Literasi Keuangan Untuk Ketahanan Ekonomi Perikanan Skala Kecil Indonesia

Dosen Program Studi Perikanan Laut Tropis, FPIK, Universitas Padjadjaran Fisheries Management, Small Scale Fisheries, Sustainable Fisheries
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari NORA AKBARSYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi keuangan menjadi salah satu hal krusial untuk dipelajari di tengah hiruk-pikuk perekonomian Indonesia terutama pada dunia perikanan Indonesia yang didominasi oleh perikanan skala kecil.
Tingkat pendapatan nelayan Indonesia dapat bervariasi tergantung pada banyak faktor, seperti ukuran perahu mereka, jenis alat tangkap yang mereka gunakan, dan lokasi tempat mereka menangkap ikan. Namun, secara rata-rata, banyak nelayan Indonesia memperoleh pendapatan yang pas-pasan. Menurut sebuah studi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, pendapatan bulanan rata-rata nelayan skala kecil di Indonesia adalah sekitar Rp2,2 juta (sekitar USD 150). Tingkat pendapatan ini dapat menjadi tantangan untuk dipertahankan, terutama mengingat meningkatnya biaya bahan bakar, peralatan, dan kebutuhan lainnya. Akibatnya, banyak nelayan di Indonesia mencari cara untuk meningkatkan pendapatan mereka, seperti dengan mendiversifikasi tangkapan mereka atau menjelajahi pasar baru.
Mekanisme penanganan rumah tangga perikanan skala kecil terhadap perubahan musim. Dari 150 responden, sebanyak delapan belas nelayan (12 persen) hanya melaut sepanjang tahun. Selain itu, dua puluh empat nelayan (16%) hanya melaut pada musim puncak dan musim sedang. Mereka memilih untuk tidak melaut ketika bukan musim melaut.
Dengan demikian, mekanisme koping rumah tangga nelayan skala kecil dilakukan dengan melakukan diversifikasi sumber pendapatan rumah tangga.
Pada rumah tangga nelayan, Paulus et al. (2019) menyimpulkan bahwa mereka menerapkan strategi nafkah, antara lain:
Melakukan berbagai pekerjaan meskipun dengan upah rendah;
Memanfaatkan hubungan kekerabatan dan saling tukar-menukar hasil untuk memberikan rasa aman dan terlindungi;
Melakukan migrasi sebagai alternatif terakhir apabila tidak ada lagi pilihan sumber pendapatan di daerahnya.
Sehingga dapat dihighlight bahwa belum ada penerapan manajemen pada penganggaran keluarga. Kendala yang terjadi adalah pendapatan yang tidak menentu dan pengetahuan pendidikan yang rendah. Tidak ada pengaruh internalisasi terhadap pengelolaan keuangan keluarga.
Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia 2021 - 2025 yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia memprioritaskan nelayan menjadi salah satu sasaran yang wajib yang harus meningkat literasi keuangannya.
Adapun selain itu Strategi pengembangan peningkatan pendapatan nelayan menurut Nainggolan et al (2020) dapat dilakukan dengan:
Pembentukan kelompok nelayan dan pemanfaatan alat tangkap modern
Pelatihan dan penyuluhan bagi nelayan
Pemerintah memberikan dukungan dana untuk membangun sarana dan prasarana kegiatan perikanan
Pemanfaatan teknologi informasi, dan pengembangan kerjasama dan jaringan
Bagaimana Literasi Keuangan mempengaruhi pengelolaan keuangan?
Dengan meningkatkan keterampilan literasi keuangan.
Individu dapat lebih memahami situasi keuangan mereka dan membuat keputusan yang lebih tepat tentang uang mereka. Hal ini dapat mengarah pada pengelolaan keuangan yang lebih efektif, termasuk Penganggaran dan tabungan, pengelolaan utang yang lebih baik, investasi yang lebih efektif, pengambilan keputusan keuangan yang lebih baik
Literasi keuangan dapat menjadi alternatif dan memberikan solusi atas masalah keuangan bagi keluarga nelayan.
