menjadi ajang refleksi diri terhadap kejadian yang telah lalu. Masyarakat Jawa pergi ke pemandian wisata bukannya sungai atau perairan lepas tanpa bayaran. Dewasa kini, Padusan lebih mengarah ke rekreasi air menjelang bulan Ramadhan.

Berbagai daerah memiliki keunikan tradisinya masing-masing. Tradisi semakin pudar seiring perkembangan zaman. Tradisi daerah harus dilestarikan agar abadi. Bagaimana dengan daerahmu? Adakah tradisi khusus menjelang Ramadhan oleh masyarakatnya?