Ketika Keadaan Memaksa Berbuat Baik Agar Terus Hidup

mahasiswa ilmu komunikasi UNS
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Adinda Mahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gabungan situasi yang mencekam dan komedi ringan adalah hal yang saya rasakan selama menonton film milik Joko Anwar yang terkesan baru ini. Film ini menggabungkan tingkah lucu dari narapidana di sebuah lapas bernama Labuhan Angsana dan sebuah teror yang tiba-tiba menghantui mereka. Di dalamnya juga memperlihatkan bagaimana persaingan hidup para narapidana dilapas yang penuh dengan perkelahian, permusuhan, dan kekerasan untuk bertahan hidup.
Cerita dimulai ketika Dimas yang merupakan seorang jurnalis muda dijadikan tersangka atas kasus bos-nya yang meninggal secara tidak wajar, setelah berkomentar tentang artikel baru Dimas yang membahas perusakan hutan. Ia pun dijebloskan ke penjara, di mana ia bertemu narapidana lain yang memiliki karakter berbeda-beda, mulai dari yang keras kepala sampai yang konyol.
Di dalam sel, ia harus bertahan di tengah ekosistem penjara yang penuh korup, penuh kekerasan, dan penindasan oleh sipir. Suasana semakin mencekam ketika para tahanan mulai tewas secara misterius dan brutal satu per satu. Sosok ini terus memburu seseorang yang memiliki energi negatif atau aura yang berwarna merah.
Untuk menyelamatkan diri, para narapidana dibuat percaya bahwa mereka harus menghilangkan aura berwarna merah dengan cara menyanyi, menari, berkesenian, beribadah, dan kegiatan positif lainnya. Salah satu scene menarik bagi saya ketika dua tokoh narapidana yakni Anggoro dan Bimo yang sedang berkelahi diteriaki oleh salah satu narapidana yang bisa melihat aura yaitu Six, bahwa aura mereka berwarna merah sehingga mereka harus segera melakukan kegiatan beribadah dan berkesenian untuk bertahan hidup agar tidak mati mengenaskan. Scene ini memberikan suatu hiburan di tengah-tengah rasa tegang dan ketakutan yang dirasakan oleh penonton.
Dalam film ini, Joko Anwar menggambarkan isu sosial yang terjadi di dunia nyata, sehingga bagi saya beberapa scene terasa sangat familiar. Salah satu scenenya ketika Joko Anwar memperlihatkan adanya lapas "spesial" bagi narapidana tertentu. Film ini menampilkan adanya kekerasan (gore) yang ekstrem, namun dikemas dengan visual artistik menyerupai instalasi seni yang juga merupakan penggambaran dari penyuaraan kritik sosial terhadap ketidakadilan sistem dan kebusukan moral. Film ini ditutup dengan bersatunya para narapidana untuk menghentikan kekerasan antar napi dan mengungkap penindasan yang dilakukan oleh para sipir, sehingga teror tersebut dapat berhenti dan menemukan orang yang dicari yaitu narapidana kasus korupsi penghuni lapas elit. Lalu akhirnya Dimas bisa bebas dan dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan terhadap bos-nya.
Bagi saya, gabungan antara teror dan humor memberikan kesan baru bagi film ini yang masih jarang dimiliki oleh film-film yang sudah ada. Lewat film barunya ini Joko Anwar berhasil menyampaikan pesan tentang isu-isu yang dihadapi masyarakat melalui berbagai bentuk kematian tokoh yang digambarkan menyerupai instalasi seni, seperti The Fan (melambangkan elemen udara dan siklus obsesi manusia terhadap pencapaian duniawi), Shower Head (menggambarkan elemen air dan representasi dosa hawa nafsu), The Stove (mewakili elemen api serta dosa iri hati atau kemarahan), dan masih banyak yang lain.
Namun di sisi lain, kekurangan film ini adalah ketika timing teror yang terjadi sudah sangat familiar oleh penonton, beberapa kali alurnya terasa monoton dan sangat mudah ditebak siapa yang akan menjadi korban selanjutnya. Menurut saya, secara keseluruhan film Ghost in the Cell berhasil memberikan tontonan baru bergaya horor komedi yang cukup menghibur penonton serta update akan isu yang sedang berjalan sehingga meninggalkan pesan mendalam bagi penonton. Walaupun memiliki alur yang sederhana, film ini berhasil menarik simpatik penonton, menyajikan suasana baru yang berbeda dari kebanyakan film sekarang. Saya sangat merekomendasikan film ini bagi orang-orang yang menyukai film horor, komedi, dan gore. Salah satu pesan yang dapat diambil dari film Ghost in the Cell adalah jika masih ada pihak yang dapat mengedepankan kejujuran dan hal positif, maka masih ada secercah harapan untuk hidup yang baik di masa depan.
